Aktivitas Gunung Slamet Naik, Tim SAR Cegat 364 Pendaki agar Tidak ke Puncak
Puncak Gunung Slamet, Jawa Tengah.(Kompas.com/Anggara Wikan Prasetya)
17:07
4 April 2026

Aktivitas Gunung Slamet Naik, Tim SAR Cegat 364 Pendaki agar Tidak ke Puncak

- Tim SAR bersiaga di Pos 9 jalur pendakian Gunung Slamet via Bambangan untuk mencegah para pendaki yang hendak melakukan summit attack atau pendakian ke puncak, Sabtu (4/4/2026).

Upaya pencegahan ini dilakukan menyusul informasi terkait meningkatnya aktivitas vulkanis kawah gunung terbesar di Pulau Jawa tersebut.

Supervisor Site Gunung Slamet Perhutani Alam Wisata Wilayah Barat, Sugeng Utomo mengatakan, saat ini masih ada sekitar 364 pendaki yang terdaftar naik via Jalur Bambangan, Purbalingga.

Baca juga: Suhu Kawah Meningkat Signifikan, Radius Aman Gunung Slamet Jadi 3 Kilometer dari Puncak

“Data terakhir masih ada 364 pendaki di jalur Bambangan, hari ini Tim SAR Bambangan sudah bersiaga di Pos 9 untuk mencegat dan memastikan pendaki tidak naik sampai ke puncak,” kata Sugeng.

Guna mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, Perhutani telah berkoordinasi dengan seluruh pengelola jalur pendakian di lingkar Gunung Slamet untuk menutup sementara operasional pelayanan.

“Kami bersama seluruh pengelola jalur pendakian memberlakukan penutupan pelayanan sementara bagi calon pendaki sampai dengan adanya status aman,” terangnya.

Peningkatan aktivitas kawah Gunung Slamet

Sebelumnya, Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) merilis laporan peningkatan aktivitas vulkanis di area kawah Gunung Slamet, Jumat (3/4/2026).

Pelaksana Tugas Kepala Badan Geologi KESDM, Lana Saria dalam keterangan tertulisnya mengungkapkan, ada perubahan visual terutama pada kolom asap berwarna putih dengan tinggi maksimum 300 meter dari atas bibir kawah.

Baca juga: Aktivitas Vulkanis Kawah Gunung Slamet Meningkat, Jalur Pendakian Ditutup Sementara

“Asap teramati keluar secara terus-menerus, yang mengindikasikan adanya aktivitas degassing atau pelepasan gas-gas magmatik dari magma ke permukaan melalui kawah,” tulis Lana dalam keterangannya.

Selain itu, dari hasil analisis citra termal kawah Gunung Slamet, petugas juga menangkap fenomena kenaikan suhu kawah yang cukup signifikan. Dari sekitar 247,4 derajat Celsius pada 13 September 2024 menjadi 411,2 derajat Celsius pada 2 April 2026.

“Kenaikan ini menunjukkan peningkatan signifikan dalam aktivitas termal kawah. Sebaran anomali panas pada tahun 2024 masih terpusat di bagian pusat kawah, sedangkan pada tahun 2026, berkembang menjadi lebih luas dan membentuk pola melingkar di sekitar dinding kawah,” ujar Lana.

Foto citra visual perubahan kondisi kawah Gunung Slamet dari 13 September 2024 hingga 2 April 2026.KOMPAS.COM/Dok Pos PGA Slamet Foto citra visual perubahan kondisi kawah Gunung Slamet dari 13 September 2024 hingga 2 April 2026.

Perubahan pola sebaran suhu, kata Lana, mengindikasikan berkembangnya sistem rekahan. Perluasan area anomali termal ini menunjukkan peningkatan intensitas proses degassing di kawasan kawah.

Sementara jika melihat data kegempaan periode 16 Maret - 3 April 2026, seismograf merekam sebanyak 866 kali gempa hembusan, 620 kali gempa frekuensi lemah, 1 kali gempa vulkanik dalam, 11 kali gempa tektonik jauh, tremor menerus dengan amplitudo 1 mm, dominan 0.5 mm.

Baca juga: Aktivitas Vulkanis Gunung Slamet Meningkat, Status Level 2 Waspada

Kejadian gempa frekuensi rendah di Gunung Slamet terekam secara fluktuatif. Sejak 22 Maret 2026, aktivitas ini menunjukkan peningkatan, yang kemudian rekaman menjadi semakin tegas dan menerus sejak tanggal 27 Maret 2026 hingga awal April 2026. 

“Gempa-gempa berfrekuensi rendah ini terekam secara teratur dengan amplitudo dan durasi yang relatif seragam, berasosiasi dengan adanya peningkatan aktivitas gas magmatik,” ungkap dia.

Pergerakan magma ke permukaan

Dikonfirmasi Sabtu (4/4/2026), Kepala Pos Pengamatan Gunungapi Slamet, Muhammad Rusdi juga melihat indikasi pergerakan magma dari alat Electronic Distance Measurement (EDM).

“Dari pemantauan deformasi, magma telah melewati reflektor yang berada di Stasiun Cilik di 1516 mdpl (meter di atas permukaan laut) menuju kedalaman lebih dangkal di Stasiun Bambangan 1878 mdpl,” terangnya.

Hasil pengamatan dan analisis data-data pemantauan menunjukkan adanya peningkatan tekanan di bawah tubuh Gunung Slamet, yang memicu munculnya gempa-gempa dangkal, yang meningkatkan kemungkinan terjadinya erupsi.

Kondisi puncak Gunung Slamet melalui jalur pendakian Baturraden, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Jum'at (9/8/2019) sekitar pukul 12.30 WIB.Dokumentasi Perhutani KPH Banyumas Timur Kondisi puncak Gunung Slamet melalui jalur pendakian Baturraden, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Jum'at (9/8/2019) sekitar pukul 12.30 WIB.

Rusdi menjelaskan, ada tiga potensi ancaman bahaya yang saat ini dapat terjadi pada radius 2 kilometer dari kawah, yakni erupsi freatik yang menghasilkan abu dan hujan lumpur atau erupsi magmatik yang menghasilkan lontaran material pijar atau hembusan gas vulkanik konsentrasi tinggi yang sebarannya terbatas di sekitar kawah puncak.

Meski ada peningkatan aktivitas, namun hingga tanggal 3 April 2026 tingkat aktivitas Gunung Slamet masih ditetapkan pada Level II (Waspada), dengan rekomendasi masyarakat dan pengunjung wisatawan tidak berada atau beraktivitas dalam radius 2 km dari kawah puncak Gunung Slamet.

Baca juga: Cara Cek Kondisi Hutan Gunung Slamet Lewat Google Maps di Ponsel

“Saat ini petugas di Pos Pengamatan Gunung Slamet di Desa Gambuhan, Kecamatan Pulosari, Pemalang ada 4 orang, dan dalam waktu dekat rencananya akan ada tambahan personel dari tim tanggap darurat,” pungkasnya.

Tag:  #aktivitas #gunung #slamet #naik #cegat #pendaki #agar #tidak #puncak

KOMENTAR