3 Hal Ini Picu Kerusakan di Taman Nasional Komodo
- Setelah dinobatkan sebagai salah satu tempat paling indah di dunia oleh Time Out, Taman Nasional Komodo yang kini menjadi destinasi wisata yang dikunjungi ribuan wisatawan domestik dan mancanegara setiap bulannya, terancam rusak.
Salah satu pemicu kerusakan adalah aktivitas pariwisata baik di area laut maupun darat yang terjadi terus-menerus setiap harinya.
Seorang pemerhati lingkungan sekaligus pelaku pariwisata di Labuan Bajo, Marta Muslin yang ditemui Kompas.com pada Rabu sore (8/4/2026) mengatakan, kerusakan di kawasan TNK sudah mulai terjadi saat ini.
Baca juga: Kunjungan Kapal Pesiar Melonjak, TN Komodo Atur Ulang Batas Kuota Wisata
Baik bersumber dari sampah, maupun suara-suara dari mesin-mesin kapal, dan keramaian.
"Berbagai penyebab kerusakan seperti bocoran oli dari kapal yang mengganggu karang dan habitat laut, suara dengung setiap saat, pembuangan toilet yang langsung ke laut bisa merusak karang, juga kepadatan kunjungan yang memengaruhi seperti di Padar yang lokasinya kecil tapi kunjungannya tinggi," kata Marta.
Ia mengatakan TNK merupakan kawasan wisata dan konservasi yang terdiri dari perairan dan pulau dengan dive site di 23 titik.
Kerusakan TN Komodo lebih besar di perairan
Dampak kerusakan di TNK akan lebih besar di kawasan perairan dibandingkan di darat.
Alasannya setiap hari ada ratusan kapal dengan ukuran mesin bervariasi yang melintas di laut Labuan Bajo menuju TNK.
Untuk mempersingkat waktu, kapal yang melintas bukan hanya kapal-kapal kayu dengan mesin kecil, tetapi juga kapal-kapal besar dengan suara yang lebih besar, dan speedboat.
Baca juga: 2 Kapal Pesiar Internasional Angkut Ribuan Turis Asing Masuk di Kawasan TN Komodo
"Suara-suara itu juga bisa memengaruhi perilaku biota laut," imbuh dia.
Selain itu, jangkar kapal juga bisa jadi salah satu pemicu kerusakan karang.
Marta membeberkan ada ratusan kapal yang berlabuh di kawasan TNK setiap harinya dengan kondisi gelombang dan cuaca yang tidak bisa diprediksi.
tangkapan layar video jangkar kapal yang menganggu terumbu karang di perairan Pulau Sebayur Labuan Bajo
"Di saat emergency, yang pertama dilakukan pasti adalah melepaskan jangkar dan itu berpotensi merusak karang," kata dia.
Direktur Indonesian Waste Platform (IWP) ini juga mengatakan, masalah sampah di kawasan TNK juga belum teratasi dengan baik.
Baca juga: Pengusaha Kritisi Pembatasan Kuota Turis ke TN Komodo 1.000 Orang Per Hari
Beberapa tahun terakhir, pihaknya mengangkut ratusan ribu ton sampah non-organik dari beberapa pulau di kawasan TNK dan pulau-pulau penyangga seperti Pulau Messah.
"Sampah tourism itu dua setengah kali lipat lebih banyak dari sampah citizen. Sementara alokasi dana untuk sampah di BTNK itu sepertinya tidak ada," bebernya.
Pembatasan Perlu dengan Studi yang Proper
Marta mengatakan, kebijakan untuk melakukan pembatasan kunjungan ke TNK memang diperlukan untuk menjaga agar kawasan TNK tetap terjaga dan memiliki nilai jangka panjang.
Hanya saja menurutnya, kebijakan yang dikeluarkan BTNK saat ini masih perlu dikaji.
"Kalau solusi yang diambil adalah pengurangan, itu oke. Tetapi dilakukan dengan study yang proper. Tidak hanya masalah lingkungan saja," terang dia.
Baca juga: Jadi Situs Warisan Dunia UNESCO, Ini 8 Fakta Menarik Taman Nasional Komodo
Ia melanjutkan, pemerintah harus mempertimbangkan dampak ekonomi, sosial, dan budaya sebelum mengambil kebijakan terkait ketentuan batas kuota pengunjung.
Hal ini menurutnya juga harus menjadi konsen semua pihak, baik itu pemerintah maupun pelaku pariwisata.
"Perbanyak studi mitigasi dengan melibatkan semua stakeholder. Dengan aspek yang komprehensif yang tidak hanya bertujuan untuk konservasi, tetapi juga sosial dan ekonomi," tutup dia.