Hotel di Kota Tua Jakarta Ini Simpan Koper Pangeran Diponegoro
Koper Pangeran Diponegoro di salah satu sudut Ruang Raden Saleh di House of Tugu, Old Town Jakarta, Jumat (17/4/2026).(KOMPAS.com/Ni Nyoman Wira)
15:56
30 April 2026

Hotel di Kota Tua Jakarta Ini Simpan Koper Pangeran Diponegoro

Di salah satu sudut Hotel House of Tugu, Old Town Jakarta, terdapat koper Pangeran Diponegoro yang menjadi saksi bisu perjuangannya melawan Belanda. Koper tahun 1834 itu berwarna coklat gelap, dan diletakkan di dalam lemari kaca.

"Koper terbuat dari akar pohon yang digunakan pada saat Pangeran Diponegoro dibuang ke Makassar," kata Regional Sales & Marketing Manager, Tugu Hotels & Restaurants, Rosiany "Sian" T. Chandra, Jumat (17/4/2026).

Tak sembarang orang bisa melihat koper tersebut. Letak koper cukup tersembunyi di balik patung Pangeran Diponegoro berukuran besar, dan hanya tamu hotel yang ikut tur yang bisa melihatnya.

Kapal Macan (Tigersgrach Kah Matjan) di salah satu sudut Hotel House of Tugu, Old Town Jakarta, Jumat (17/4/2026).KOMPAS.com/Ni Nyoman Wira Kapal Macan (Tigersgrach Kah Matjan) di salah satu sudut Hotel House of Tugu, Old Town Jakarta, Jumat (17/4/2026).

Koper Pangeran Diponegoro hanya satu dari banyak benda-benda kuno nan bersejarah yang ada di hotel tersebut. 

Beberapa contohnya, surat dengan tulisan tangan Soekarno kepada Fatmawati, trem yang bisa difungsikan sebagai area makan khusus, dan pintu di klub sosial elit Batavia, Societeit de Harmonie.

Ada pula perahu macan (Tigersgracht) berukuran raksasa yang tersimpan baik di balik kaca. 

"(Kapal macan) digunakan dulu buat upacara sakral, untuk menyelamati pelayaran sekitar di Kali Besar. Kita dapatkan catatan sejarahnya dari literatur bahasa Belanda," ucap Sian, yang memandu Kompas.com siang itu.

House of Tugu, Old Town Jakarta

Para tamu jadi bagian dari Kota Tua Jakarta

Tiap sudut hotel punya cerita tersendiri tentang sejarah, warisan, dan seni Indonesia yang seakan tidak ada habisnya. 

Bangunan hotel, yang lokasinya di depan Kali Krukut, dulunya bagian dari kompleks rumah milik pedagang China yang agak nyentrik.

Kapiten Hall atau front office House of Tugu, Old Town Jakarta pada Jumat (17/4/2026). Terdapat papan nama Kong Kuan di salah satu dinding.KOMPAS.com/Ni Nyoman Wira Kapiten Hall atau front office House of Tugu, Old Town Jakarta pada Jumat (17/4/2026). Terdapat papan nama Kong Kuan di salah satu dinding.

"Dia tidak ingin rumahnya dimasuki oleh orang, jadi dia seperti introvert, dia membangun tembok sekeliling rumahnya. Oleh sebab itu, dikenal waktu itu sebagai The Forbidden House of Batavia (Rumah Terlarang Batavia)," jelas Sian.

Denah rumah tersebut masih terpajang rapi di salah satu ruangan hotel. Papan nama "The Forbidden House of Batavia" bisa dilihat ketika tamu memasuki front office hotel atau Kapiten Hall. 

Seiring berjalannya waktu, kompleks rumah tersebut terbagi menjadi beberapa blok. Salah satunya menjadi kantor Kong Koan, organisasi perkumpulan pedagang-pedagang China waktu itu. Pemimpinnya dipilih oleh VOC dan disebut sebagai "kapiten".

"House of Tugu Jakarta menjadi bagian dari Kota Tua karena tamu-tamu yang datang menginap di sini, selain merasakan vibes zaman dulu, juga blend in dengan sejarah Kota Tua," kata Sian. 

Para tamu yang menginap tidak hanya memperoleh pelajaran tentang Kota Tua secara tidak langsung, tapi juga menjadi bagian dari Kota Tua ketika mereka melangkah ke luar hotel. 

Menawarkan 25 kamar dengan desain berbeda

Riverside Suites, salah satu kamar di House of Tugu, Old Town Jakarta.Dok. House of Tugu Riverside Suites, salah satu kamar di House of Tugu, Old Town Jakarta.

House of Tugu, Old Town Jakarta menawarkan 25 kamar dengan desain yang tidak sama. Riverside Suites, salah satunya, dilengkapi balkon yang menghadap langsung ke Kali Krukut dan bak mandi yang terbuat dari tembaga (copper bathtub).

Bila ingin bersantap, ada Jajaghu Restaurant, yang menawarkan makanan Asia fusion.

Memasuki Jajaghu Restaurant, pandangan mungkin tak akan lepas dari rangkaian ranting dan batang pohon bercat putih yang menghiasi langit dan dinding. Bila dilihat lebih cermat, di salah satu ujung ranting terdapat buah.

Restoran Jajaghu di House of Tugu, Old Town Jakarta, pada Jumat (17/4/2026). KOMPAS.com/Ni Nyoman Wira Restoran Jajaghu di House of Tugu, Old Town Jakarta, pada Jumat (17/4/2026).

Sian menuturkan bahwa pohon tersebut adalah pohon maja, yang sudah ada bahkan sebelum hotel dibuka. Pohon tersebut tidak ditebang, melainkan dijadikan bagian dari bangunan.

Bila berjalan lebih jauh, ada Babah Koffie By Kawisari, yang menyajikan kue-kue tradisional dan kopi dari kebun kopi Kawisari di Jawa Timur.

Pengunjung akan disambut oleh ondel-ondel raksasa, didampingi aroma sereh yang menenangkan. Di satu sisi terdapat dinding yang dipadati papan nama berbahasa Mandarin zaman dulu. 

Hiasan naga sepanjang 26,5 meter di salah satu sudut Babah Koffie by Kawisari di House of Tugu, Old Town Jakarta, Jumat (17/4/2026).KOMPAS.com/Ni Nyoman Wira Hiasan naga sepanjang 26,5 meter di salah satu sudut Babah Koffie by Kawisari di House of Tugu, Old Town Jakarta, Jumat (17/4/2026).

Sementara itu, di sisi yang lain, ada hiasan naga raksasa bersisik emas sepanjang 26,5 meter yang meliuk-liuk di langit-langit. Matanya dibuat menyala dengan warna hijau.

Naga tersebut awalnya akan ditampilkan saat Tsap Go Meh tahun 1963 di Kota Tua Jakarta, sebagai perayaan 100 tahun perusahaan Kian Gwan & Co, tapi tidak pernah terlaksana.

Hingga saat ini, naga tersebut belum pernah ditampilkan di depan masyarakat. 

Benda-benda kuno nan bersejarah di hotel ini merupakan koleksi dari pendiri Tugu Group, Anhar Setjadibrata.

Semasa muda, Anhar menyayangkan banyaknya barang-barang antik Indonesia yang dibawa ke luar negeri. Menurutnya, barang-barang tersebut mengandung cerita tentang sejarah Indonesia.

Tag:  #hotel #kota #jakarta #simpan #koper #pangeran #diponegoro

KOMENTAR