Museum Srihadi Soedarsono, Ruang Sunyi di Tengah Riuhnya Bandung
Museum Srihadi Soedarsono(DOK.KOMPASIANA)
14:21
11 Mei 2026

Museum Srihadi Soedarsono, Ruang Sunyi di Tengah Riuhnya Bandung

Ada sesuatu yang magis saat kita melangkah masuk ke dalam sebuah ruang seni bersama seseorang yang telah mengenal kita sejak awal. Sabtu kemarin, di bawah langit Bandung yang menggantung rendah, saya melangkah menuju Museum Srihadi Soedarsono. 

Saya tidak sendirian. Di samping saya ada seorang teman lama, sahabat masa kuliah yang telah menyaksikan berbagai musim dalam hidup saya.

Seseorang yang telah menyaksikan versi diri saya yang paling mentah, paling ambisius, hingga versi saya yang sekarang, yang lebih memilih ketenangan daripada keriuhan.

Proses masuk ke Museum Srihadi Soedarsono cukup praktis. Di meja depan, kami membayar tiket untuk akhir pekan sebesar 40 ribu rupiah yang kini hanya melayani pembayaran non-tunai. Setelah urusan administratif itu selesai, barulah suasana berubah.

Baca juga: Panduan ke Museum Indonesia di TMII: Jam Operasional dan Tiket Masuk

Begitu melewati pintu, suara klakson kendaraan dan riuh pedagang jajanan di sepanjang jalan tadi mendadak hilang. Dinding museum seolah memotong semua kebisingan luar, menyisakan ruang tenang yang siap kami telusuri.

Sebelum melangkah lebih jauh ke dalam lorong-lorong museum, penting untuk memahami siapa sosok di balik kanvas-kanvas raksasa ini.

Srihadi Soedarsono (1931--2022) bukan sekadar pelukis. Ia adalah seorang pemikir visual. Lahir di Surakarta dan menjadi saksi sejarah yang pernah ikut berjuang di masa revolusi. Namun, perang tidak membuatnya keras. Ia justru bertransformasi menjadi pencari keindahan.

Srihadi dikenal karena kemampuannya menangkap esensi spiritual melalui garis cakrawala yang sangat tenang. Ia memadukan pendidikan Barat yang ia tempuh di Ohio State University dengan akar kejawaan yang sangat kental. 

Entah itu sosok penari Bedhaya yang anggun atau kemegahan Candi Borobudur. Srihadi adalah seniman yang percaya bahwa di dunia yang serba bising ini, kesederhanaan adalah puncak dari kerumitan.

Museum Srihadi Soedarsono. (Dok.Pribadi/Siska Fajarrany)Kompasiana Museum Srihadi Soedarsono. (Dok.Pribadi/Siska Fajarrany)

Langkah pertama kami di dalam museum langsung disambut dengan suasana yang khidmat. Di lantai pertama, dinding-dinding seolah berbisik melalui lukisan ayat-ayat Al-Qur'an.

Berjalan bersama teman masa kuliah di antara lukisan religi ini membuat saya merenung. Dulu, saat masih mahasiswa, diskusi kami mungkin berkutat pada idealisme yang meledak-ledak atau ketakutan akan masa depan.

Kini, di hadapan ayat-ayat yang dilukis dengan penuh penghayatan, obrolan kami melambat. Kami menyadari bahwa semakin dewasa, kita semakin membutuhkan pegangan yang lebih kuat daripada sekadar logika. Kami belajar tentang kerendahan hati, bahwa di atas segala pencapaian manusia, ada kekuatan yang lebih besar yang mengatur segalanya.

Kami kemudian menuruni tangga menuju lantai bawah. Di sinilah jantung museum berada. Kami disambut oleh karya-karya ikonis Srihadi. Kanvas-kanvas besar dengan warna-warna berani namun tenang memenuhi ruangan.

Baca juga: Promo Tiket Museum Nasional Cuma Rp 2.480, Ini Syaratnya

Di sini, benar-benar terasa nyata. Saya dan sahabat saya sempat terdiam cukup lama di depan sebuah lukisan. Garis yang ditarik Srihadi begitu lurus, seolah membelah dunia menjadi dua, yang fana dan yang baka.

Di tengah mahakarya yang menuntut perenungan mendalam, ruangan ini dipadati oleh pasangan yang sedang melakukan museum date. Kamera ponsel sibuk menangkap gambar, sementara saya dan teman saya justru sibuk menangkap rasa.

Museum Srihadi Soedarsono. (Dok.Pribadi/Siska Fajarrany)Kompasiana Museum Srihadi Soedarsono. (Dok.Pribadi/Siska Fajarrany)

Saya sempat merasa ada sedikit kekurangan pada sistem pencahayaan. Beberapa sudut terasa agak terlalu redup, namun mungkin itulah cara museum ini meminta kita dari berbagai sudut pencahayaan.

Dalam keremangan itu, saya menyadari manfaat dari dialog sunyi. Bersama teman lama, kita tidak perlu banyak bicara untuk merasa dipahami. Kami berdiri berdampingan, menatap lukisan yang sama, merasakan kedamaian yang sama, tanpa perlu satu pun kata keluar dari mulut kami. Museum ini mengajarkan bahwa kehadiran yang utuh jauh lebih berarti daripada percakapan yang riuh.

Kami terus turun ke lantai paling bawah, dan suasana kembali berubah. Di sini, terpampang lukisan-lukisan yang menangkap jiwa kota-kota di luar negeri. Ada napas yang berbeda. Ada kesan pengembaraan, rasa ingin tahu, dan bagaimana mata pelukisnya memotret arsitektur serta budaya asing melalui kuasnya.

Baca juga: Dusun “Balian” Banyuwangi, Kampung Hindu yang Jaga Tradisi dan Hidupkan Ekonomi Kreatif

Melihat lukisan-lukisan kota asing ini membawa ingatan saya kembali pada mimpi-mimpi masa kuliah dulu. Tentang keinginan untuk berkeliling dunia, tentang ambisi untuk menaklukkan tempat-tempat baru.

Namun, melihatnya di sini, di titik hidup saya yang sekarang, saya melihatnya sebagai perjalanan pulang. Bahwa sejauh apa pun kita pergi, seperti Srihadi yang melanglang buana, pada akhirnya kita akan selalu kembali pada diri kita sendiri, pada akar kita.

Museum Srihadi Soedarsono. (Dok.Pribadi/Siska Fajarrany)Kompasiana Museum Srihadi Soedarsono. (Dok.Pribadi/Siska Fajarrany)

Setelah lelah menelusuri lapisan-lapisan estetika, kami naik menuju lantai paling atas. Di sana terdapat sebuah kafe yang suasananya sangat hangat. Kontras dengan lantai-lantai di bawah yang khidmat, kafe ini menjadi ruang transisi sebelum kembali ke dunia nyata. Kami memesan minuman, duduk bersandar, dan membiarkan percakapan mengalir kembali.

Kami membicarakan bagaimana waktu telah mengubah kami, namun di saat yang sama, tetap menyisakan bagian dari diri kami yang tidak berubah sejak masa kuliah. Seperti lukisan Srihadi yang berevolusi namun tetap setia pada garis cakrawalanya. Kami pun tumbuh dengan tetap membawa prinsip-prinsip dasar yang kami yakini sejak dulu.

Saat akhirnya kami melangkah keluar dari museum, realitas langsung menyambut. Jalanan di sekitar museum cukup padat. Namun, kebisingan itu tidak lagi terasa mengganggu. Ada ketenangan yang berhasil kami "curi" dari dalam museum dan kami simpan rapat-rapat di dalam saku kemeja.

Baca juga: 10 Taman Hiburan Terbaik Dunia, Salah Satunya Ada di Indonesia

Kunjungan ke Museum Srihadi bersama teman lama ini memberi saya sebuah pelajaran berharga, bahwa hidup adalah tentang lapisan-lapisan. Ada lapisan spiritual (lantai atas), lapisan emosional dan jati diri (lantai tengah), dan lapisan petualangan (lantai bawah). Kita perlu menelusuri semuanya untuk menjadi manusia yang utuh.

Saya rasa, jangan datang ke museum hanya untuk mencari foto yang bagus. Datanglah untuk mencari "garis cakrawala" kalian sendiri. Bersama seseorang yang telah mengenal kalian cukup lama, sehingga kalian tidak perlu berpura-pura menjadi siapa pun di depan karya seni.

Dunia mungkin terasa redup pencahayaannya saat ini, seperti beberapa sudut di museum kemarin.

Namun, selama kita memiliki keberanian untuk terus berjalan menelusuri tangga-tangga kehidupan dan memiliki sahabat untuk berbagi sunyi, kita akan selalu menemukan jalan menuju tempat di mana kita bisa beristirahat dan mensyukuri perjalanan ini.

Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Mencari Titik Tenang di Museum Srihadi Soedarsono"

Tag:  #museum #srihadi #soedarsono #ruang #sunyi #tengah #riuhnya #bandung

KOMENTAR