Bukan Sekadar Dilestarikan, Cagar Budaya Harus Punya Manfaat Ekonomi
InJourney Destination Management menghadirkan atraksi ?Piknik di Candi x Pelangi di Mars pada Sabtu (21/3/2026) hingga Jumat (27/3/2026) di area Candi Prambanan dengan berbagai instalasi hiburan, area piknik tematik, serta spot foto. (dok. InJourney)
07:14
20 Mei 2026

Bukan Sekadar Dilestarikan, Cagar Budaya Harus Punya Manfaat Ekonomi

Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan pentingnya pemanfaatan cagar budaya nasional sebagai motor penggerak ekonomi masyarakat.

Menurutnya, pelestarian warisan budaya tidak boleh berhenti pada penetapan status semata, tetapi harus diikuti pemanfaatan yang maksimal dengan dukungan infrastruktur yang memadai.

“Jangan itu menjadi barang mati, tapi harus hidup. Dimanfaatkan menjadi wisata budaya, wisata religi, menjadi ekonomi budaya,” ujarnya dilansir dari Antara (19/5/2026).

Contoh keberhasilan: Borobudur dan Prambanan

Fadli mencontohkan bagaimana penataan kawasan Candi Borobudur pada 1973–1983 telah mengubah kondisi lokasi yang sebelumnya berantakan menjadi destinasi wisata kelas dunia.

Revitalisasi tersebut mendorong peningkatan kunjungan wisatawan dan memberi efek domino bagi UMKM sekitar.

Baca juga: Fadli Zon Harap Tempe dan Mak Yong Diakui UNESCO Tahun Ini

Hal serupa juga terjadi di Candi Prambanan, yang kini menjadi salah satu ikon wisata budaya di Indonesia.

Aktivitas wisata di cagar budaya

Menteri Kebudayaan itu berharap pengelolaan cagar budaya tidak hanya terpaku pada wisata sejarah dan religi, tetapi berkembang menjadi ruang kreatif yang menyelenggarakan:

Peserta dari Bank Jateng Borobudur Marathon 2025 yang mendapat dukungan dari warga. Dok. Bank Jateng Peserta dari Bank Jateng Borobudur Marathon 2025 yang mendapat dukungan dari warga.

  • Sport tourism
  • Festival musik dan seni
  • Kegiatan budaya tematik sesuai karakter situs

Ia menegaskan bahwa kerapian, tata ruang, dan pengelolaan yang baik pada bangunan bersejarah, baik masjid, gereja, maupun situs lainnya, akan otomatis menciptakan peluang ekonomi bagi kafe, restoran, hingga penjual suvenir di sekitarnya.

Makam wali dan potensi wisata religi

Selain candi, Fadli juga melihat besarnya potensi makam para wali, termasuk Wali Songo, sebagai pendorong ekonomi lokal.

Wisatawan yang datang tidak hanya berziarah, tetapi juga membutuhkan konsumsi, layanan transportasi, hingga produk khas daerah.

Makam Sunan Ampel, Surabaya.KOMPAS.com/AZWA SAFRINA Makam Sunan Ampel, Surabaya.

Ia mencontohkan bahwa di banyak negara, makam bersejarah bahkan dikenakan biaya masuk seperti di Pantheon. Karena itu, ia mendorong peningkatan infrastruktur dan tata kelola agar situs budaya nasional juga memiliki daya tarik serupa tanpa menghilangkan nilai religiusnya.

Angkat UMKM lewat warisan budaya takbenda

Selain infrastruktur, Fadli juga menyoroti pentingnya pelaku UMKM memberi label “warisan budaya takbenda” pada produk mereka,mulai kuliner, kerajinan, hingga seni pertunjukan.

“Kita makan warisan budaya tak benda, ada nilai tambahnya. Nilai jualnya pun lebih bagus,” ungkapnya.

Baca juga: 5 Wisata Religi Jogja yang Selalu Penuh Saat Ramadan, Apa Sih Daya Tariknya?

Menurutnya, penanda ini bukan sekadar label, tetapi membawa cerita yang meningkatkan nilai produk tersebut.

“Cerita juga sebuah komoditas,” tegasnya, menggarisbawahi bahwa storytelling mampu meningkatkan minat beli sekaligus mempromosikan identitas budaya Indonesia.

Tag:  #bukan #sekadar #dilestarikan #cagar #budaya #harus #punya #manfaat #ekonomi

KOMENTAR