Mudik dan Lebaran Angkat Asa Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I 2026 di Atas 5 Persen
Sebanyak 799.009 tiket kereta untuk mudik Lebaran 2026 masih bisa dibeli hingga satu hari sebelum Idul Fitri 1447 Hijriah, Jumat (20/3/2026). PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencatat penjualan tiket Angkutan Lebaran 2026 mencapai 3,7 juta tiket atau 82,2 persen dari total 4,5 juta periode 11 Maret 2026 hingga 1 April 2026. (DOK. PT KAI)
09:20
23 Maret 2026

Mudik dan Lebaran Angkat Asa Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I 2026 di Atas 5 Persen

— Momentum mudik dan perayaan Idul Fitri 2026 diperkirakan menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I tahun ini.

Pemerintah, bank sentral, pelaku usaha, hingga ekonom menilai peningkatan konsumsi masyarakat, percepatan belanja negara, serta berbagai stimulus kebijakan dapat mendorong aktivitas ekonomi domestik di tengah ketidakpastian global.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, pemerintah telah menyiapkan sejumlah program untuk menjaga daya beli sekaligus mendorong mobilitas masyarakat selama Ramadhan hingga Lebaran.

Baca juga: Pertumbuhan Ekonomi Pelit Lapangan Kerja

Ilustrasi pertumbuhan ekonomi Indonesia.PIXABAY Ilustrasi pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Ia menyebut kebijakan tersebut antara lain pemberian potongan harga (diskon), penerapan skema work from anywhere (WFA), serta berbagai bantuan sosial dan bantuan pangan.

“Berharap dengan kemenangan ini kita bisa mencapai pertumbuhan ekonomi di kuartal pertama 5,5 persen,” ujar Airlangga saat ditemui dalam acara open house Lebaran, Sabtu (21/3/2026).

Dalam kesempatan itu, Airlangga juga menyinggung dinamika global yang masih menjadi tantangan bagi perekonomian.

“Selamat Hari Raya Idul Fitri mohon maaf lahir batin dan dalam suasana ini tentu kita mengharap kita bersama-sama menghadapi gejolak krisis minyak ke depan,” ucap dia.

Baca juga: Purbaya dan Airlangga Optimis Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I 2026 Kuat

Konsumsi domestik dan HBKN dorong ekonomi

Bank Indonesia (BI) menilai momentum penguatan pertumbuhan ekonomi Indonesia perlu terus dijaga di tengah meningkatnya ketidakpastian global, termasuk dampak konflik di Timur Tengah.

Ilustrasi pertumbuhan ekonomi Indonesia. SHUTTERSTOCK/NUMBER1411 Ilustrasi pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2026 diprakirakan meningkat ditopang permintaan domestik, khususnya konsumsi rumah tangga yang menguat seiring perayaan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN).

“Momentum penguatan pertumbuhan ekonomi Indonesia perlu terus dijaga di tengah berlangsungnya perang di Timur Tengah. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I 2026 meningkat ditopang permintaan domestik,” ujar Perry dalam Rapat Dewan Gubernur BI Maret 2026, Selasa (17/3/2026).

Ia menambahkan, mobilitas masyarakat yang tinggi selama HBKN seperti Tahun Baru Imlek, Nyepi, dan Idul Fitri menjadi faktor pendorong konsumsi.

Baca juga: Pemerintah Harap Lebaran Angkat Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I 2026

“Kami melihat bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia Kuartal I 2026 itu masih akan tetap tinggi,” jelas Perry.

Menurut dia, peningkatan konsumsi juga didukung berbagai program stimulus pemerintah, pelonggaran kebijakan moneter BI, serta perbaikan ekspektasi konsumen.

Selain konsumsi, investasi diperkirakan tetap tumbuh, didorong realisasi program pemerintah seperti Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih dan proyek hilirisasi sumber daya alam.

“Jadi dukungan pertumbuhan ekonomi akan tetap tinggi pada Kuartal I. Dan tentu saja itu kami perkirakan juga akan tetap tinggi dan juga akan mendukung peningkatan pertumbuhan ekonomi ke depan,” tuturnya.

Baca juga: Geliat Ramadhan dan Lebaran Dorong Pertumbuhan Ekonomi 5,5 Persen

BI memprakirakan pertumbuhan ekonomi sepanjang 2026 berada dalam kisaran 4,9 hingga 5,7 persen secara tahunan.

Optimisme pemerintah di atas 5 persen

Pemerintah meyakini pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2026 dapat berada di atas 5 persen, seiring terjaganya daya beli masyarakat selama Ramadhan hingga Lebaran.

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa memperkirakan pertumbuhan ekonomi dapat mencapai 5,6 hingga 5,7 persen.

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa ditemui usai melaksanakan Shalat Idulfitri 1447 Hijriah di Masjid Salahuddin, Kantor Direktorat Jenderal Pajak (DJP), Jakarta, Sabtu (21/3/2026).KOMPAS.com/YOHANA ARTHA ULY Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa ditemui usai melaksanakan Shalat Idulfitri 1447 Hijriah di Masjid Salahuddin, Kantor Direktorat Jenderal Pajak (DJP), Jakarta, Sabtu (21/3/2026).

“Pertumbuhan ekonomi bisa 5,6-5,7 persen, kalau perkiraan kasar ya. Itu sudah lumayan bagus lah, di tengah gejolak global sekarang,” ujarnya di Kantor Direktorat Jenderal Pajak (DJP), Jakarta, Sabtu (21/3/2026).

Baca juga: BI: Hari Raya hingga THR Topang Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I 2026

Ia mengatakan dampak konflik global masih berupaya diserap pemerintah agar tidak langsung dirasakan masyarakat, salah satunya dengan memastikan subsidi energi tetap berjalan.

“Dampak global saat ini masih belum terasa karena di-absorb (diserap) oleh pemerintah. Jadi kita menjaga betul supaya masyarakat bisa beraktivitas dengan normal,” kata Purbaya.

Setelah periode Lebaran, pemerintah akan berfokus menjaga permintaan domestik melalui penguatan sektor swasta, menjaga stabilitas harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, serta memastikan realisasi belanja negara tepat waktu.

“Kita akan pastikan belanja-belanja pemerintah yang emang harus dibelanjakan, dibelanjakan tepat waktu,” ungkap dia.

Baca juga: Imbas Perang Iran Vs AS-Israel, BI Revisi Turun Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Dunia Jadi 3,1 Persen

Airlangga juga menilai optimisme pertumbuhan ekonomi 5,5 persen didukung geliat konsumsi masyarakat selama Ramadhan.

“Kelihatannya target 5,5 bisa dicapai dari geliat selama Ramadhan kemarin,” ujarnya.

Mudik dan perputaran uang besar

Momentum mudik Idul Fitri dinilai sebagai fenomena ekonomi strategis yang secara konsisten mendorong aktivitas ekonomi nasional.

Secara historis, konsumsi rumah tangga meningkat 15 sampai 20 persen dibandingkan bulan normal, seiring tingginya mobilitas masyarakat dan meningkatnya kecepatan perputaran uang.

Baca juga: Survei LPEM UI: Hampir Separuh Ekonom Proyeksikan Laju Pertumbuhan Ekonomi ke Depan Stagnan

Ilustrasi pertumbuhan ekonomi.THINKSTOCKS Ilustrasi pertumbuhan ekonomi.

Juru Bicara Kemenko Perekonomian Haryo Limanseto mengatakan setiap pengeluaran pemudik menciptakan efek pengganda yang berdampak pada berbagai sektor ekonomi.

“Setiap pengeluaran pemudik menciptakan efek pengganda yang memberikan dampak berlapis bagi pelaku ekonomi, termasuk UMKM, pedagang, dan sektor jasa transportasi,” jelas dia.

Kajian Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2023 juga menunjukkan aktivitas mudik berkontribusi sekitar 1,5 persen terhadap pertumbuhan ekonomi nasional secara tahunan melalui redistribusi aliran uang dari pusat ekonomi ke berbagai daerah.

Laporan Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI) memperkirakan perputaran uang selama Lebaran 2026 berpotensi mencapai Rp 417 triliun dalam skenario optimistis.

Baca juga: Rosan: Danantara Disiapkan Jadi Mesin Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen

Pengamat ISEAI Ronny P Sasmita menilai mudik Lebaran merupakan mekanisme redistribusi ekonomi terbesar di Indonesia.

“Lebaran menjadi katalisator krusial bagi pertumbuhan PDB nasional di awal tahun,” jelas Ronny pada Minggu (22/3/2026).

Ia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 dapat mencapai 5,4 sampai 5,5 persen, ditopang konsumsi rumah tangga selama Ramadhan dan Lebaran.

Dari sisi mobilitas, jumlah pemudik pada Lebaran 2026 diperkirakan mencapai 143,91 juta orang atau sekitar 50,6 persen dari total populasi Indonesia.

Baca juga: Hashim: Program Perumahan Berpotensi Dorong Pertumbuhan Ekonomi hingga 2 Persen

ISEAI juga mencatat lonjakan trafik di Jalan Tol Trans-Sumatera mencapai 109,65 persen di atas kondisi normal, bahkan beberapa ruas mengalami kenaikan lebih dari 200 persen.

Belanja keluarga dan dampak ke daerah

Kuatnya perputaran uang selama Lebaran turut didorong peningkatan pengeluaran masyarakat. Rata-rata belanja per keluarga diperkirakan mencapai Rp 4,12 juta atau naik sekitar 10 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Warga memilih pakaian lebaran di salah satu pusat perbelanjaan di Medan, Sumatera Utara, Jumat (13/3/2026). Menurut pemilik toko pakaian modern, penjualan pakaian menjelang Lebaran 1447 Hijriah mengalami peningkatan dari hari biasa sebanyak 25 barang per hari menjadi 60-65 barang per hari dengan barang terlaris seperti pakaian, sandal, sepatu dan tas.ANTARA FOTO/Yudi Manar Warga memilih pakaian lebaran di salah satu pusat perbelanjaan di Medan, Sumatera Utara, Jumat (13/3/2026). Menurut pemilik toko pakaian modern, penjualan pakaian menjelang Lebaran 1447 Hijriah mengalami peningkatan dari hari biasa sebanyak 25 barang per hari menjadi 60-65 barang per hari dengan barang terlaris seperti pakaian, sandal, sepatu dan tas.

Belanja tersebut mencakup kebutuhan pokok, transportasi, hingga pemberian uang kepada keluarga di kampung halaman yang menjadi sumber likuiditas bagi ekonomi daerah.

Selain itu, pencairan THR dari pemerintah dan swasta yang totalnya mencapai sekitar Rp 189 triliun dinilai memperkuat daya beli masyarakat.

Baca juga: Harga Minyak Dunia Melonjak, Ekonom: Daya Beli Tertekan hingga Pertumbuhan Ekonomi Melambat

Ronny menilai dampak ekonomi Lebaran terasa signifikan di daerah tujuan mudik. Jawa Tengah diperkirakan mengalami lonjakan ekonomi terbesar seiring kedatangan lebih dari 38 juta pemudik.

Sementara Sumatera Barat diperkirakan menerima aliran dana hingga Rp 5 triliun dari remitansi perantau yang berdampak langsung pada pertumbuhan ekonomi daerah.

Di sektor usaha, pelaku UMKM di daerah diproyeksikan mengalami lonjakan omzet hingga dua kali lipat selama periode Lebaran.

Kontribusi juga datang dari sektor pariwisata yang diperkirakan meningkat hingga 4,7 persen terhadap produk domestik bruto (PDB), serta sektor ritel digital dengan penggunaan dompet elektronik yang diproyeksikan mencapai 54 persen dari total transaksi.

Baca juga: Hashim: Program 3 Juta Rumah untuk Kejar Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen

ISEAI menilai aktivitas mudik dan konsumsi selama Lebaran berperan sebagai “mesin ekonomi musiman” yang membantu menjaga ketahanan ekonomi domestik di tengah ketidakpastian global.

“Tradisi mudik tetap menjadi penyangga utama pertumbuhan ekonomi nasional,” kata Ronny.

Proyeksi ekonom dan catatan inflasi

Ekonom Kisi Asset Management Arfian Prasetya Aji memperkirakan pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 berada di kisaran 5,2 sampai 5,3 persen.

“Terdapat dua faktor utama yang dapat menjadi penopang,” ujarnya.

Ilustrasi pertumbuhan ekonomi. Freepik Ilustrasi pertumbuhan ekonomi.

Baca juga: Dampak THR dan BHR: Mendorong Pertumbuhan Ekonomi di Tengah Inflasi?

Ia menyebut percepatan belanja pemerintah pada awal tahun dengan total anggaran mencapai Rp 809 triliun serta pertumbuhan kredit 9,96 persen secara tahunan (yoy) pada Januari 2026 sebagai faktor utama.

Chief Economist PT Bank Syariah Indonesia Tbk Banjaran Surya Indrastomo memproyeksikan pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 berada di kisaran 5,45 hingga 5,5 persen.

“Kami memperkirakan multiplier effect dari penyaluran THR dan BHR akan meningkatkan 0,3 hingga 0,8 poin persentase (ppt) terhadap pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026,” kata Banjaran.

Namun, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira Adhinegara memperkirakan pertumbuhan ekonomi hanya berada di kisaran 4,9 sampai 5 persen.

Baca juga: Ditopang Hari Raya, Pertumbuhan Ekonomi RI Kuartal I 2026 Bisa di Atas 5 Persen

“Karena ada momen seasonal Ramadhan, Lebaran, dan Imlek,” ungkap dia.

Bhima menilai meskipun THR meningkat, dampaknya terhadap konsumsi dapat tergerus inflasi yang lebih tinggi. Pada Februari 2026, inflasi umum tercatat 4,76 persen secara tahunan dan inflasi pangan bergejolak mencapai 4 persen.

Ketidakpastian global masih jadi perhatian

Di tengah optimisme terhadap konsumsi domestik, pelaku usaha juga menyoroti ketidakpastian geopolitik global.

Direktur PT Freeport Indonesia Tony Wenas berharap kondisi dunia menjadi lebih stabil.

Baca juga: Ekonom: THR dan Bonus Ojol Dorong Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I

“Harapannya semoga dunia ini lebih damai lah,” kata dia.

Ia menilai setiap ketidakdamaian global dapat membawa dampak negatif yang luas terhadap aktivitas ekonomi.

Tony juga berharap Indonesia mampu bertahan menghadapi berbagai guncangan global.

“Dan semoga Indonesia bisa bertahan, bisa survive,” imbuh dia.

Baca juga: Industri Pindar Jadi Infrastruktur Keuangan, Inklusi, dan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Selain itu, ia berharap Indonesia dapat segera keluar dari berbagai tantangan ekonomi yang tengah dihadapi.

“Bisa relieve dari kesulitan-kesulitan yang mungkin dihadapi,” ujar Tony.

Tag:  #mudik #lebaran #angkat #pertumbuhan #ekonomi #kuartal #2026 #atas #persen

KOMENTAR