Harga Emas Turun di Tengah Perang Iran, Ini Penyebabnya
Ilustrasi emas, harga emas. Harga emas dunia. Harga emas dunia naik ke level tertinggi dalam lebih dari tiga pekan pada perdagangan Senin (23/2/2026). (PEXELS/MICHAEL STEINBERG)
15:44
24 Maret 2026

Harga Emas Turun di Tengah Perang Iran, Ini Penyebabnya

Harga emas dunia mengalami tekanan di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik akibat konflik di Timur Tengah.

Kondisi ini mengejutkan sebagian pelaku pasar karena emas selama ini dikenal sebagai aset lindung nilai (safe haven) yang biasanya menguat saat ketidakpastian meningkat.

Namun demikian, dalam beberapa pekan terakhir, pergerakan harga logam mulia tersebut menunjukkan tren berbeda.

Baca juga: Harga Emas Dunia Sepekan Terburuk Sejak 1983 di Tengah Geopolitik

Ilustrasi emas. Freepik Ilustrasi emas.

Faktor seperti penguatan dollar AS, lonjakan harga energi, serta perubahan ekspektasi suku bunga global dinilai menjadi penyebab utama turunnya harga emas.

Dikutip dari Reuters, Selasa (24/3/2026), data pasar menunjukkan harga emas mengalami volatilitas tinggi sejak konflik pecah pada akhir Februari 2026.

Bahkan, dalam periode tersebut, harga spot emas dilaporkan telah turun signifikan dari rekor tertinggi yang dicapai sebelumnya pada awal tahun.

Dampak konflik terhadap pasar emas

Perang yang melibatkan Iran berdampak luas terhadap pasar komoditas global, terutama energi. Lonjakan harga minyak akibat gangguan pasokan memicu kekhawatiran inflasi yang lebih tinggi di berbagai negara.

Baca juga: Harga Emas Antam Hari Ini 24 Maret 2026, Rp 2,84 Juta Per Gram

Kondisi ini kemudian memengaruhi kebijakan moneter, terutama di Amerika Serikat (AS). Pelaku pasar mulai menilai bank sentral kemungkinan menunda atau bahkan menaikkan suku bunga untuk menahan tekanan inflasi.

Dalam situasi tersebut, menurut warta The New York Post, daya tarik emas sebagai aset non-yielding atau tidak memberikan imbal hasil menjadi berkurang.

Ilustrasi emas. Perang di Timur Tengah mengganggu penerbangan dari Dubai, membuat pedagang menawarkan diskon emas hingga 30 dollar AS per ons.DOK. Pixabay/Global_Intergold. Ilustrasi emas. Perang di Timur Tengah mengganggu penerbangan dari Dubai, membuat pedagang menawarkan diskon emas hingga 30 dollar AS per ons.

Kenaikan suku bunga biasanya meningkatkan imbal hasil obligasi dan instrumen keuangan lainnya, sehingga investor beralih dari emas.

Selain itu, konflik Iran juga memperkuat posisi dollar AS di pasar global.

Baca juga: Harga Emas Loyo, Saham Tambang Tertekan Konflik di Timur Tengah

Penguatan dollar AS membuat harga emas yang diperdagangkan dalam mata uang tersebut menjadi lebih mahal bagi investor di negara lain, sehingga menekan permintaan.

Mengutip Newsweek, emas tidak mengabaikan Iran, melainkan bereaksi terhadap konsekuensi ekonomi dari perang tersebut. Ini mencerminkan bahwa logam mulia tersebut merespons dampak ekonomi perang, bukan konflik itu sendiri.

Volatilitas tinggi dan aksi likuidasi

Sejumlah analis mencatat bahwa pergerakan harga emas saat ini juga dipengaruhi aksi likuidasi oleh investor. Ketika pasar keuangan global mengalami tekanan, investor cenderung menjual berbagai aset untuk memperoleh likuiditas.

Fenomena ini pernah terjadi pada konflik geopolitik sebelumnya, termasuk perang Rusia-Ukraina pada 2022.

Baca juga: Harga Emas Dunia Anjlok ke Level Terendah 4 Bulan saat Harga Minyak Naik

Dalam jangka pendek, penjualan aset secara luas dapat menekan harga emas meski risiko global meningkat.

Tekanan juga datang dari arus keluar dana pada produk investasi berbasis emas seperti exchange-traded fund (ETF). Dalam beberapa pekan terakhir, investor dilaporkan menarik miliaran dolar dari instrumen tersebut, terutama di Amerika Serikat.

Perubahan sentimen pasar ini turut memicu spekulasi bahwa emas mulai kehilangan reputasinya sebagai safe haven dalam kondisi tertentu.

Namun, sebagian analis menilai fenomena tersebut bersifat sementara dan dipengaruhi faktor teknis serta makroekonomi.

Baca juga: Harga Emas Dunia Anjlok 11 Persen Sepekan, Kehilangan Daya Tarik?

Pemerintah resmi mengenakan bea keluar untuk ekspor emas. Kebijakan ini dinilai bisa menekan margin emiten tambang, meski harga sahamnya masih bergerak positif.Shutterstock/VladKK Pemerintah resmi mengenakan bea keluar untuk ekspor emas. Kebijakan ini dinilai bisa menekan margin emiten tambang, meski harga sahamnya masih bergerak positif.

Harga minyak dan inflasi jadi faktor utama

Konflik Iran memicu gangguan pada jalur distribusi energi global, termasuk risiko terhadap Selat Hormuz yang menjadi jalur utama perdagangan minyak dunia.

Lonjakan harga energi kemudian mendorong kekhawatiran inflasi yang lebih tinggi.

Dalam kondisi inflasi meningkat, bank sentral cenderung mempertahankan suku bunga tinggi atau bahkan menaikkannya, sehingga menekan harga emas.

Sejumlah laporan pasar mencatat bahwa kenaikan harga minyak dan penguatan dollar AS menjadi dua faktor yang secara langsung menekan harga emas selama konflik berlangsung.

Baca juga: Harga Emas Dunia Anjlok, Bagaimana Harga Logam Mulia Domestik Pekan Ini?

Di sisi lain, ekspektasi pemangkasan suku bunga yang sebelumnya menjadi pendorong utama reli emas pada 2025 kini mulai memudar.

Pelaku pasar menilai ruang penurunan suku bunga semakin sempit karena tekanan harga energi.

Perubahan perilaku investor

Penurunan harga emas juga mencerminkan perubahan perilaku investor global.

Sebagian investor memilih mengalihkan dana ke aset lain yang dinilai lebih menguntungkan dalam jangka pendek, termasuk dolar dan instrumen pendapatan tetap.

Baca juga: Harga Emas Dunia Tersungkur di Tengah Konflik Iran, Ini Penyebabnya

Dalam situasi ketidakpastian tinggi, investor juga cenderung memprioritaskan likuiditas. Hal ini membuat permintaan terhadap emas tidak langsung meningkat meski risiko geopolitik bertambah.

Beberapa laporan menyebutkan harga emas bahkan sempat turun lebih dari 20 persen dari puncaknya pada awal tahun, mendekati wilayah bear market.

Ilustrasi emas batangan, harga emas hari ini. DOK. Shutterstock. Ilustrasi emas batangan, harga emas hari ini.

Kondisi ini menunjukkan bahwa hubungan antara konflik geopolitik dan harga emas tidak selalu linier. Faktor ekonomi makro seperti suku bunga, nilai tukar, dan inflasi memiliki pengaruh besar terhadap pergerakan logam mulia.

Prospek jangka panjang

Meski menghadapi tekanan dalam jangka pendek, sejumlah analis tetap melihat prospek emas secara lebih positif dalam jangka panjang.

Baca juga: Harga Emas Anjlok 9,5 Persen, Terburuk dalam 14 Tahun

Kekhawatiran terhadap inflasi struktural, defisit anggaran negara maju, serta upaya bank sentral untuk mendiversifikasi cadangan devisa dinilai dapat mendukung permintaan emas di masa depan.

Selain itu, konflik geopolitik berkepanjangan berpotensi memperburuk kondisi ekonomi global, termasuk risiko stagflasi dan perlambatan pertumbuhan. Dalam skenario tersebut, emas masih dianggap sebagai salah satu aset pelindung nilai.

Namun untuk saat ini, dinamika pasar menunjukkan bahwa logam mulia lebih banyak dipengaruhi faktor moneter dan likuiditas dibandingkan sentimen geopolitik semata.

Pasar menunggu arah kebijakan bank sentral

Ke depan, pelaku pasar menantikan sejumlah indikator ekonomi penting, termasuk data inflasi dan keputusan suku bunga bank sentral utama.

Baca juga: UBS Naikkan Target Harga Emas 2026, Bisa Tembus 6.200 Dollar AS

Perubahan kebijakan moneter global akan menjadi penentu utama arah harga emas, terutama jika konflik Iran terus memicu tekanan pada harga energi dan nilai tukar.

Dengan volatilitas pasar yang masih tinggi, harga emas diperkirakan tetap bergerak fluktuatif. Investor pun dihadapkan pada berbagai faktor yang saling tarik-menarik antara risiko geopolitik dan kebijakan ekonomi makro.

Situasi ini menegaskan bahwa peran emas sebagai safe haven tetap bergantung pada konteks ekonomi yang lebih luas, termasuk arah suku bunga, kekuatan dolar, dan kondisi likuiditas global.

Tag:  #harga #emas #turun #tengah #perang #iran #penyebabnya

KOMENTAR