Mengapa Panic Buying Terjadi Saat Krisis? Ini Penjelasannya
Fenomena panic buying atau pembelian panik kembali mencuat di berbagai negara seiring meningkatnya ketidakpastian global, termasuk konflik geopolitik dan potensi gangguan pasokan energi.
Dalam konteks ini, perilaku konsumen tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi ekonomi riil, tetapi juga oleh faktor psikologis yang kompleks.
Dikutip dari studi yang dipublikasikan di laman EBSCO, Rabu (1/4/2026), secara umum, panic buying merujuk pada perilaku membeli barang dalam jumlah besar secara tidak biasa, biasanya terjadi sebelum atau selama krisis.
Baca juga: Zulhas Minta Warga Tak Panic Buying, Stok Pangan Aman
Perilaku ini muncul sebagai respons terhadap kekhawatiran akan kelangkaan barang atau gangguan distribusi.
Respons terhadap ancaman dan ketidakpastian
Dalam kajian psikologi, panic buying kerap dikaitkan dengan persepsi ancaman terhadap ketersediaan barang.
Ketika individu merasa ada risiko kekurangan, mereka cenderung membeli lebih banyak dari kebutuhan normal sebagai bentuk antisipasi.
Fenomena ini terlihat dalam berbagai krisis, mulai dari bencana alam hingga pandemi Covid-19.
Baca juga: Ingatkan Warga Jangan Panic Buying BBM, Bahlil: Pakailah Secukupnya
Pada masa tersebut, sejumlah barang seperti makanan pokok hingga tisu toilet sempat mengalami lonjakan permintaan akibat aksi penimbunan oleh konsumen.
Selain itu, panic buying juga dapat dipicu oleh ketidakpastian masa depan. Rasa tidak pasti membuat individu mencari cara untuk mendapatkan kembali kendali atas situasi, salah satunya melalui pembelian barang dalam jumlah besar.
Dalam perspektif perilaku konsumen, tindakan ini berfungsi sebagai mekanisme coping untuk meredakan kecemasan.
Ilustrasi : warga membeli bensin eceran
Peran persepsi kelangkaan
Salah satu faktor utama yang mendorong panic buying adalah apa yang dikenal sebagai scarcity heuristic atau persepsi kelangkaan. Ketika suatu barang dianggap langka, nilainya secara psikologis meningkat di mata konsumen.
Baca juga: Panic Buying BBM dan Krisis Energi Bayangi Ekonomi Australia
“Ketika sesuatu dianggap dalam jumlah terbatas, secara psikologis menjadi lebih berharga,” kata profesor psikologi dari Macquarie University Melissa Norberg, dikutip dari The Guardian.
Persepsi ini tidak selalu mencerminkan kondisi nyata. Dalam banyak kasus, ketakutan akan kelangkaan justru menciptakan kelangkaan itu sendiri.
Lonjakan permintaan yang tiba-tiba dapat mengganggu rantai pasok, sehingga stok barang benar-benar menipis.
Dalam literatur ekonomi dan psikologi, kondisi ini disebut sebagai self-fulfilling prophecy, di mana ekspektasi akan kekurangan memicu perilaku yang menyebabkan kekurangan tersebut benar-benar terjadi.
Baca juga: Stok BBM Aman Jelang Lebaran, Imbauan Tak Panic Buying Menguat
Pengaruh sosial dan perilaku kolektif
Panic buying juga erat kaitannya dengan dinamika sosial. Individu tidak hanya bertindak berdasarkan kebutuhan pribadi, tetapi juga dipengaruhi oleh perilaku orang lain.
Penelitian menunjukkan bahwa ketika konsumen melihat orang lain membeli dalam jumlah besar, mereka cenderung meniru tindakan tersebut. Fenomena ini dikenal sebagai herd behavior atau perilaku kawanan.
Karina Rune, peneliti di bidang kesehatan dan ilmu perilaku dari University of the Sunshine Coast, menyebut panic buying sebagai respons coping jangka pendek terhadap stres situasional dan penularan sosial.
Ia menambahkan, norma sosial memiliki peran penting.
Sejumlah warga mengantre untuk mengisi BBM di SPBU Simpang Teritit, Kecamatan Bukit, Kabupaten Bener Meriah, Jumat (6/3/2026).
Baca juga: Pertamina Pastikan Stok BBM dan Elpiji Aman Selama Lebaran, Masyarakat Diimbau Tak Panic Buying
“Jika terasa seperti hal yang masuk akal atau bijak untuk dilakukan, orang akan cenderung melakukannya,” ujarnya.
Liputan media juga dapat memperkuat efek ini. Gambar antrean panjang atau rak kosong di toko dapat menciptakan persepsi bahwa banyak orang sedang menimbun barang, sehingga mendorong lebih banyak orang melakukan hal serupa.
Peran media dan komunikasi publik
Media memiliki peran signifikan dalam membentuk persepsi publik terkait ketersediaan barang.
Pemberitaan yang menyoroti aksi panic buying dapat memperkuat apa yang disebut sebagai descriptive norms, yaitu persepsi tentang apa yang dilakukan oleh mayoritas orang.
Baca juga: Bahlil Jamin Pasokan BBM Aman, Warga Diminta Jangan Panic Buying
Menurut Liam Smith dari BehaviourWorks Australia, penekanan pada perilaku negatif justru dapat memperburuk situasi.
“Apa yang Anda katakan adalah: sebagian besar orang sedang menimbun,” terangnya, merujuk pada pesan publik yang tidak tepat sasaran.
Bahkan, imbauan untuk “tidak panik” bisa berdampak sebaliknya jika tidak disertai dengan informasi yang menenangkan.
Pesan yang tidak memberikan kepastian justru dapat meningkatkan kecemasan masyarakat.
Baca juga: Bulog Imbau Warga Tak Panic Buying, Stok Beras dan Minyak Goreng Aman
Panic buying sebagai mekanisme coping
Dari sudut pandang psikologi, panic buying tidak selalu dianggap sebagai perilaku irasional oleh pelakunya.
Sebaliknya, tindakan tersebut sering dipandang sebagai langkah rasional untuk melindungi diri dan keluarga.
Norberg menilai, orang yang melakukan panic buying tidak melihat diri mereka sebagai egois.
Antrean pembelian bahan bakar minyak di SPBU Cunda, Kota Lhokseumawe, Provinsi Aceh, Jumat (6/3/2026)
“Ada perbedaan antara bagaimana orang melihat diri mereka dan bagaimana orang lain melihat perilaku tersebut,” katanya.
Baca juga: Pemerintah Imbau Warga Tak Panic Buying BBM, Stok Dipastikan Aman
Hal ini menunjukkan, panic buying juga berkaitan dengan nilai dan persepsi moral individu. Dalam situasi krisis, prioritas terhadap keamanan pribadi dan keluarga sering kali mengalahkan pertimbangan kolektif.
Selain itu, penelitian menunjukkan bahwa kecemasan memainkan peran penting dalam mendorong perilaku ini.
Mengutip Frontiers, ketika individu merasa kehilangan kontrol, pembelian barang menjadi cara untuk mengurangi ketegangan psikologis.
Faktor ekonomi dan rasionalitas terbatas
Meskipun sering dianggap irasional, panic buying dalam beberapa kasus memiliki dasar rasional.
Baca juga: Pertamina Pastikan Stok BBM Aman, Masyarakat Diminta Tak Panic Buying
Jika terdapat kemungkinan gangguan distribusi atau kenaikan harga, membeli lebih awal dapat dianggap sebagai strategi untuk menghindari kerugian di masa depan.
Namun, rasionalitas ini bersifat terbatas karena didasarkan pada informasi yang tidak selalu lengkap atau akurat.
Ketika banyak orang mengambil keputusan serupa secara bersamaan, dampaknya dapat memperburuk kondisi pasar.
Dalam konteks ini, panic buying dapat dilihat sebagai bentuk kegagalan koordinasi dalam pasar, di mana tindakan individu yang rasional secara mikro menghasilkan konsekuensi negatif secara makro.
Baca juga: Ada Demo, Pengusaha Mal Minta Masyarakat Tak Panic Buying
Dampak panic buying terhadap rantai pasok
Panic buying dapat memberikan tekanan signifikan terhadap rantai pasok, terutama jika terjadi dalam waktu singkat dan melibatkan banyak konsumen.
Warga antri BBM di SPBU Junok Bangkalan
Lonjakan permintaan yang tiba-tiba dapat menyebabkan kekosongan stok di tingkat ritel, meskipun pasokan secara keseluruhan sebenarnya mencukupi.
Selain itu, perilaku ini juga dapat memicu praktik penimbunan dan spekulasi harga.
Sebagian konsumen membeli barang dalam jumlah besar dengan tujuan dijual kembali dengan harga lebih tinggi, yang pada akhirnya memperburuk aksesibilitas bagi masyarakat luas.
Baca juga: DPR dan Pertamina Tinjau Distribusi Elpiji 3 Kg: Pasokan Aman, Tak Perlu Panic Buying
Upaya meredam panic buying
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa pendekatan komunikasi yang tepat dapat membantu meredam panic buying.
Alih-alih menekankan larangan, pesan yang menyoroti stabilitas pasokan dan tanggung jawab kolektif dinilai lebih efektif.
Rune menekankan pentingnya reassurance atau penegasan kepada publik bahwa sebagian besar orang membeli sesuai kebutuhan.
“Kami ingin menegaskan bahwa kebanyakan orang sebenarnya membeli sesuai kebutuhan mereka,” ucapnya.
Baca juga: Panic Buying Landa Malaysia, Warga Saling Berebut Air Minum
Selain itu, pendekatan yang menekankan nilai solidaritas dan kepedulian terhadap kelompok rentan juga dapat membantu mengurangi perilaku penimbunan.
Norberg juga menyarankan agar individu tetap berpegang pada nilai-nilai tersebut, bahkan dalam kondisi penuh tekanan.
“Jika Anda menghargai kemurahan hati dan kesetaraan, maka cobalah mempertahankan nilai-nilai itu meskipun Anda merasa cemas,” katanya.
Fenomena yang berulang dalam krisis
Secara historis, panic buying bukanlah fenomena baru. Perilaku ini telah muncul dalam berbagai krisis, mulai dari Perang Dunia, krisis energi 1970-an, hingga pandemi global dan konflik di Timur Tengah seperti saat ini.
Warga Mengantre BBM di SPBU Mini (Pertashope) di Kampung Reje Guru, Kecamatan Bukit, Kabupaten Bener Meriah, Kamis (5/2/2025).
Baca juga: Warga Malang Sempat Panic Buying gara-gara Isu BBM Naik, Pertamina: Harap Tenang, Stok Aman
Dalam banyak kasus, pemicu awal panic buying sering kali berupa informasi atau rumor yang menyebar luas.
Bahkan pernyataan ringan di media dapat memicu reaksi berantai yang berdampak besar terhadap perilaku konsumen.
Fenomena ini menunjukkan bahwa panic buying merupakan hasil interaksi antara faktor psikologis, sosial, dan ekonomi.
Dalam situasi krisis, ketiganya saling memperkuat dan membentuk pola perilaku kolektif yang sulit dikendalikan.
Baca juga: Alfamart: Jangan Panic Buying Minyak Goreng, Pemerintah Jamin Stoknya
Dengan demikian, memahami dinamika tersebut menjadi penting bagi pembuat kebijakan dan pelaku pasar dalam merespons potensi lonjakan permintaan yang tidak biasa.
Tag: #mengapa #panic #buying #terjadi #saat #krisis #penjelasannya