Ada Lebaran, Inflasi Maret 2026 Tembus 0,41 persen
Ilustrasi inflasi. (SHUTTERSTOCK/LIGHTSPRING)
12:28
1 April 2026

Ada Lebaran, Inflasi Maret 2026 Tembus 0,41 persen

- Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada Maret 2026 terjadi inflasi sebesar 0,41 persen (m-to-m).

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan, angka inflasi bulanan ini lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 1,65 persen. Sementara itu, inflasi tahun kalender tercatat sebesar 0,94 persen.

“Kelompok pengeluaran penyumbang inflasi bulanan terbesar adalah makanan, minuman, dan tembakau dengan inflasi 1,07 persen dan memberikan andil inflasi sebesar 0,32 persen,” jelas Ateng dalam rilis BPS di Kantor Pusat BPS pada Rabu (1/4/2026).

Sedangkan komoditas yang dominan mendorong inflasi kelompok ini adalah ikan segar, daging ayam ras, beras, telur ayam ras, cabai rawit, minyak goreng serta daging sapi

Selain itu, terdapat komoditas yang masih memberikan andil deflasi pada Maret 2026, di antaranya tarif angkutan udara dan emas perhiasan, masing-masing sebesar 0,03 persen.

Baca juga: Jelang Rilis Data Ekonomi BPS, Ekonom Prediksi Inflasi Maret 2026 Masih Terkendali

Inflasi ini terjadi terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 110,50 pada Februari 2026 menjadi 110,95 pada Maret 2026

Berdasarkan komponen kata Ateng, inflasi pada Maret 2026 utamanya didorong oleh inflasi komponen bergejolak dengan andil inflasi sebesar 0,27 persen.

Di mana komoditas yang dominan memberikan andil inflasi adalah daging ayam ras, beras, telur ayam ras, cabai rawit dan daging sapi. Selanjutnya, komponen inti memberikan andil inflasi sebesar 0,08 persen.

Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi pada kelompok ini adalah minyak goreng dan nasi dengan lauk.

Sementara itu, komponen harga diatur pemerintah memberikan andil inflasi sebesar 0,06 persen. Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi pada komponen ini adalah bensin, tarif angkutan antarkota, dan Sigaret Kretek Mesin (SKM).

Menurut wilayah, secara bulanan tercatat 34 provinsi mengalami inflasi, sedangkan 4 provinsi mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Papua Pegunungan sebesar 2,57 persen. Adapun deflasi terdalam terjadi di Maluku sebesar 0,75 persen.

BPS secara khusus melaporkan inflasi kelompok transportasi pada momen Lebaran. Berdasarkan historis lima tahun terakhir, selalu terjadi inflasi di setiap momen Ramadhan dan Lebaran, kecuali pada tahun 2025.

Ia melanjutkan bahwa tarif angkutan udara menjadi peredam inflasi pada kelompok ini dengan andil deflasi terhadap umum sebesar 0,03 persen.

Secara tahunan (y-on-y), inflasi tercatat sebesar 3,48 persen, atau lebih tinggi dibandingkan inflasi tahunan Maret 2025 sebesar 1,03 persen. Kondisi ini salah satunya disebabkan oleh masih adanya sedikit pengaruh low-base effect.

Pada Januari-Februari 2025, pemerintah menerapkan kebijakan diskon tarif listrik, sehingga level harga pada periode tersebut berada di bawah tren normal dan menekan IHK.

Meskipun tarif listrik prabayar kembali normal pada Maret 2025, diskon untuk pascabayar masih berlanjut, sehingga pada Maret 2026 inflasi terlihat lebih tinggi meskipun dinamika harga secara umum tetap sejalan dengan tren fundamental.

Masih adanya sedikit pengaruh low-base effect ini terlihat dari angka inflasi tahunan kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga pada Maret 2026 yang mencapai 7,24 persen, dengan andil inflasi sebesar 1,08 persen.

Lebih lanjut, BPS melaporkan bahwa kelompok makanan, minuman dan tembakau mengalami inflasi tahunan sebesar 3,34 persen atau memberikan andil inflasi sebesar 0,99 persen.

Sementara itu, kelompok informasi, komunikasi dan jasa keuangan tercatat mengalami deflasi sebesar 0,03 persen atau memberikan andil deflasi hampir nol persen.

Menurut wilayah, secara tahunan seluruh provinsi mengalami inflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Aceh, yaitu sebesar 5,31 persen, dan inflasi terendah terjadi di Lampung, yaitu sebesar 1,16 persen.

Baca juga: Purbaya Pede Inflasi RI Terkendali, OECD Ramal Naik ke 3,4 Persen

Sebelumnya, Ekonom Universitas Paramadina Wijayanto Samirin memperkirakan inflasi Indonesia pada Maret 2026 masih berada dalam kisaran terkendali, meski diwarnai sejumlah faktor pendorong dan penahan.

Ia memproyeksikan inflasi bulanan berada di kisaran 0,40–0,60 persen, sementara inflasi tahunan (year on year/yoy) diperkirakan mencapai 3,50–3,80 persen.

“Inflasi yoy Maret 2026 dipengaruhi oleh empat hal utama,” ujar Wija kepada Kompas.com pada Rabu (1/4/2026).

Ia menjelaskan, faktor pertama adalah berakhirnya kebijakan pemotongan tarif listrik 50 persen pada awal 2025.

Kedua, efek musiman Lebaran 2026 yang jatuh pada Maret dan mendorong kenaikan permintaan. Ketiga, percepatan program makan bergizi gratis (MBG) yang berpotensi meningkatkan harga pangan.

Faktor keempat, daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih, tercermin dari kecenderungan masyarakat menahan konsumsi dan meningkatkan tabungan.

Menurut Wija, faktor pertama dan keempat cenderung menekan inflasi, sementara faktor kedua dan ketiga mendorong kenaikan harga.

Tag:  #lebaran #inflasi #maret #2026 #tembus #persen

KOMENTAR