Dollar AS Tersungkur, Mata Uang Asia Kompak Menguat
- Tekanan terhadap dollar Amerika Serikat (AS) terasa pada perdagangan Rabu (8/4/2026), ketika mata uang Asia kompak menguat dan mendorong greenback keluar dari level kuatnya.
Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup menguat ke posisi Rp 17.012 per dollar AS, naik 0,55 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp 17.105 per dollar AS.
Penguatan itu sejalan dengan tren regional yang menunjukkan perlawanan serentak terhadap dominasi mata uang Paman Sam.
Di kawasan Asia, hampir seluruh mata uang mencatatkan apresiasi. Baht Thailand memimpin penguatan dengan lonjakan 1,60 persen, diikuti won Korea Selatan yang menguat 1,57 persen, serta peso Filipina naik 1,47 persen.
Ringgit Malaysia menguat 1,27 persen, sementara yen Jepang terapresiasi 0,89 persen. Dollar Taiwan dan dollar Singapura masing-masing naik 0,66 persen dan 0,65 persen terhadap dollar AS.
Disusul yuan China yang naik 0,54 persen dan rupee India yang menguat 0,42 persen. Adapun dollar Hong Kong terapresiasi tipis atau 0,04 persen.
Baca juga: Rupiah Menguat tapi Masih Sentuh Rp 17.000 per Dollar AS
Sejalan dengan penguatan mata uang Asia, indeks dollar AS (DXY) terpantau melemah ke level 98,78. Angka itu turun dibandingkan posisi sehari sebelumnya di 99,85.
Analis mata uang, Ibrahim Assuaibi, menilai meredanya tensi geopolitik di Timur Tengah menjadi faktor utama yang menopang sentimen pasar keuangan.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dilaporkan menyetujui gencatan senjata dengan Iran. Dalam pernyataannya di media sosial, Trump menyebut akan menangguhkan aksi militer selama dua minggu, seraya menegaskan bahwa Amerika Serikat telah mencapai tujuan militernya.
“Presiden Donald Trump menyetujui gencatan senjata. Trump mengatakan dalam sebuah unggahan di media sosial bahwa ia akan menangguhkan aksi militer terhadap Iran selama dua minggu, menambahkan bahwa AS telah mencapai tujuan militer intinya,” ujar Ibrahim kepada media, Rabu sore ini.
Pengumuman tersebut dirilis kurang dari dua jam sebelum tenggat waktu pukul 20.00 waktu setempat, yang sebelumnya menjadi perhatian pelaku pasar sebagai potensi pemicu eskalasi konflik. Sebelumnya, Trump bahkan sempat memperingatkan risiko besar jika Iran tidak mematuhi kesepakatan.
Gencatan senjata disebut dimediasi oleh Pakistan melalui upaya diplomatik intensif. Kesepakatan tersebut bergantung pada komitmen Iran untuk memastikan keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz, yang merupakan jalur strategis bagi sekitar 20 persen distribusi minyak global.
Iran juga mengisyaratkan kesiapan untuk meredakan konflik secara terbatas, dengan membuka jalur pelayaran selama periode gencatan senjata, selama tidak ada aksi permusuhan dan kapal-kapal berkoordinasi dengan otoritas setempat.
Di sisi lain, pelaku pasar global juga menantikan rilis data inflasi Amerika Serikat, khususnya indeks harga konsumen (CPI) bulan Maret, yang dijadwalkan terbit pada Jumat. Data tersebut diharapkan memberikan gambaran awal mengenai dampak lonjakan harga energi terhadap inflasi.
Baca juga: Cadangan Devisa Susut 3,7 Miliar Dollar AS, BI Sebut untuk Stabilkan Rupiah
Para ekonom memperkirakan inflasi akan meningkat secara bulanan, didorong oleh kenaikan harga bahan bakar. Kondisi ini berpotensi memengaruhi arah kebijakan suku bunga Federal Reserve ke depan.
Sementara itu, dari dalam negeri, pasar merespons positif kinerja fiskal pemerintah hingga akhir Maret 2026. Realisasi pendapatan negara tercatat mencapai Rp 574,9 triliun atau tumbuh 10,5 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), setara 18,2 persen dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 sebesar Rp 3,15 kuadriliun.
Kinerja tersebut ditopang oleh penerimaan perpajakan yang kuat dan konsisten sejak awal tahun. Total penerimaan perpajakan mencapai Rp 462,7 triliun atau naik 14,3 persen yoy, terdiri dari penerimaan pajak Rp 394,8 triliun serta kepabeanan dan cukai sebesar Rp 67,9 triliun.
Secara rinci, Pajak Penghasilan (PPh) Badan tercatat Rp 43,3 triliun atau tumbuh 5,4 persen yoy. PPh Orang Pribadi dan PPh 21 mencapai Rp 61,3 triliun atau naik 15,8 persen yoy. Sementara itu, PPh Final, PPh 22, dan PPh 26 mencapai Rp 76,7 triliun atau meningkat 5,1 persen yoy.
Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) mencatat kinerja paling signifikan dengan realisasi Rp 155,6 triliun atau melonjak 57,7 persen yoy. Sementara pajak lainnya tercatat Rp 57,9 triliun atau mengalami kontraksi 5,7 persen yoy.
Di sisi lain, penerimaan kepabeanan dan cukai mencapai Rp 67,9 triliun atau turun 12,6 persen yoy, yang terdiri dari cukai Rp 51 triliun, bea keluar Rp 5,4 triliun, serta bea masuk Rp 11,5 triliun.
Selain itu, pendapatan negara juga ditopang oleh Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar Rp 112,1 triliun serta hibah senilai Rp 100 miliar hingga akhir Maret 2026.