Mengapa Jerawat Semakin Meradang ketika Stres? Ini Kata Dokter
Ilustrasi jerawat meradang.(FREEPIK)
23:10
18 April 2026

Mengapa Jerawat Semakin Meradang ketika Stres? Ini Kata Dokter

- Banyak orang merasa sudah menggunakan skincare dan menjalani perawatan kulit dengan benar, tetapi jerawat tetap muncul bahkan semakin meradang.

Co-founder Eva Mulia Clinic, dr. Eddy Widjaja mengungkapkan, salah satu faktor yang kerap luput diperhatikan adalah kondisi psikologis, terutama stres.

“Kami pernah menangani pasien yang skincare dan treatment-nya sudah sesuai tapi jerawatnya tidak sembuh-sembuh. Setelah, kami telusuri, ternyata pasien stres sehingga memengaruhi penyembuhan jerawat,” ungkap dr. Eddy, kepada Kompas.com di Eva Mulia Clinic Depok, Jumat (17/4/2026).

Baca juga: Dampak Buruk Kurang Tidur pada Wajah, dari Jerawat hingga Mata Panda

Stres bukan penyebab utama, tapi bisa memperburuk

Menurut dr. Eddy, penting untuk memahami bahwa stres bukanlah penyebab utama munculnya jerawat. Faktor utama tetap berasal dari kondisi biologis kulit itu sendiri.

“Memang stres bukan faktor penyebab utama, karena penyebab utama jerawat itu homronal, bakteri, dan penyumbatan di kulit,” jelasnya.

Meski demikian, stres memiliki peran signifikan sebagai faktor pemicu yang dapat memperparah kondisi kulit yang sudah rentan berjerawat.

Seseorang yang sudah memiliki kecenderungan jerawat bisa mengalami kondisi yang lebih buruk ketika mengalami tekanan mental.

“Akan tetapi, stres itu bisa jadi faktor pemicu dan membuat jerawat di kulit memburuk. Ketika stres, tubuh kita memproduksi hormon kortisol,” lanjutnya.

Peran hormon kortisol dalam munculnya jerawat

Hormon kortisol yang meningkat saat stres memiliki dampak langsung terhadap kondisi kulit. Salah satu efeknya adalah meningkatkan produksi minyak di kulit.

“Hormon ini yang menyebabkan peningkatan produksi kelenjar sebasea atau kelenjar lemak. Kalau produksinya meningkat, otomatis kemungkinan terjadi penyumbatan di kulit sangat tinggi,” ujar dr. Eddy.

Produksi minyak berlebih ini kemudian menjadi salah satu pemicu utama terbentuknya jerawat.

Ketika pori-pori tersumbat oleh minyak dan sel kulit mati, lingkungan tersebut menjadi tempat ideal bagi bakteri untuk berkembang.

Baca juga: Tanda Stres pada Penampilan, Muncul Jerawat hingga Mata Sembab

Bakteri normal bisa memicu peradangan

Menariknya, bakteri yang berperan dalam jerawat sebenarnya merupakan bagian normal dari kulit manusia. Namun, dalam kondisi tertentu, bakteri ini bisa berkembang secara berlebihan.

“Kuman ini normal bukan kuman jahat, tapi jika pertumbuhannya berlebih karena penyumbatan, maka muncul jerawat dan bisa memperburuk kondisi jerawatnya,” jelasnya.

Dengan kata lain, kombinasi antara produksi minyak berlebih, penyumbatan pori, dan pertumbuhan bakteri yang tidak terkendali menjadi rangkaian yang memperparah jerawat, terutama saat seseorang sedang mengalami stres.

Pendekatan menyeluruh dalam perawatan jerawat

Untuk mengatasi jerawat yang dipicu atau diperburuk oleh stres, dr. Eddy menekankan pentingnya pendekatan yang menyeluruh.

Tidak hanya fokus pada perawatan kulit dari luar, tetapi juga mempertimbangkan kondisi internal pasien.

“Kami di Eva Mulia Clinic mencoba menganalisis kondisi pasien secara menyeluruh. Kami akan bantu rekomendasi treatment seperti IPL, Blue light therapy, chemical peeling acne, dan lainnya, sesuai kondisi jerawat pasien,” paparnya.

Pendekatan ini dinilai penting karena setiap individu memiliki kondisi kulit dan faktor pemicu yang berbeda. Oleh karena itu, penanganan jerawat tidak bisa disamaratakan.

Selain perawatan medis, mengelola stres juga menjadi langkah penting untuk membantu mempercepat proses penyembuhan kulit.

Dengan menjaga keseimbangan antara perawatan luar dan kondisi mental, risiko jerawat meradang dapat diminimalkan.

Baca juga: 5 Kesalahan Umum Saat Treatment Jerawat yang Justru Memperparah Kondisi Kulit

Tag:  #mengapa #jerawat #semakin #meradang #ketika #stres #kata #dokter

KOMENTAR