Wamenperin: CPO Bisa Jadi Alternatif Bahan Baku Plastik
Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza.(Dok. YouTube Kemenperin)
21:20
8 April 2026

Wamenperin: CPO Bisa Jadi Alternatif Bahan Baku Plastik

- Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza, menyebut minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) bisa menjadi alternatif bahan baku plastik.

Faisol mengatakan, industri plastik tanah air perlu menerapkan diversifikasi bahan baku pengganti nafta, produk petrokimia berbahan dasar minyak bumi.

“Perlu memang diversifikasi pengganti nafta baik dari gas maupun dari nabati. Mudah-mudahan ini bisa menjadi peluang buat CPO misalnya,” kata Faisol saat ditemui di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (8/4/2026).

Menurut Faisol, stok CPO dalam negeri begitu banyak dan bisa menjadi pengganti nafta yang selama ini dipasok dari negara-negara Teluk di Asia Barat.

Meski demikian, penggunaan CPO sebagai bahan baku plastik masih dikaji.

“Mudah-mudahan itu jadi bahan pengganti yang utama,” ujar Faisol.

Baca juga: Kemenperin Genjot Daur Ulang Plastik Saat Pasokan Bahan Baku Terganggu

Selain CPO, pilihan bahan baku lainnya adalah liquefied petroleum gas (LPG) yang bisa diolah menjadi bahan plastik dan polythene, propilen, dan olefin.

Saat ini, kata dia, terdapat perusahaan yang sudah lebih menyetok LPG lebih banyak untuk bahan baku plastik.

Namun, pemerintah belum memutuskan akan memberikan tarif khusus pada LPG yang diimpor dari luar negeri untuk kebutuhan industri plastik.

“Belum sampai seperti itu yang pasti harga di luar pun juga sudah tinggi jadi pemerintah berupaya supaya tidak terdampak ke hilir,” tutur Faisol.

Sementara itu, saat ini industri plastik sudah memiliki pasokan nafta dari Afrika, China, Amerika Serikat, dan beberapa daerah lain.

Ia mengakui, saat ini mencari bahan baku plastik masih sulit. Pelaku industri tidak lagi begitu mempertimbangkan harga bahan baku karena lebih mementingkan ketersediaan stok.

“Ini soal ketersediaan bukan soal harga. Industri juga sedang menghitung ongkos logistik dan segala macamnya,” kata Faisol.

Diketahui, plastik mahal dan langka karena pasokan 70 persen bahan bakunya, nafta yang dikirim dari negara-negara Teluk terhenti imbas perang.

Baca juga: Alternatif Impor Bahan Baku Plastik Indonesia dari AS hingga Afrika 

Konflik di Asia Barat itu menutup Selat Hormuz, membuat distribusi minyak dan produk petrokimia terganggu.

Adapun nafta merupakan produk olahan dari bahan bakar fosil.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Dewan Pengurus Pusat Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) Reynaldi Sarijowan, menyebut harga plastik naik hingga 50 persen dari hari-hari sebelum perang.

“Jauh sebelum memasuki Ramadhan itu masih 10.000. Kemudian bertahap tuh selama sepekan, sepekan, sepekan naik Rp 500, naik Rp 700, naik macam-macam tuh sampai hari ini puncaknya itu naiknya di kita proyeksikan di 50 persen,” kata Reynaldi saat dihubungi Kompas.com, Senin (6/4/2026).

Tag:  #wamenperin #bisa #jadi #alternatif #bahan #baku #plastik

KOMENTAR