Bingung Pilih Tabungan atau Investasi? Ini Cara Menentukannya
Ketika seseorang telah terbebas dari utang dan memiliki sisa pendapatan setelah memenuhi kebutuhan utama, langkah berikutnya yang kerap menjadi pertanyaan adalah: ke mana uang tersebut sebaiknya dialokasikan?
Di tengah beragam pilihan instrumen keuangan yang semakin berkembang, menentukan jenis tabungan maupun investasi yang tepat tidak selalu mudah.
Selain itu, kebutuhan finansial setiap individu juga berbeda, mulai dari membeli rumah, mempersiapkan kelahiran anak, melanjutkan pendidikan, hingga memenuhi kebutuhan gaya hidup.
Baca juga: Tokenized Stocks Buka Peluang Investasi Saham Global bagi Investor Ritel
Ilustrasi mengelola keuangan
Head of Trainer Development The Financial Gym Bridget Todd mengatakan, langkah awal yang perlu dilakukan adalah memahami tujuan keuangan berdasarkan jangka waktu.
“Secara umum, Anda harus memikirkan tujuan Anda dan memecahnya menjadi beberapa kategori berdasarkan jangka waktu,” ujar Todd, dikutip dari CNBC, Kamis (16/4/2026).
“Dari situ Anda dapat menentukan cara terbaik untuk mengalokasikan uang tunai Anda," imbuh dia.
Menentukan tujuan sebelum memilih instrumen investasi
Pendiri The Financial Gym Shannon McLay menekankan, perencanaan keuangan sebaiknya dimulai dari pemahaman terhadap tujuan hidup.
Baca juga: Bingung Mulai Investasi? Ini Cara Menentukan Tujuan yang Tepat
“Apakah kamu ingin dana perjalanan? Apakah kamu akan menikah? Apakah Anda ingin membeli rumah dalam lima atau 10 tahun?” kata McLay.
Menurut dia, setiap tujuan memiliki konsekuensi biaya yang berbeda serta membutuhkan strategi penyimpanan atau investasi yang berbeda pula.
Bahkan, pengeluaran yang sering dianggap kecil atau tidak penting, atau memelihara hewan peliharaan, tetap perlu diperhitungkan dalam perencanaan.
Ilustrasi investasi. Cara beli ORI028. Kupon ORI028. Obligasi Negara Ritel (ORI) seri ORI028.
Dengan kata lain, keputusan finansial tidak hanya soal memilih produk keuangan, tetapi juga tentang memahami kebutuhan hidup yang akan datang.
Baca juga: BSI Tawarkan Investasi Emas Seharga Secangkir Kopi untuk Investor Pemula
Dana darurat sebagai fondasi
Sebelum mulai berinvestasi, kondisi keuangan yang ideal adalah ketika seseorang telah memiliki dana darurat setara tiga hingga enam bulan pengeluaran serta mampu mengendalikan utang.
Dalam posisi ini, individu dinilai memiliki fleksibilitas lebih untuk mulai mengembangkan kekayaan.
Setelah itu, barulah alokasi dana dapat dibagi ke dalam berbagai “keranjang” sesuai tujuan dan jangka waktu.
Menyimpan dana untuk tujuan jangka pendek
Untuk kebutuhan yang akan terjadi dalam waktu dekat, sekitar nol hingga dua tahun, Todd menyarankan agar dana disimpan dalam instrumen berisiko rendah dan mudah diakses, seperti rekening tabungan.
Baca juga: OJK Resmi Publikasikan Saham Terkonsentrasi, Risiko Investasi Lebih Terbaca?
“Simpan tabungan tunai di rekening tabungan yang mudah diakses untuk keperluan penting dalam hidup yang akan datang dalam dua tahun ke depan,” jelas Todd.
Instrumen seperti tabungan berbunga tinggi menjadi pilihan karena relatif aman dan tidak terpengaruh fluktuasi pasar. Meskipun imbal hasilnya tidak besar, stabilitas menjadi keunggulan utama.
Dengan pendekatan ini, pemilik dana tidak perlu khawatir terhadap pergerakan pasar atau risiko kehilangan nilai investasi ketika dana dibutuhkan dalam waktu dekat.
Investasi untuk jangka menengah
Untuk tujuan jangka waktu tiga hingga lima tahun, strategi yang digunakan mulai berubah. Dana dapat mulai diinvestasikan di pasar, namun dengan pendekatan yang lebih konservatif.
Baca juga: Edukasi Jadi Kunci Pengembangan Investasi Aset Kripto
Todd menyarankan agar komposisi portofolio tetap mempertahankan porsi obligasi yang signifikan.
Ilustrasi obligasi.
“Anda sebaiknya menyimpan setidaknya 40 persen portofolio Anda dalam obligasi,” ujar dia.
Pendekatan ini bertujuan menjaga keseimbangan antara potensi imbal hasil dan risiko.
Saham memberikan peluang pertumbuhan, sementara obligasi membantu menahan volatilitas.
Baca juga: WEF Ungkap Tren Investasi Gen Z, Lebih Cepat dan Lebih Berani Risiko
Sementara itu, untuk jangka waktu enam hingga 10 tahun, strategi investasi dapat menjadi sedikit lebih agresif.
“Anda tetap perlu bersikap agak konservatif dalam berinvestasi untuk mencapai tujuan dalam jangka waktu ini. Namun, Anda perlu sedikit meningkatkan risiko untuk meningkatkan keuntungan,” kata Todd.
Dalam periode ini, ia merekomendasikan portofolio dengan sekitar 75 persen saham dan 25 persen obligasi.
Komposisi tersebut dinilai mampu meningkatkan potensi imbal hasil tanpa mengabaikan aspek mitigasi risiko.
Baca juga: Harga Emas Fluktuatif, Warga Surabaya Pilih Tunda Investasi Jelang Lebaran
Investasi jangka panjang dan pensiun
Untuk tujuan jangka panjang, seperti pensiun yang umumnya lebih dari 10 tahun, strategi investasi dapat menjadi lebih agresif.
“Tujuan jangka panjang, seperti pensiun, membutuhkan alokasi yang agresif, artinya minimal 90 persen dalam saham,” kata Todd.
Ia menambahkan, secara historis, pasar saham memiliki kecenderungan untuk berlipat ganda setiap tujuh hingga 10 tahun.
Karena itu, alokasi yang lebih besar pada saham dinilai relevan untuk memaksimalkan pertumbuhan dalam jangka panjang.
Baca juga: Minat Investasi Emas Meningkat, Nasabah Bullion BSI Meroket 400 Persen
Namun, pendekatan ini juga mengandung risiko fluktuasi yang lebih tinggi. Oleh karena itu, faktor waktu menjadi kunci, karena investor memiliki ruang untuk “menahan” gejolak pasar.
Ilustrasi saham.
McLay menegaskan, risiko tersebut seharusnya tidak menjadi penghalang.
“Jika target Anda lebih dari dua tahun, Anda dapat mengatasi naik turunnya pasar,” ujarnya.
Memilih antara aktif atau pasif
Selain menentukan alokasi aset, investor juga dihadapkan pada pilihan cara mengelola investasi, apakah secara aktif atau pasif.
Baca juga: Gen Z, Siapkah Hadapi Peluang Karier dan Investasi di Tahun Kuda Api 2026?
McLay menjelaskan, pilihan ini bergantung pada preferensi masing-masing individu.
“Apakah Anda ingin lebih aktif dalam mengelola investasi Anda, atau Anda ingin membiarkannya saja dan melupakannya?” kata dia.
Bagi investor yang ingin lebih terlibat, pengelolaan aktif melalui akun broker bisa menjadi pilihan.
Sementara itu, bagi yang menginginkan kemudahan, robo-advisor menawarkan pendekatan otomatis dengan penyesuaian portofolio secara berkala.
Baca juga: 7 Buku Investasi yang Dipuji Warren Buffett dan Charlie Munger
Memahami hubungan risiko dan imbal hasil
Dalam setiap keputusan investasi, hubungan antara risiko dan imbal hasil menjadi faktor utama.
Instrumen berisiko rendah seperti tabungan menawarkan pertumbuhan yang stabil namun terbatas.
Sebaliknya, instrumen berisiko tinggi seperti saham memiliki potensi imbal hasil lebih besar, tetapi juga disertai kemungkinan kerugian.
Portofolio yang berisi kombinasi saham dan obligasi mencerminkan upaya menyeimbangkan kedua aspek tersebut.
Baca juga: Tren Investasi 2026: Santai Saja, Hindari Keuntungan Instan
Saham cenderung lebih volatil, sementara obligasi memberikan stabilitas relatif. Komposisi keduanya perlu disesuaikan dengan jangka waktu dan toleransi risiko masing-masing individu.
Ilustrasi investasi
Menyusun strategi berdasarkan “keranjang tujuan”
Dikutip dari Investopedia, pendekatan yang disarankan oleh para perencana keuangan adalah membagi dana ke dalam beberapa “keranjang” berdasarkan tujuan.
Setiap keranjang memiliki karakteristik berbeda:
- Jangka pendek (0–2 tahun): fokus pada likuiditas dan keamanan
- Jangka menengah (3–10 tahun): kombinasi pertumbuhan dan stabilitas
- Jangka panjang (lebih dari 10 tahun): fokus pada pertumbuhan agresif
Dengan pendekatan ini, individu tidak hanya mengandalkan satu jenis instrumen, melainkan membangun portofolio yang lebih terdiversifikasi.
Baca juga: Investasi Emas Digital Populer, Hindari Kesalahan Ini agar Tak Rugi
Menyelaraskan keuangan dengan kehidupan
McLay mengingatkan, perjalanan keuangan tidak hanya tentang pensiun.
“Masih banyak waktu yang bisa dijalani sebelum pensiun,” jelas dia.
“Banyak hal penting yang bisa terjadi antara sekarang dan usia 59 tahun," imbuhny.
Artinya, kebutuhan finansial akan terus muncul sepanjang hidup, dan investasi dapat menjadi alat untuk membantu mewujudkannya.
Baca juga: Tren Keuangan Gen Z dan Milenial: Dari Belanja Impulsif hingga Investasi
Mulai dari pernikahan, pendidikan, hingga pembelian aset, semuanya membutuhkan perencanaan yang matang.
Menggabungkan berbagai strategi
Pendekatan yang dinilai paling efektif adalah mengombinasikan berbagai jenis instrumen dan jangka waktu.
Portofolio yang mencakup instrumen berisiko rendah dan tinggi, serta tujuan jangka pendek dan panjang, memberikan fleksibilitas sekaligus potensi pertumbuhan.
Dengan strategi tersebut, Anda dapat menjaga keseimbangan antara kebutuhan saat ini dan tujuan masa depan.
Baca juga: Feng Shui Ungkap Peluang Investasi 2026, Sektor Ini Bisa Raup Cuan
Pada akhirnya, keberhasilan dalam mengelola keuangan tidak hanya ditentukan oleh pilihan instrumen, tetapi juga oleh kemampuan memahami tujuan hidup dan menyesuaikan strategi secara konsisten.
Tag: #bingung #pilih #tabungan #atau #investasi #cara #menentukannya