BBM Tak Naik Meski Harga Minyak Dunia Naik, Pemerintah Siapkan Tambahan Subsidi
Harga bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia baik subsidi ataupun non subsidi tidak naik meskipun terjadi fluktuasi harga minyak dunia.
Pemerintah Indonesia berkomitmen tidak menaikkan harga BBM di tengah ketegangan geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran di Timur Tengah yang memicu kenaikan harga minyak beberapa bulan terakhir.
Menteri Sekretariat Negara (Mesnesneg) Prasetyo Hadi menyampaikan, keputusan harga BBM belum naik per April 2026 merupakan arahan dari Presiden Prabowo Subianto untuk mengedepankan kepentingan rakyat.
Baca juga: Kapal Tanker Pertamina Patra Niaga Sandar di Ampenan, Pasok 6.000 KL BBM untuk NTB
Ilustrasi BBM.
"Pertamina belum akan melakukan penyesuaian harga, baik untuk BBM subsidi maupun BBM nonsubsidi," ujar Prasetyo dalam keterangan resmi.
Lebih jauh lagi, Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa memastikan harga bahan bakar minyak bersubsidi tidak naik hingga akhir 2026.
Ia menjelaskan, pemerintah sudah menyiapkan berbagai skenario untuk meredam dampak kenaikan harga minyak dunia.
“Jadi yang bersubsidi, sampai akhir tahun aman. Jadi masyarakat tahu, tidak usah ribut, tidak usah takut. Kita sudah hitung,” ujarnya dalam Raker dengan Komisi XI DPR RI, Senin (6/4/2026).
Baca juga: Stok BBM Aman, Ketergantungan Impor Jadi Titik Rawan Energi RI
Pemerintah menyusun simulasi pada berbagai level harga minyak.
Perhitungan dilakukan pada kisaran 80 dollar AS, 90 dollar AS, hingga 100 dollar AS per barrel.
Setiap skenario disertai langkah mitigasi untuk menjaga stabilitas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa saat ditemui di Washington DC pada Selasa (14/4/2026).
Jaga daya beli masyarakat, harga BBM tak naik
Kebijakan pemerintah menahan harga BBM bersubsidi diarahkan untuk menjaga daya beli masyarakat. Dengan demikian, Purbaya berharap, konsumsi rumah tangga diharapkan tetap stabil.
Baca juga: Dari Krisis BBM ke Kedaulatan Energi: Hilirisasi Nikel Jadi Jalan Keluar
Di sisi lain, tekanan fiskal juga tetap diwaspadai.
Beban subsidi berpotensi meningkat jika harga minyak dunia terus naik.
Kondisi ini meningkatkan biaya impor energi Indonesia.
Untuk itu, pemerintah telah menyiapkan kombinasi kebijakan fiskal dan energi. Hal tersebut bertujuan untuk menjaga tekanan anggaran tanpa menaikkan harga BBM bersubsidi.
Baca juga: Hemat BBM, PLN Akan Pensiunkan 2.139 PLTD
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan pemerintah tetap mengutamakan kepentingan masyarakat, terutama kelompok kurang mampu, dengan menjaga stabilitas harga BBM subsidi.
Pemerintah juga memastikan kesiapan anggaran untuk mendukung kebijakan tak adanya penyesuaian harga BBM subsidi.
"Bapak Presiden selalu memperhatikan bahwa kepentingan rakyat di bawah. Terutama kepada saudara-saudara kita yang kurang mampu ini harus mendapat atensi lebih, dalam rangka bagaimana membuat kebijakan agar semuanya bisa berjalan dengan baik," ujar Bahlil akhir Maret lalu.
Pemerintah bakal tambah anggaran subsidi BBM
Harga BBM yang tidak naik menanggung konsekuensi peningkatan anggaran subsidi energi.
Baca juga: Biodiesel Dinilai Efektif Tekan Impor BBM, Hemat Devisa hingga Rp 170 T
Purbaya menyebut, pemerintah akan menambah anggaran subsidi BBM sebesar Rp 90 triliun hingga Rp 100 triliun.
Ilustrasi BBM.
Menurut Purbaya, langkah ini ditempuh untuk menjaga harga BBM dalam negeri agar tidak naik di tengah lonjakan harga minyak mentah dunia akibat konflik di Timur Tengah.
“Rp 90 (triliun) sampai Rp 100 triliun, itu subsidi, kompensasi lain lagi. Nanti kita hitung lagi, angka pastinya saya lupa,” kata Purbaya di Wisma Danantara, Rabu (1/4/2026).
Namun, ia menegaskan angka tersebut masih bersifat sementara dan akan dihitung kembali.
Baca juga: Malaysia Hadapi Periode Kritis Pasokan BBM Mulai Juni 2026
Selain itu, tambahan anggaran tersebut baru mencakup komponen subsidi, belum termasuk kompensasi.
Purbaya menjelaskan, pemerintah saat ini masih memiliki ruang fiskal yang cukup untuk meredam dampak kenaikan harga minyak dunia.
Pemerintah dianggap masih mampu menjaga harga BBM domestik tetap stabil meski harga minyak global berada di kisaran tinggi.
Purbaya bilang, dengan asumsi harga minyak dunia rata-rata mencapai 100 dollar AS per barrel sepanjang tahun, kondisi fiskal Indonesia masih relatif aman.
Baca juga: RUU Migas Perketat DMO dan Atur Harga BBM Nasional
Diplomasi energi pastikan pasokan dari Rusia
Langkah Indonesia mengendalikan harga bahan bakar minyak di dalam negeri juga dilakukan dengan melakukan diplomasi energi dengan Rusia.
Pertemuan Presiden RI Prabowo Subianto dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Istana Kremlin, Moskwa, tak hanya membahas geopolitik, tetapi juga menghasilkan sejumlah kesepakatan kerja sama di berbagai sektor.
Langkah ini dilihat banyak pihak sebagai upaya mencari alternatif pasokan energi dan mempertunjukkan independensi politik luar negeri Indonesia.
Wakil Ketua MPR Eddy Soeparno menilai Indonesia kini memasuki “zona aman” energi setelah pemerintah berhasil mengamankan pasokan minyak mentah dan elpiji dari Rusia.
Baca juga: RUU Migas Perketat DMO dan Atur Harga BBM Nasional
Menurut Eddy, keberhasilan tersebut tidak lepas dari diplomasi energi yang dilakukan Presiden Prabowo Subianto di tengah kondisi pasar energi global yang sedang tidak stabil.
“Dengan adanya suplai dan pasokan yang sudah bisa terjamin, saya kira kita sudah boleh dikatakan memasuki zona aman,” ujar Eddy.
Menurut dia, saat ini pasar energi global berada dalam kondisi “sellers market”, yakni pihak pemilik sumber energi memiliki kendali penuh dalam menentukan harga, volume, hingga tujuan penjualan.
Harga BBM negara tetangga di Asia Tenggara Naik
Keputusan pemerintah menahan harga BBM ternyata tidak terjadi di negara tetangga.
Baca juga: Kuota BBM Subsidi Berkurang Walau Tak Dipakai, Pertamina: Reset Ulang Barcode
Vietnam adalah contoh negara yang menaikkan harga BBM di tengah konflik geopolitik di Timur Tengah.
Harga solar dilaporkan naik hingga 105 persen menjadi sekitar 39.660 dong atau sekitar Rp 25.351 per liter.
Sementara itu bensin RON95 meningkat hampir 68 persen menjadi sekitar 33.840 dong setara Rp 21.600 per liter.
Lonjakan harga tersebut memicu antrean panjang di stasiun pengisian bahan bakar serta kekhawatiran akan kelangkaan energi.
Baca juga: Cek Harga BBM Hari Ini, Sabtu 11 April 2026, di SPBU Pertamina se-Indonesia
Kondisi serupa juga terjadi di Filipina. Pemerintah setempat bahkan menetapkan status darurat energi nasional.
Malaysia malah sempat menaikkan harga bahan bakar minyak selama dua pekan berturut-turut.
Harga bahan bakar non-subsidi naik tajam. Harga Research Octane Number 97 atau RON97 mencapai 4,55 ringgit per liter atau sekitar Rp 19.634.
Pada pekan sebelumnya, harga berada di 3,85 ringgit per liter atau sekitar Rp 16.613.
Baca juga: Cek Harga BBM Hari Ini, Sabtu 11 April 2026, di SPBU Pertamina se-Indonesia
Kendati demikian, pemerintah tetap menahan harga bahan bakar bersubsidi jenis Research Octane Number 95 atau RON95.
Harga RON95 dipatok 1,99 ringgit Malaysia per liter atau sekitar Rp 8.586.
Secara umum, rata-rata masyarakat Malaysia menggunakan BBM jenis ini.
Tag: #naik #meski #harga #minyak #dunia #naik #pemerintah #siapkan #tambahan #subsidi