Air India Rugi Rp 41 Triliun, Tata dan Singapore Airlines Bahas Suntikan Dana
Maskapai penerbangan nasional India, Air India, menghadapi tekanan finansial besar setelah mencatat kerugian tahunan yang jauh melampaui perkiraan.
Kondisi ini mendorong pemegang saham utama Air India, yakni Tata Group dan maskapai asal Singapura, Singapore Airlines, membahas langkah penyelamatan, termasuk kemungkinan suntikan dana baru.
Dikutip dari The Straits Times, Jumat (17/4/2026), Air India mencatat kerugian lebih dari 220 miliar rupee, setara dengan 2,4 miliar dollar AS. Dengan asumsi kurs Rp 17.149 per dollar AS, nilai kerugian tersebut mencapai sekitar Rp 41,15 triliun.
Baca juga: Analis Sebut Kerugian Air India Bebani Keuangan Singapore Airlines
Ilustrasi pesawat Airbus A380 yang dioperasikan maskapai penerbangan Singapore Airlines.
Kerugian ini disebut lebih besar dari estimasi internal sebelumnya, sekaligus menandai tekanan finansial terbesar yang dihadapi maskapai tersebut sejak diakuisisi oleh Tata Group pada 2022.
Seiring memburuknya kinerja keuangan, Air India dilaporkan telah meminta dukungan pendanaan dari para pemegang sahamnya.
“Air India meminta bantuan keuangan dari para pemegang sahamnya,” menurut seorang sumber yang mengetahui pembicaraan tersebut, dikutip dari warta The Economic Times.
Tata dan Singapore Airlines bahas pendanaan baru
Pembicaraan terkait penyelamatan Air India kini memasuki tahap penting. Tata Group sebagai pemegang saham pengendali, bersama Singapore Airlines yang memiliki 25,1 persen saham, disebut tengah menjajaki kemungkinan injeksi modal.
Baca juga: Laba Singapore Airlines Menukik 82 Persen, Air India Jadi Sebab
Namun, besaran dana yang akan dikucurkan masih dalam tahap pembahasan dan bahkan disebut berpotensi belum cukup untuk menutup seluruh kebutuhan pendanaan maskapai.
“Jumlahnya masih dibahas tetapi mungkin lebih kecil dari yang dibutuhkan,” kata sumber dalam laporan tersebut, menurut The Straits Times.
Ilustrasi pesawat Boeing 787 Air India.
Kondisi ini membuka kemungkinan Air India mencari alternatif pendanaan lain di luar dua pemegang saham utamanya.
Pertemuan tingkat tinggi di Bombay House
Di tengah tekanan tersebut, Chief Executive Officer (CEO) Singapore Airlines, Goh Choon Phong, melakukan kunjungan langsung ke markas Tata Group di Bombay House, Mumbai, India.
Baca juga: Kecelakaan Fatal Ungkap Masalah Internal Air India, 3 Pejabat Kunci Dicopot
Pertemuan ini melibatkan jajaran eksekutif senior Tata Group, termasuk Chairman Tata Sons, N. Chandrasekaran.
“Singapore Airlines CEO Goh Choon Phong akan bertemu eksekutif senior Tata Group untuk membahas Air India yang merugi,” demikian dilaporkan Business Standard.
Pertemuan tersebut dinilai penting karena berlangsung di tengah berbagai tantangan operasional dan finansial yang dihadapi Air India.
Dalam laporan lain disebutkan, diskusi antara kedua pihak difokuskan pada kinerja keuangan Air India yang terus tertekan.
Baca juga: Imbas Air India Jatuh, Seluruh Pesawat Boeing 787 di India Diperiksa
Tekanan operasional dan geopolitik
Selain faktor internal, Air India juga menghadapi tekanan eksternal yang memperburuk kondisi keuangan. Salah satunya adalah konflik geopolitik di Timur Tengah yang berdampak pada operasional penerbangan.
“Pembatasan wilayah udara menyusul konflik Asia Barat disebut sebagai salah satu faktor yang meningkatkan biaya operasional maskapai.
Selain itu, maskapai juga terdampak berbagai gangguan operasional, termasuk penutupan wilayah udara tertentu dan dinamika pasar penerbangan global.
Ilustrasi Boeing 787 maskapai Air India. Apa Arti Kode May Day yang Diungkap Pilot Air India Semenit Sebelum Pesawat Jatuh?
Dalam laporan lain disebutkan, kerugian yang terjadi dipicu oleh serangkaian guncangan eksternal yang membalikkan perbaikan kinerja sebelumnya.
Baca juga: Saham Boeing Turun Tajam Usai Kecelakaan Tragis Pesawat Air India
Faktor eksternal ini memperburuk tekanan yang sudah ada, terutama di tengah upaya transformasi Air India pasca-akuisisi oleh Tata Group.
Dampak ke Singapore Airlines
Sebagai pemegang 25,1 persen saham, Singapore Airlines tidak hanya terlibat dalam pembahasan strategis, tetapi juga ikut terdampak oleh kinerja keuangan Air India.
Kerugian Air India turut menekan kinerja keuangan Singapore Airlines.
Keterlibatan Singapore Airlines dalam Air India sendiri merupakan hasil integrasi bisnis melalui merger Vistara dengan Air India pada November 2024, yang mengkonsolidasikan operasi maskapai di bawah Tata Group.
Baca juga: Danantara Ungkap Timpangnya Frekuensi Penerbangan Garuda dengan Singapore Airlines
Langkah tersebut memberikan Singapore Airlines posisi strategis dalam pengelolaan maskapai, termasuk kursi di dewan direksi.
Tekanan manajemen dan pergantian kepemimpinan
Di tengah tekanan keuangan, Air India juga menghadapi dinamika kepemimpinan. CEO Air India, Campbell Wilson, dilaporkan akan mengundurkan diri, menambah kompleksitas situasi yang dihadapi perusahaan.
Kondisi ini mendorong Tata Group untuk mulai membahas calon pemimpin baru, dengan agenda penentuan CEO baru yang diperkirakan akan diputuskan dalam waktu dekat.
Pertemuan antara Singapore Airlines dan Tata Group juga menjadi bagian dari proses transisi tersebut, mengingat peran strategis kedua pihak dalam menentukan arah bisnis Air India ke depan.
Baca juga: Laba Singapore Airlines Anjlok 58,8 Persen, Saham Menukik
Ilustrasi pesawat Boeing 787 Air India.
Tekanan keuangan terbesar sejak akuisisi
Kerugian sebesar Rp 41 triliun lebih ini menjadi sorotan karena terjadi hanya beberapa tahun setelah Tata Group mengambil alih Air India dari pemerintah India.
Sejak akuisisi pada 2022, Tata Group berupaya melakukan transformasi besar-besaran, termasuk restrukturisasi operasional dan penguatan layanan.
Namun, tekanan biaya, kondisi pasar, dan faktor eksternal membuat proses pemulihan berjalan lebih lambat dari yang diharapkan.
Dengan kondisi keuangan yang memburuk, kebutuhan dana menjadi isu utama dalam pembahasan antara pemegang saham.
Baca juga: Singapore Airlines Tawarkan Pekerjaan untuk 300 Karyawan Jetstar Asia
Air India disebut membutuhkan suntikan modal baru untuk menjaga operasional dan melanjutkan strategi pemulihan.
Namun, ketidakpastian masih membayangi, terutama terkait kecukupan dana yang akan dikucurkan.
Situasi ini menunjukkan bahwa upaya penyelamatan Air India tidak hanya bergantung pada pemegang saham utama, tetapi juga kemungkinan melibatkan sumber pendanaan lain.
Konsolidasi industri penerbangan dan tantangan transformasi
Kasus Air India mencerminkan tantangan yang dihadapi industri penerbangan global, terutama dalam proses konsolidasi dan transformasi bisnis.
Baca juga: Singapore Airlines Lewat Scoot Bakal Ambil Alih Rute Penerbangan Jetstar Asia, Termasuk di Indonesia
Merger Vistara dengan Air India yang menghasilkan kepemilikan saham Singapore Airlines menjadi salah satu contoh strategi konsolidasi yang diharapkan meningkatkan efisiensi.
Namun, tekanan eksternal dan internal menunjukkan bahwa proses integrasi dan transformasi maskapai membutuhkan waktu serta dukungan finansial yang besar.
Pertemuan antara Singapore Airlines dan Tata Group menjadi salah satu langkah penting dalam menentukan arah selanjutnya, terutama dalam memastikan keberlanjutan operasional Air India di tengah tekanan yang terus berlangsung.
Tag: #india #rugi #triliun #tata #singapore #airlines #bahas #suntikan #dana