Krisis Energi Timur Tengah, IEA Prediksi Pemulihan hingga 2 Tahun
Kementerian Pertahanan Arab Saudi mengungkapkan pihaknya berhasil mencegat dua drone yang berupaya menyerang kilang minyak Ras Tanura pada Senin (2/3/2026).(Saudi Gazette)
16:20
17 April 2026

Krisis Energi Timur Tengah, IEA Prediksi Pemulihan hingga 2 Tahun

Konflik geopolitik di Timur Tengah tidak hanya memicu lonjakan harga energi, tetapi juga menciptakan disrupsi besar yang diperkirakan berdampak panjang terhadap pasar minyak global.

Kepala Badan Energi Internasional (IEA) Fatih Birol menyatakan, pemulihan produksi energi di kawasan Timur Tengah tidak akan berlangsung cepat.

“Memulihkan pasokan energi kawasan ke level sebelum krisis bisa memakan waktu hingga dua tahun,” ujar Birol, dikutip dari Anadolu Agency, Jumat (17/4/2026).

Baca juga: KSPI: 9.000 Pekerja Terancam PHK Imbas Perang dan Lonjakan Biaya Energi

Ilustrasi kilang minyak.FREEPIK/ARTPHOTO_STUDIO Ilustrasi kilang minyak.

Gangguan terbesar dalam sejarah pasar minyak

Laporan Oil Market Report IEA yang dipublikasikan pada 14 April 2026 menunjukkan, konflik telah menyebabkan gangguan pasokan energi terbesar dalam sejarah.

Pasokan minyak global anjlok tajam pada Maret 2026.

Produksi turun sebesar 10,1 juta barrel per hari (bph) menjadi 97 juta bph akibat serangan terhadap infrastruktur energi dan pembatasan pengiriman melalui Selat Hormuz.

Penurunan ini terutama berasal dari negara-negara OPEC+, yang produksinya merosot 9,4 juta bph secara bulanan menjadi 42,4 juta bph. Sementara itu, pasokan dari negara non-OPEC+ juga turun 770.000 bph.

Baca juga: BBG Dinilai Solusi Energi Masa Depan: Hemat Biaya dan Ramah Lingkungan

IEA menilai, kombinasi kerusakan infrastruktur dan hambatan logistik menjadi faktor utama yang memperparah kondisi.

Jalur distribusi lumpuh, ekspor terpangkas

Selat Hormuz saat dilihat dari Satelit Terra milik NASA pada 5 Februari 2025.NASA EARTH OBSERVATORY via AFP Selat Hormuz saat dilihat dari Satelit Terra milik NASA pada 5 Februari 2025.

Salah satu titik kritis dalam krisis ini adalah terganggunya arus minyak melalui Selat Hormuz, jalur vital yang selama ini menjadi penghubung utama perdagangan energi global.

Dalam laporan IEA tersebut disebutkan, aliran minyak melalui jalur ini turun drastis.

Pada awal April 2026, pengiriman hanya sekitar 3,8 juta bph, jauh di bawah level normal lebih dari 20 juta bph sebelum konflik.

Baca juga: Ketika Energi Sosial Berlimpah Tercerai Berai

Secara keseluruhan, kehilangan ekspor minyak dari kawasan Teluk mencapai lebih dari 13 juta bph.

Kondisi ini memicu gangguan pasokan global dalam skala besar dan memaksa negara importir mencari sumber alternatif di tengah ketersediaan yang semakin terbatas.

Harga minyak dunia melonjak tajam

Disrupsi pasokan yang masif mendorong lonjakan harga minyak ke level yang belum pernah terjadi sebelumnya.

IEA mencatat, harga minyak mencatat kenaikan bulanan terbesar dalam sejarah pada Maret 2026. Pada saat laporan disusun, harga minyak mentah North Sea Dated diperdagangkan sekitar 130 dollar AS per barrel, atau sekitar 60 dollar AS lebih tinggi dibandingkan sebelum konflik.

Baca juga: Perang Iran Picu Krisis Energi, Jepang Siapkan Rp 171 T untuk Asia Tenggara

Bahkan, dalam kondisi pasar fisik, harga sempat mendekati 150 dollar AS per barrel seiring meningkatnya kebutuhan mendesak dari kilang untuk menggantikan pasokan yang hilang.

Lonjakan harga ini tidak hanya mencerminkan kelangkaan pasokan, tetapi juga meningkatnya premi risiko akibat ketidakpastian geopolitik.

Permintaan minyak berbalik turun

Di tengah lonjakan harga, permintaan minyak global justru mengalami kontraksi.

IEA memperkirakan konsumsi minyak dunia akan turun sebesar 80.000 bph sepanjang 2026. Proyeksi ini berbalik dari ekspektasi sebelumnya yang memperkirakan pertumbuhan.

Ilustrasi kapal tanker. SHUTTERSTOCK/SVEN HANSCHE Ilustrasi kapal tanker.

Baca juga: Krisis Energi: Stok Avtur Eropa Diprediksi Habis dalam Enam Minggu

Penurunan permintaan bahkan lebih tajam terjadi dalam jangka pendek.

Pada kuartal II 2026, permintaan diperkirakan turun hingga 1,5 juta bph secara tahunan, penurunan terbesar sejak pandemi Covid-19.

Penurunan ini terutama dipicu oleh kombinasi harga energi yang tinggi dan terganggunya pasokan bahan baku, khususnya untuk sektor petrokimia.

Industri petrokimia paling terdampak

IEA mencatat bahwa sektor petrokimia menjadi yang paling cepat merespons krisis melalui penurunan konsumsi.

Baca juga: Dampak Perang Iran: Asia Jadi Korban Utama Krisis Energi Global

Permintaan untuk bahan baku seperti LPG, etana, dan nafta turun signifikan akibat terganggunya pasokan dari Timur Tengah. Dalam laporan disebutkan bahwa konsumsi kedua komoditas ini menjadi kontributor utama penurunan permintaan global.

Di Asia, banyak pabrik petrokimia mengurangi kapasitas produksi karena keterbatasan bahan baku. Bahkan, pemangkasan operasi dilaporkan mencapai 10 hingga 30 persen dari kapasitas di sejumlah fasilitas.

Selain itu, gangguan ini juga berdampak pada rantai industri turunan seperti manufaktur, tekstil, dan kemasan.

Stok global menyusut, tekanan pasar meningkat

Untuk menutup kekurangan pasokan, negara-negara konsumen mulai mengandalkan cadangan minyak.

Baca juga: Blokade AS di Selat Hormuz: Lalu Lintas Kapal Turun, Distribusi Energi Terganggu

IEA mencatat, stok minyak global turun sebesar 85 juta barel pada Maret 2026. Penurunan ini terjadi terutama di luar kawasan Timur Tengah, seiring tersendatnya distribusi minyak melalui Selat Hormuz.

Ilustrasi kapal tanker. SHUTTERSTOCK/BOB63 Ilustrasi kapal tanker.

Di sisi lain, terjadi peningkatan penyimpanan minyak di kawasan Timur Tengah karena terbatasnya jalur ekspor.

Kondisi ini menunjukkan adanya ketidakseimbangan distribusi antara wilayah produsen dan konsumen.

Skenario pemulihan yang tidak pasti

Dalam laporannya, IEA menyusun dua skenario utama terkait pemulihan pasar energi.

Baca juga: Usai Kunjungan ke Rusia, PR Besar Ketahanan Energi Menanti Pemerintah

Pada skenario dasar (base case), aliran minyak diperkirakan mulai pulih secara bertahap sejak pertengahan 2026, meski belum kembali ke level sebelum konflik.

Dalam kondisi ini, pasar berpotensi kembali mengalami surplus pada paruh kedua tahun ini.

Namun, dalam skenario berkepanjangan (protracted case), gangguan pasokan dapat terus berlanjut, menyebabkan defisit berkepanjangan dan tekanan harga yang lebih tinggi.

Dalam skenario ini, permintaan minyak bahkan dapat turun hingga 5 juta bph secara tahunan pada periode kuartal II hingga kuartal IV 2026.

Baca juga: Geopolitik Panas, Diplomasi Energi Jadi Kunci RI

IEA menegaskan bahwa ketidakpastian geopolitik masih menjadi faktor utama yang menentukan arah pemulihan.

Dampak ke ekonomi dunia

Krisis energi ini tidak hanya memengaruhi sektor minyak, tetapi juga berdampak luas terhadap ekonomi dunia.

Kenaikan harga energi meningkatkan biaya produksi dan transportasi, yang pada akhirnya menekan aktivitas ekonomi. Selain itu, inflasi berpotensi meningkat seiring kenaikan harga bahan bakar.

IEA juga mencatat bahwa pertumbuhan ekonomi global diperkirakan melambat, dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia 2026 turun menjadi sekitar 3 persen dari sebelumnya 3,4 persen.

Baca juga: Pertamina EP Kembangkan Energi Sirkular dan Pangan Berkelanjutan di Daerah Operasi

Kondisi ini menunjukkan bahwa krisis energi dapat menjadi faktor penghambat pemulihan ekonomi global.

Ilustrasi kilang minyak.Unsplash/Raff Liu Ilustrasi kilang minyak.

Pemulihan infrastruktur jadi kunci

Meski konflik dapat mereda, pemulihan sektor energi tetap menghadapi tantangan besar.

Selain membutuhkan waktu, perbaikan infrastruktur energi juga memerlukan stabilitas keamanan, investasi besar, serta pemulihan rantai pasok.

IEA menekankan bahwa kembalinya produksi tidak hanya bergantung pada berakhirnya konflik, tetapi juga pada kemampuan negara-negara produsen untuk membangun kembali fasilitas yang rusak dan memastikan keamanan distribusi.

Baca juga: Stok BBM Aman, Ketergantungan Impor Jadi Titik Rawan Energi RI

Dalam konteks ini, proyeksi pemulihan hingga dua tahun yang disampaikan IEA menjadi indikator bahwa krisis energi kali ini bersifat struktural, bukan sekadar gangguan sementara.

Tag:  #krisis #energi #timur #tengah #prediksi #pemulihan #hingga #tahun

KOMENTAR