Survei: 29 Persen Gen Z Minta Bantuan Orangtua untuk Negosiasi Gaji
Ilustrasi gaji. Ilustrasi upah minimum.(SHUTTERSTOCK/ANDREY_POPOV)
07:20
19 April 2026

Survei: 29 Persen Gen Z Minta Bantuan Orangtua untuk Negosiasi Gaji

— Bagi banyak pencari kerja, negosiasi gaji adalah salah satu tahap paling menentukan sekaligus paling menegangkan dalam memulai karier.

Namun, di kalangan Generasi Z (Gen Z), cara menghadapi momen ini mulai bergeser.

Sebagian anak muda tidak lagi sepenuhnya mengandalkan diri sendiri.

Baca juga: Berapa Idealnya Menabung dan Investasi dari Gaji? Ini Rekomendasinya

Ilustrasi gaji. Pemerintah menanggung PPh Pasal 21 bagi pekerja bergaji hingga Rp 10 juta per bulan sepanjang 2026. Insentif ini berlaku untuk pegawai di lima sektor usaha tertentu dengan sejumlah syarat.FREEPIK/JCOMP Ilustrasi gaji. Pemerintah menanggung PPh Pasal 21 bagi pekerja bergaji hingga Rp 10 juta per bulan sepanjang 2026. Insentif ini berlaku untuk pegawai di lima sektor usaha tertentu dengan sejumlah syarat.

Mereka melibatkan orangtua, mulai dari meminta saran hingga, dalam beberapa kasus, meminta orangtua berbicara langsung dengan perusahaan.

Fenomena ini tergambar dalam survei platform karier Zety yang menunjukkan 29 persen Gen Z melibatkan orangtua dalam negosiasi gaji pertama mereka.

Angka ini memberi sinyal bahwa proses masuk dunia kerja kini tidak selalu berjalan secara individual, melainkan kerap menjadi bagian dari dukungan keluarga.

Negosiasi gaji yang menentukan arah karier

Negosiasi gaji sering kali dipandang sebagai langkah kecil di awal karier. Namun, dampaknya bisa bertahan dalam jangka panjang.

Baca juga: Kabar Baik untuk Pekerja! PPh 21 Ditanggung Pemerintah, Gaji Bersih Lebih Besar

Dikutip dari Investopedia, Minggu (19/4/2026), data survei Zety menunjukkan, tidak menegosiasikan gaji awal dapat mengurangi potensi pendapatan hingga 1 juta dollar AS hingga 1,5 juta dollar AS sepanjang karier.

Angka ini setara sekitar Rp Rp 17,14 miliar hingga Rp 25,71 miliar (asumsi kurs Rp 17.140 per dollar AS).

Hal ini terjadi karena gaji pertama menjadi dasar bagi kenaikan gaji berikutnya, bonus, hingga perhitungan manfaat jangka panjang.

Meski demikian, praktik negosiasi gaji masih belum menjadi kebiasaan.

Baca juga: Gaji Ke-13 ASN: Hak Wajar di Tengah Fiskal Ketat

Ilustrasi Gen Z iStock Ilustrasi Gen Z

Lebih dari setengah pekerja tidak mencoba menegosiasikan gaji pertama mereka, padahal 78 persen dari mereka yang bernegosiasi berhasil mendapatkan penawaran yang lebih baik.

Di titik inilah peran orangtua mulai terlihat.

Dari sekadar saran hingga terlibat langsung

Survei Zety menunjukkan bahwa keterlibatan orangtua hadir dalam berbagai bentuk.

Sebanyak 18 persen responden meminta nasihat orangtua terkait negosiasi gaji, sementara sekitar 10 persen meminta orangtua berbicara langsung dengan pemberi kerja.

Baca juga: Di Balik Fenomena Resign Pasca-THR, Ternyata Bukan Gaji Penyebabnya

Artinya, bagi sebagian Gen Z, orangtua tidak hanya menjadi tempat bertanya, tetapi juga menjadi representasi dalam komunikasi profesional.

Keterlibatan ini juga meluas ke aspek lain dalam proses mencari kerja.

Sebanyak 44 persen responden meminta bantuan orangtua untuk menyusun atau mengedit CV, dan 21 persen melibatkan mereka dalam komunikasi dengan calon pemberi kerja.

Rangkaian data ini menunjukkan, bagi sebagian Gen Z, memasuki dunia kerja bukan sepenuhnya perjalanan individu, melainkan proses yang dijalani bersama keluarga.

Baca juga: Mengenal Metode 70/20/10 untuk Kelola Gaji dengan Efektif

Mengapa orangtua jadi tumpuan?

Salah satu penjelasan utama terletak pada keterbatasan pengalaman dan pelatihan.

Pakar karier Jasmine Escalera dalam laporan tersebut menyebut, banyak Gen Z tidak mendapatkan pembekalan formal terkait negosiasi dan advokasi diri.

Ketika dihadapkan pada situasi yang krusial seperti negosiasi gaji, mereka cenderung mencari sumber bantuan yang paling dekat dan terpercaya, yakni orangtua.

"Sebagian besar memasuki dunia kerja tanpa pendidikan formal tentang kompensasi, tunjangan, atau cara membela diri, yang membuat negosiasi terasa tidak nyaman dan asing," katanya.

Ilustrasi Gen ZFREEPIK/FREEPIK Ilustrasi Gen Z

Baca juga: Pemotongan Gaji Pejabat: Serius atau Sekadar Gimik?

"Ketika Anda belum pernah diajari cara menavigasi percakapan tersebut, wajar untuk mengandalkan seseorang yang memiliki lebih banyak pengalaman atau kepercayaan diri," imbuh dia.

Faktor ekonomi juga memperkuat kecenderungan ini.

Laporan yang sama mencatat bahwa hampir setengah Gen Z dewasa masih menerima dukungan finansial dari orangtua, termasuk untuk kebutuhan dasar seperti tempat tinggal dan konsumsi.

Ketergantungan finansial ini secara tidak langsung membuat orangtua tetap terlibat dalam berbagai keputusan penting, termasuk dalam menentukan besaran gaji awal.

Baca juga: Taktik Purbaya Hadapi Risiko Perang Timur Tengah: Gaji Menteri Siap Dipotong hingga MBG

Dilema: dibantu atau dinilai belum siap?

Di satu sisi, dukungan orangtua dapat membantu Gen Z menghadapi situasi yang belum familiar.

Dengan pengalaman yang lebih panjang, orangtua bisa memberikan perspektif, strategi, hingga keberanian dalam mengambil keputusan.

Namun, di sisi lain, keterlibatan langsung dalam komunikasi profesional menyimpan risiko.

Negosiasi gaji merupakan bagian dari kemampuan dasar yang diharapkan dimiliki oleh pekerja.

Baca juga: Nisab Zakat Penghasilan 2026 Naik, Mulai Gaji Berapa Wajib Bayar?

Ketika proses ini diambil alih oleh orangtua, muncul potensi persepsi bahwa kandidat belum siap menghadapi dunia kerja secara mandiri.

Menariknya, survei Zety juga menangkap adanya kegamangan di kalangan Gen Z.

Lebih dari setengah responden mengaku akan merasa malu jika orangtua mereka menghubungi pemberi kerja tanpa sepengetahuan mereka.

Artinya, meski membutuhkan dukungan, banyak Gen Z tetap menyadari batasan profesional yang seharusnya dijaga.

Ilustrasi gaji, penghasilan, kenaikan gaji.SHUTTERSTOCK/JIRSAK Ilustrasi gaji, penghasilan, kenaikan gaji.

Baca juga: Kisah Pejuang KPR, Bekal Gaji UMR Ajukan Kredit Rumah BTN hingga Bisa Lunasi 14 Tahun Lebih Cepat

Tekanan ekonomi di awal karier

Fenomena ini tidak bisa dilepaskan dari kondisi ekonomi yang dihadapi generasi muda saat ini.

Memulai karier dengan gaji relatif rendah, di tengah biaya hidup yang tinggi dan beban finansial yang tidak ringan, membuat negosiasi gaji menjadi semakin penting sekaligus menantang.

Dalam situasi tersebut, melibatkan orangtua bisa dipahami sebagai upaya untuk meminimalkan kesalahan dalam mengambil keputusan awal yang berdampak jangka panjang.

Di sisi lain, kondisi ini juga mencerminkan bahwa transisi menuju kemandirian finansial bagi Gen Z cenderung lebih lambat dibanding generasi sebelumnya.

Baca juga: Bukan Soal Gaji Besar: Strategi Kaya ala Robert Kiyosaki untuk Gen Z

Lebih dari sekadar tren

Keterlibatan orangtua dalam negosiasi gaji bukanlah fenomena yang berdiri sendiri. Ia menjadi bagian dari pola yang lebih luas, di mana keluarga tetap memainkan peran signifikan dalam kehidupan finansial dan profesional generasi muda.

Mulai dari penyusunan CV hingga komunikasi dengan perekrut, dukungan orangtua hadir di berbagai tahap awal karier.

Pada saat yang sama, hal ini juga menunjukkan adanya celah dalam pembekalan keterampilan praktis, khususnya dalam hal negosiasi dan komunikasi profesional.

Belajar dari proses

Negosiasi pada dasarnya adalah keterampilan yang berkembang melalui pengalaman.

Baca juga: Gen Z Sulit Gapai Financial Freedom, Penyebabnya Ternyata Gaji

Ketika seseorang tidak terbiasa melakukannya, rasa tidak percaya diri menjadi hal yang wajar.

Namun, pengalaman langsung, termasuk menghadapi penolakan, dapat menjadi bagian penting dalam membangun kemampuan tersebut.

Fenomena Gen Z yang melibatkan orangtua dalam negosiasi gaji memperlihatkan dinamika antara kebutuhan akan dukungan dan proses menuju kemandirian.

Di tengah perubahan kondisi ekonomi dan sosial, cara generasi muda memulai karier pun ikut berubah, tidak lagi sepenuhnya sendiri, tetapi juga tidak sepenuhnya lepas dari peran keluarga.

Tag:  #survei #persen #minta #bantuan #orangtua #untuk #negosiasi #gaji

KOMENTAR