Career FOMO, Tren yang Mengubah Cara Gen Z Memilih Karier
Ilustrasi karyawan.(Freepik/tirachardz)
12:40
20 April 2026

Career FOMO, Tren yang Mengubah Cara Gen Z Memilih Karier

- Perkembangan media sosial tidak hanya mengubah cara generasi muda berinteraksi, tetapi juga memengaruhi cara mereka memandang karier.

Platform yang sebelumnya didominasi unggahan kehidupan personal kini dipenuhi pencapaian profesional, mulai dari promosi jabatan, sertifikasi, hingga pencapaian proyek.

Pergeseran ini melahirkan fenomena baru yang dikenal sebagai career FOMO (fear of missing out dalam karier), yang banyak dialami Gen Z.

Baca juga: Survei: 29 Persen Gen Z Minta Bantuan Orangtua untuk Negosiasi Gaji

Ilustrasi karyawan. FREEPIK/TIRACHARDZ Ilustrasi karyawan.

Fenomena ini menjadi perhatian karena berdampak langsung pada pola pikir, keputusan karier, hingga kesehatan mental generasi muda yang sedang memasuki dunia kerja.

Apa itu career FOMO?

Career FOMO merujuk pada kecemasan yang muncul ketika seseorang merasa tertinggal dalam perjalanan kariernya dibandingkan orang lain.

Dalam laporan India Today, dikutip pada Senin (20/4/2026), fenomena ini dijelaskan sebagai ketakutan tertinggal dalam perjalanan profesional, yang muncul akibat paparan terus-menerus terhadap pencapaian orang lain di media sosial.

Media sosial, yang awalnya menjadi ruang untuk berbagi kehidupan pribadi, kini telah berkembang menjadi panggung profesional.

Baca juga: Tren Liburan Lintas Generasi, Gen Z Utamakan Berburu Kuliner dan Tempat Ramah Lingkungan

Linimasa dipenuhi pengumuman pekerjaan baru, pencapaian akademik, hingga penghargaan karier.

Kondisi ini membuat keberhasilan tidak hanya diraih, tetapi juga terus dipamerkan.

Akibatnya, banyak individu, terutama Gen Z, mengalami tekanan untuk terus “mengejar” standar yang terlihat di layar mereka.

Ilustrasi Gen Z iStock Ilustrasi Gen Z

Career FOMO, menurut laporan tersebut, merupakan respons psikologis dari kebiasaan melihat pencapaian orang lain secara berulang.

Baca juga: Studi PwC: Gen Z Tekan Belanja, Tapi Tuntut Nilai Lebih

Dampaknya bukan sekadar perasaan iri, tetapi juga memicu perbandingan diri, keraguan, dan dorongan untuk terus mengejar sesuatu tanpa arah yang jelas.

Media sosial sebagai pemicu utama

Paparan konstan terhadap informasi di media sosial menjadi faktor utama yang memperkuat fenomena ini.

Gen Z merupakan generasi yang tumbuh bersama teknologi digital, sehingga interaksi mereka dengan media sosial jauh lebih intens dibanding generasi sebelumnya.

Dalam konteks ini, media sosial tidak lagi sekadar alat komunikasi, tetapi juga ruang validasi diri.

Baca juga: Gen Z Prioritaskan Self-Reward, Konsep Kemewahan Bergeser ke Belanja Kecil

Setiap pencapaian yang dipublikasikan orang lain secara tidak langsung menciptakan standar sosial baru.

Penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media sosial memiliki keterkaitan kuat dengan meningkatnya FOMO, kecenderungan membandingkan diri, serta kecemasan yang lebih tinggi.

Tekanan ini semakin kuat karena algoritma media sosial cenderung menampilkan konten yang relevan dan menarik, termasuk pencapaian karier, sehingga pengguna terus terpapar pada “versi terbaik” kehidupan orang lain.

Dalam situasi seperti ini, muncul pertanyaan yang sering menghantui: “Apakah saya sudah cukup?

Baca juga: Survei: Karier Fleksibel dan Keseimbangan Hidup Jadi Prioritas Gen Z

Dampak terhadap keputusan karier

Career FOMO tidak berhenti pada perasaan cemas. Fenomena ini juga memengaruhi cara Gen Z mengambil keputusan terkait pekerjaan dan pengembangan diri.

Career FOMO sering kali memicu keputusan impulsif, seperti sering berpindah pekerjaan (job hopping), bekerja berlebihan, atau mengikuti berbagai pelatihan tanpa arah yang jelas.

Ilustrasi Gen Z. Perbedaan cara berkomunikasi hingga penggunaan media sosial membuat sejumlah kebiasaan Gen Z dinilai membingungkan hingga memicu stres bagi generasi milenial.FREEPIK/FREEPIK Ilustrasi Gen Z. Perbedaan cara berkomunikasi hingga penggunaan media sosial membuat sejumlah kebiasaan Gen Z dinilai membingungkan hingga memicu stres bagi generasi milenial.

Dorongan untuk “tidak tertinggal” membuat individu cenderung mengejar banyak hal sekaligus, tanpa mempertimbangkan kesesuaian dengan tujuan jangka panjang.

Dalam konteks perencanaan karier, fenomena FOMO juga terbukti berpengaruh terhadap pilihan studi dan profesi.

Baca juga: WEF Ungkap Tren Investasi Gen Z, Lebih Cepat dan Lebih Berani Risiko

Studi yang dipublikasikan di Contemporary Pediatric Dentistry menunjukkan, FOMO dapat memengaruhi proses pengambilan keputusan karier, terutama ketika dipengaruhi oleh kompetisi dan tekanan sosial.

Akibatnya, arah karier menjadi kurang terstruktur dan lebih reaktif terhadap tren dibandingkan kebutuhan atau minat pribadi.

Kecemasan dan tekanan psikologis

Career FOMO juga berkaitan erat dengan kesehatan mental. Gen Z diketahui mengalami tingkat kecemasan yang lebih tinggi dibanding generasi sebelumnya, salah satunya akibat tekanan sosial dan digital.

Paparan terus-menerus terhadap pencapaian orang lain menciptakan siklus perbandingan yang sulit dihentikan.

Baca juga: Gen Z dan Milenial Hadapi Tekanan Finansial, Perencanaan Jadi Kunci

Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menurunkan kepercayaan diri dan meningkatkan stres.

Penelitian lain menegaskan, FOMO berdampak pada kesejahteraan Gen Z, terutama karena keterikatan mereka yang tinggi terhadap lingkungan digital dan media sosial.

Selain itu, tekanan ini tidak berdiri sendiri. Gen Z juga menghadapi tantangan lain seperti ketidakpastian ekonomi, perubahan pasar kerja, hingga disrupsi teknologi.

Kombinasi faktor ini memperkuat rasa tidak aman dalam perjalanan karier mereka.

Baca juga: 35 Miliarder Termuda Dunia 2026 Didominasi Gen Z, Mayoritas Pewaris Bisnis Keluarga

Ilustrasi karyawan.Freepik/our-time Ilustrasi karyawan.

Perubahan makna sukses bagi Gen Z

Fenomena career FOMO juga mencerminkan perubahan cara pandang terhadap kesuksesan.

Jika sebelumnya kesuksesan sering diukur dari stabilitas pekerjaan atau kenaikan jabatan, kini indikator tersebut semakin beragam.

Paparan media sosial memperluas definisi sukses, mulai dari memiliki banyak sertifikasi, bekerja di perusahaan ternama, hingga memiliki side hustle yang berkembang.

Namun, karena standar ini terus berubah dan berbeda-beda, banyak individu merasa sulit untuk menentukan tolok ukur yang jelas.

Baca juga: Gen Z Segmen Potensial, Prudential Syariah Perluas Edukasi Keuangan

Di sisi lain, akses informasi yang luas membuat Gen Z memiliki lebih banyak pilihan karier dibanding generasi sebelumnya.

Namun, banyaknya pilihan ini justru dapat menimbulkan kebingungan.

Sebagaimana tercermin dalam berbagai diskusi tentang Gen Z, pertanyaan seperti “bidang apa yang harus dipilih?” atau “apakah saya sudah terlambat?” menjadi dilema umum yang dihadapi generasi ini.

Lingkaran tanpa akhir: membandingkan dan mengejar

Career FOMO menciptakan siklus yang berulang. Ketika seseorang melihat pencapaian orang lain, ia terdorong untuk mengejar hal serupa.

Baca juga: Pakar Ungkap, Gen Z dan Milenial Mudah Burnout karena Kehilangan Harapan

Setelah mencapainya, ia kembali melihat pencapaian lain yang lebih tinggi, sehingga muncul rasa tertinggal lagi.

Siklus ini diperkuat oleh sifat media sosial yang terus memperbarui informasi secara real-time. Setiap hari, selalu ada pencapaian baru yang muncul di linimasa.

Dalam kondisi ini, pencapaian pribadi sering kali terasa kurang signifikan karena selalu dibandingkan dengan pencapaian orang lain.

Fenomena ini menunjukkan bahwa tekanan karier tidak lagi hanya berasal dari lingkungan kerja atau keluarga, tetapi juga dari ruang digital yang tidak memiliki batas.

Baca juga: Gen Z, Siapkah Hadapi Peluang Karier dan Investasi di Tahun Kuda Api 2026?

Ilustrasi mahasiswa. Freepik/drobotdean Ilustrasi mahasiswa.

Tantangan bagi dunia kerja dan pendidikan

Career FOMO tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga menjadi tantangan bagi dunia kerja dan pendidikan.

Perusahaan, misalnya, menghadapi generasi pekerja yang lebih dinamis namun juga lebih rentan terhadap ketidakpuasan.

Sementara itu, institusi pendidikan perlu menghadapi mahasiswa yang semakin terdorong untuk mengejar berbagai pencapaian sekaligus.

Di sisi lain, perubahan ini juga mendorong munculnya kebutuhan akan pendekatan baru dalam pengembangan karier, yang tidak hanya berfokus pada keterampilan teknis, tetapi juga pada kesiapan mental dan kemampuan mengelola ekspektasi.

Baca juga: Gen Z dan Tantangan Awal Karier: Lowongan Turun, Persaingan Naik

Career FOMO menjadi salah satu fenomena yang menggambarkan bagaimana transformasi digital memengaruhi dinamika karier generasi muda.

Paparan media sosial yang intens, banyaknya pilihan karier, serta tekanan sosial yang terus meningkat membentuk cara Gen Z melihat dan menjalani perjalanan profesional mereka.

Fenomena ini tidak hanya menghadirkan peluang, tetapi juga tantangan baru yang perlu dipahami dalam konteks perubahan dunia kerja yang semakin kompleks.

Tag:  #career #fomo #tren #yang #mengubah #cara #memilih #karier

KOMENTAR