Negara-negara BRICS Borong Emas, Strategi Lepas dari Dollar AS?
Presiden Prabowo Subianto berfoto bersama para pemimpin negara anggota BRICS sebelum dimulainya KTT BRICS ke-17 di Modern Museum of Arts, Rio de Janeiro, Brasil, Minggu (6/7/2025).(WIKIMEDIA COMMONS/PRIME MINISTER'S OFFICE)
10:48
21 April 2026

Negara-negara BRICS Borong Emas, Strategi Lepas dari Dollar AS?

Negara-negara yang tergabung dalam BRICS semakin agresif menambah cadangan emas dalam beberapa tahun terakhir.

Fenomena ini tidak hanya mencerminkan lonjakan permintaan terhadap logam mulia, tetapi juga perubahan strategi besar dalam pengelolaan cadangan devisa global.

Tren ini terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik, pelemahan dominasi dollar AS, serta perubahan cara bank sentral memandang aset cadangan yang aman dan netral.

Baca juga: Harga Emas Antam Hari Ini 21 April Naik Rp 40.000 per Gram, Cek Daftar Terbarunya

Ilustrasi emas. Freepik Ilustrasi emas.

BRICS kuasai porsi besar cadangan emas dunia

World Gold Council dalam laporannya, dikutip pada Selasa (21/4/2026), negara-negara BRICS kini memegang lebih dari 6.000 ton emas, atau sekitar 17,4 persen dari total cadangan emas bank sentral global.

Angka ini meningkat signifikan dibandingkan sekitar 11,2 persen pada 2019.

Rusia menjadi pemilik terbesar dalam blok ini dengan sekitar 2.336 ton, diikuti China sekitar 2.298 ton dan India sekitar 880 ton.

Kenaikan kepemilikan emas tersebut sejalan dengan tren global. Dalam beberapa tahun terakhir, pembelian emas oleh bank sentral secara konsisten berada di atas 1.000 ton per tahun, melonjak tajam dibandingkan rata-rata 400 sampai 500 ton pada dekade sebelumnya.

Baca juga: Harga Emas Dunia Turun 0,4 Persen ke Level Terendah Sepekan, Ditekan Dollar AS dan Lonjakan Minyak

BRICS bahkan menyumbang lebih dari separuh pembelian emas bank sentral global dalam periode 2020–2024, menegaskan peran dominan kelompok ini dalam mendorong permintaan.

Bank sentral tetap agresif tambah emas

Ilustrasi emas, emas batangan. Penyebab harga emas naik-turun. Harga emas.FREEPIK/RAWPIXEL.COM Ilustrasi emas, emas batangan. Penyebab harga emas naik-turun. Harga emas.

Data dari World Gold Council menunjukkan bank sentral masih mempertahankan tren pembelian emas pada awal 2026.

Sepanjang 2025, bank sentral tercatat menambah sekitar 328 ton emas secara bersih. Sementara itu, memasuki 2026, pembelian tetap berlanjut meskipun dengan tempo yang lebih moderat, dengan tambahan sekitar 5 ton pada Januari.

Meski sempat melambat, World Gold Council menilai permintaan tetap memiliki basis yang kuat. Ketegangan geopolitik yang belum mereda kemungkinan akan menjaga akumulasi tetap berlangsung sepanjang 2026 dan seterusnya.

Baca juga: ETF Emas: Jembatan Investasi Baru, Perluas Pasar, dan Perkuat Industri Keuangan

Survei World Gold Council juga menunjukkan optimisme tinggi di kalangan bank sentral.

Sebanyak 95 persen responden memperkirakan cadangan emas global akan meningkat dalam 12 bulan ke depan, sementara 43 persen bank sentral berencana menambah kepemilikan emas mereka, angka tertinggi dalam sejarah survei tersebut.

Dedollarisasi jadi faktor utama

Salah satu faktor utama di balik lonjakan pembelian emas adalah upaya mengurangi ketergantungan terhadap dollar AS.

Porsi dolar dalam cadangan devisa global terus menurun dalam beberapa dekade terakhir. Negara-negara BRICS tidak sepenuhnya menggantinya dengan mata uang lain, tetapi memilih emas sebagai alternatif utama.

Baca juga: Fenomena Antrean Emas: Harga Turun Jadi Momentum Beli

Emas dinilai sebagai aset yang tidak memiliki penerbit (issuer), tidak bergantung pada kebijakan negara tertentu, serta tidak terikat pada sistem keuangan global berbasis dollar AS.

Dalam laporan Kitco disebutkan pergeseran dari dollar AS ke emas “bukan lagi prediksi, tetapi tren” yang kini didukung oleh data permintaan global.

Pelajaran dari sanksi Rusia 2022

Ilustrasi emas batangan, harga emas hari ini. DOK. Shutterstock. Ilustrasi emas batangan, harga emas hari ini.

Perubahan strategi ini juga dipicu oleh peristiwa geopolitik, terutama pembekuan sekitar 300 miliar dollar AS cadangan devisa Rusia oleh negara Barat pada 2022.

Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa cadangan dalam bentuk dolar yang disimpan di luar negeri memiliki risiko pembekuan.

Baca juga: Harga Emas Dunia Anjlok 1,9 Persen, Ketegangan Selat Hormuz Picu Gejolak Pasar

Sebaliknya, emas yang disimpan secara domestik tidak memiliki risiko serupa. Cadangan emas tidak dapat dibekukan atau disita melalui sistem seperti SWIFT.

Hal ini mendorong negara-negara berkembang dan emerging markets, termasuk anggota BRICS, untuk meningkatkan kepemilikan emas sebagai perlindungan terhadap risiko geopolitik.

Lindungi cadangan dari risiko utang dan krisis

Selain faktor geopolitik, emas juga digunakan sebagai instrumen lindung nilai terhadap ketidakpastian ekonomi global.

World Gold Council menyoroti lingkungan global saat ini ditandai oleh ketidakpastian kebijakan ekonomi, valuasi aset yang tinggi, serta risiko sistemik yang meningkat.

Baca juga: Harga Emas Dunia Stabil, Pelaku Pasar Cermati Isu Perdamaian AS-Iran

Dalam kondisi tersebut, emas tetap dianggap sebagai aset safe haven yang mampu menjaga nilai di tengah tekanan inflasi, volatilitas pasar, dan risiko keuangan global.

Kenaikan harga emas dalam beberapa tahun terakhir turut memperkuat daya tariknya, dengan performa yang menjadi salah satu yang terbaik di antara kelas aset global.

Permintaan global tetap tinggi

Permintaan emas secara keseluruhan juga menunjukkan tren peningkatan signifikan. 

Pada 2025, total permintaan emas global bahkan melampaui 5.000 ton untuk pertama kalinya dalam sejarah, didorong oleh kombinasi pembelian bank sentral, investasi, serta permintaan ritel.

Baca juga: Harga Emas Dunia Naik, Perak Melonjak Lebih dari 2 Persen

Ilustrasi emas. Berapa lama investasi emas bisa untung? Berapa lama investasi emas agar bisa untung? Tips investasi emas.SHUTTERSTOCK/VLADKK Ilustrasi emas. Berapa lama investasi emas bisa untung? Berapa lama investasi emas agar bisa untung? Tips investasi emas.

Bank sentral menjadi salah satu kontributor utama, dengan porsi permintaan yang terus meningkat terhadap total produksi emas global.

Fenomena ini menciptakan tekanan struktural pada sisi pasokan, sekaligus memperkuat posisi emas dalam sistem keuangan global.

BRICS dorong perubahan sistem keuangan global

Akumulasi emas oleh negara-negara BRICS merupakan bagian dari strategi yang lebih luas untuk membangun sistem keuangan yang lebih independen dari dollar AS.

Langkah ini mencakup peningkatan penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan, pengembangan mata uang digital bank sentral, serta eksplorasi penggunaan emas dalam penyelesaian transaksi internasional.

Baca juga: Harga Emas Dunia Turun, Pelaku Pasar Cermati Arah Konflik AS-Iran dan Kebijakan The Fed

Tren tersebut mencerminkan pergeseran menuju sistem keuangan multipolar, di mana dominasi satu mata uang global mulai berkurang.

Pergeseran fundamental dalam cadangan devisa

Data dan tren yang ada menunjukkan bahwa pembelian emas oleh negara-negara BRICS dan bank sentral global bukan lagi bersifat sementara.

Dalam laporan GoldSilver disebutkan bahwa fenomena ini tentang bagaimana negara-negara besar memandang uang, risiko, dan dollar AS.

Dengan meningkatnya ketidakpastian global, emas kembali menempati posisi strategis dalam cadangan devisa, tidak hanya sebagai aset lindung nilai, tetapi juga sebagai instrumen kedaulatan finansial.

Baca juga: Transaksi Emas Digital Tembus 30,9 Juta Gram di Kuartal I 2026, Melonjak 246 Persen

Perubahan ini berlangsung secara bertahap, namun konsisten, seiring dengan meningkatnya peran negara-negara berkembang dalam menentukan arah sistem keuangan global.

Tag:  #negara #negara #brics #borong #emas #strategi #lepas #dari #dollar

KOMENTAR