Impor LPG Masih 75 Persen, DME dari Batu Bara Bisa Jadi Alternatif Pengganti
Ilustrasi batu bara.(PIXABAY/BEN SCHERJON)
22:04
4 Mei 2026

Impor LPG Masih 75 Persen, DME dari Batu Bara Bisa Jadi Alternatif Pengganti

- Hilirisasi batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME) dinilai sebagai alternatif yang tepat untuk menekan impor liquefied petroleum gas (elpiji). Sebab, didukung oleh ketersediaan bahan baku yang melimpah serta infrastruktur yang memadai.

Pengamat Energi Iwa Gurniwa mengatakan, saat ini sekitar 75 persen kebutuhan elpiji nasional masih bergantung pada impor.

Volume impor elpiji bahkan mencapai 8,3 juta ton per tahun dengan nilai sekitar 4,2 miliar dollar AS pada 2025.

Menurut dia, kondisi tersebut tidak hanya membebani neraca perdagangan, tetapi juga meningkatkan risiko terhadap fluktuasi harga energi global serta tekanan subsidi yang mencapai Rp 80 triliun-Rp 90 triliun per tahun.

Baca juga: CNG Tabung 3 Kg Disiapkan Gantikan LPG, Bahlil: Lebih Murah 30–40 Persen

"Diversifikasi sumber energi domestik bukan lagi pilihan, melainkan keharusan strategis untuk menjaga ketahanan energi nasional," ujar Iwa dalam keterangannya, Senin (4/5/2026).

Ia menjelaskan, pemerintah saat ini memiliki tiga opsi utama untuk mengurangi ketergantungan elpiji, yakni jaringan gas kota (jargas), kompor listrik, dan DME berbasis batu bara.

Namun, dibanding dua opsi lainnya, DME dinilai paling siap diterapkan karena dapat memanfaatkan infrastruktur elpiji yang sudah ada.

Selain itu, Indonesia juga memiliki cadangan batubara peringkat rendah yang melimpah sebagai bahan baku.

"DME memungkinkan substitusi elpiji secara cepat tanpa perubahan besar di tingkat rumah tangga. Ini keunggulan yang tidak dimiliki opsi lain," kata dia.

Pemerintah pun telah meresmikan pengembangan proyek fasilitas produksi batu bara menjadi DME di Tanjung Enim.

Pabrik ini dirancang memiliki kapasitas produksi 1,4 juta ton per tahun atau setara sekitar 1 juta ton elpiji.

Produk DME nantinya akan diserap oleh Pertamina melalui Pertamina Patra Niaga.

Fasilitas tersebut akan memanfaatkan batu bara kalori rendah yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal, meski ketersediaannya di Indonesia cukup melimpah.

Lebih lanjut, Iwa menilai, pendekatan yang paling tepat untuk mengurangi impor elpiji adalah strategi diversifikasi energi berbasis wilayah.

Menurut dia, jargas cocok untuk kota besar dengan kepadatan tinggi, kompor listrik untuk daerah dengan surplus listrik, sementara DME dapat dikembangkan di wilayah penghasil batu bara atau kawasan yang belum terjangkau jaringan pipa gas.

Ia memperkirakan, apabila ketiga opsi tersebut dijalankan secara paralel, potensi substitusi elpiji dapat mencapai 4,5 juta hingga 6,5 juta ton atau sekitar 55-75 persen dari total impor elpiji saat ini.

"Tidak ada silver bullet. Yang dibutuhkan adalah portofolio kebijakan yang adaptif sesuai karakteristik wilayah," pungkas Iwa.

Baca juga: Maju Mundur LPG Diganti DME

Tag:  #impor #masih #persen #dari #batu #bara #bisa #jadi #alternatif #pengganti

KOMENTAR