Target Harga BBRI saat Sahamnya Lagi 'Diskon'
Di tengah tekanan yang melanda Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), harga saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) terpantau mengalami koreksi yang cukup signifikan.
Berdasarkan data perdagangan pada Selasa (28/4/2026) pada sesi I, saham emiten perbankan plat merah ini menyentuh level Rp3.030, angka yang tercatat sebagai posisi terendah sepanjang tahun berjalan (year-to-date).
Meski harga pasar sedang merosot, para pelaku pasar dan analis profesional justru melihat kondisi ini sebagai peluang investasi yang menarik.
Berdasarkan data konsensus analis dari Bloomberg bulan April ini, sebanyak 82,9% (29 analis) merekomendasikan "Buy" atau beli untuk saham BBRI. Sementara itu, 11,1% analis menyarankan posisi "Hold", dan hanya 5,7% yang menyarankan untuk menjual.
Keyakinan analis tercermin dari target harga rata-rata (12-month target price) BBRI yang dipatok pada level Rp4.377,95 per saham.
Secara spesifik, Maybank Sekuritas menetapkan target harga di angka Rp4.300. Proyeksi ini didasarkan pada estimasi valuasi P/BV tahun 2026 sebesar 1,5 kali dan P/E sebesar 8,5 kali.
Dari sisi kinerja, Maybank menyoroti pertumbuhan laba bersih bank only BBRI pada periode Januari-Februari 2026 yang menembus Rp7,7 triliun, atau tumbuh 17% secara tahunan (YoY).
Sementara dalam riset yang disusun oleh Jeffrosenberg Chenlim dan Faiq Asad, kenaikan laba BBRI pada awal tahun ini dinilai lebih banyak dipicu oleh efisiensi pencadangan yang turun 15,8% YoY, sementara pendapatan bunga bersih tumbuh tipis 4,8%.
Berikut adalah poin-poin utama kinerja operasional BBRI awal 2026:
- Penyaluran Kredit: Tumbuh 10,5% YoY mencapai Rp1.346 triliun, meski sedikit melandai dibanding bulan sebelumnya. Pertumbuhan diperkirakan akan didorong oleh segmen non-mikro.
- Likuiditas: Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 9,3% YoY menjadi Rp1.509 triliun dengan Loan-to-Deposit Ratio (LDR) yang sehat di level 89,2%.
- Efisiensi Dana: Rasio CASA tetap kokoh di level 67,4%, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Meskipun BBRI tetap menjadi salah satu bank paling menguntungkan di Asia Tenggara dengan rata-rata RoE 20%, BBRI tetap memiliki risiko karena besarnya porsi kredit mikro. Selain itu Tekanan margin bunga bersih (NIM) juga kemungkinan berlanjut akibat pemangkasan suku bunga BI.
Disclaimer: Investasi saham memiliki risiko fluktuasi harga pasar. Artikel ini bertujuan untuk memberikan informasi berdasarkan data analis dan bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Seluruh keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan investor.