Investor Wall Street Tunggu Data Inflasi dan Pertemuan Trump-Xi Jinping
Ilustrasi Wall Street.()
04:28
11 Mei 2026

Investor Wall Street Tunggu Data Inflasi dan Pertemuan Trump-Xi Jinping

- Pasar saham Amerika Serikat diperkirakan bergerak dipengaruhi sejumlah sentimen penting pekan depan.

Investor akan mencermati data inflasi dan belanja konsumen AS, perkembangan perang Iran, hingga pertemuan Presiden AS Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping di Beijing.

Pasar saham AS saat ini masih berada dalam tren penguatan.

Indeks S&P 500 tercatat naik lebih dari 16 persen dari titik terendah tahun ini yang terjadi pada akhir Maret 2026.

Penguatan tersebut ditopang musim laporan keuangan perusahaan yang menjadi salah satu yang terbaik dalam lebih dari empat tahun terakhir.

Kekhawatiran investor terhadap dampak ekonomi dari perang Iran juga mulai mereda.

Kondisi itu mendorong investor kembali masuk ke pasar saham karena takut tertinggal momentum kenaikan harga.

"Kita telah melihat pemulihan yang luar biasa ini karena pasar telah bertekad untuk fokus hanya pada hal-hal positif," kata Kepala Strategi Pasar Man Group Kristina Hooper.

Baca juga: Riset 100 Tahun: Hanya Segelintir Saham yang Gerakkan Wall Street

Perang Iran dan Selat Hormuz masih jadi fokus

Perhatian investor saat ini tertuju pada perkembangan konflik di Timur Tengah.

Wall Street berharap muncul tanda-tanda penyelesaian perang yang dimulai pada akhir Februari 2026 setelah serangan AS dan Israel terhadap Iran.

Investor juga menanti pembukaan kembali Selat Hormuz yang menjadi jalur penting distribusi minyak dunia.

Harga energi melonjak sejak perang pecah. Harga minyak mentah AS bahkan naik lebih dari 60 persen sepanjang tahun ini.

"Kemajuan berkelanjutan menuju penyelesaian perang AS-Iran akan menjadi perhatian utama para investor," kata Kepala Strategi Investasi State Street Investment Management Michael Arone.

"Anda perlu mulai melihat pergerakan kapal di Selat Hormuz," lanjut dia.

Isu perang Iran juga diperkirakan menjadi salah satu topik pembahasan dalam pertemuan Trump dan Xi Jinping di Beijing akhir pekan depan.

Pasar akan memantau arah hubungan AS dan China, terutama terkait akses logam tanah jarang, teknologi, dan isu perdagangan lainnya.

Baca juga: Wall Street Reli 6 Pekan Beruntun, Pasar Abaikan Ketegangan Timur Tengah

Laporan keuangan masih menopang pasar

Reli pasar saham AS sepanjang tahun ini juga ditopang kinerja emiten teknologi.

Hingga Jumat, indeks S&P 500 naik sekitar 8 persen sepanjang 2026, sedangkan Nasdaq Composite yang didominasi saham teknologi menguat hampir 13 persen.

Kedua indeks bahkan sempat mencetak rekor tertinggi baru.

Meski musim laporan keuangan kuartal I 2026 segera berakhir, laporan kinerja perusahaan masih menjadi perhatian investor dalam beberapa hari ke depan.

Sejumlah perusahaan yang akan merilis laporan keuangan pekan depan antara lain Cisco dan produsen peralatan semikonduktor Applied Materials.

Sementara Nvidia dan Walmart dijadwalkan melaporkan kinerjanya pada akhir bulan ini.

Data LSEG IBES hingga Jumat memperkirakan laba perusahaan anggota S&P 500 melonjak 28,6 persen pada kuartal ini.

Belanja besar perusahaan untuk pengembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) ikut mendongkrak pendapatan sejumlah sektor.

Perusahaan teknologi besar saat ini agresif membangun pusat data dan infrastruktur AI.

Arone menilai kekhawatiran terhadap dampak tarif maupun lonjakan harga minyak terhadap margin keuntungan perusahaan belum terlihat signifikan.

"Hasilnya menunjukkan bahwa semua kekhawatiran bahwa tarif atau guncangan harga minyak ini akan mengurangi margin belum terwujud sejauh ini," kata Arone.

"Pendapatan adalah sumber kehidupan reli ini," lanjut dia.

Data inflasi AS jadi penentu berikutnya

Investor juga menunggu data ekonomi AS April 2026, terutama inflasi, untuk melihat dampak perang Iran terhadap perekonomian.

Data indeks harga konsumen atau Consumer Price Index (CPI) AS akan dirilis Selasa pekan depan.

Survei Reuters memperkirakan inflasi bulanan naik 0,6 persen.

Sebagai perbandingan, CPI pada Maret 2026 tercatat naik 0,9 persen, tertinggi dalam hampir empat tahun akibat lonjakan harga bensin.

Pelaku pasar akan memberi perhatian khusus pada inflasi inti atau core CPI, yakni inflasi di luar komponen energi dan pangan.

Data tersebut dianggap memberi gambaran lebih jelas terkait arah suku bunga bank sentral AS atau Federal Reserve.

Lonjakan harga energi akibat perang membuat pasar mulai mengurangi ekspektasi pemangkasan suku bunga tahun ini.

"Jika CPI inti jauh lebih tinggi, saya pikir itu akan sangat bermasalah," kata Hooper.

Selain data inflasi konsumen, pasar juga menunggu data harga produsen pada Rabu serta data penjualan ritel bulanan pada Kamis.

Investor ingin melihat seberapa besar kenaikan harga bensin dan energi mulai menekan belanja masyarakat AS.

Harga rata-rata bensin nasional di AS pekan ini bahkan menembus lebih dari 4,50 dollar AS per galon atau sekitar Rp 78.196 per galon, dengan kurs Rp 17.377 per dollar AS.

Level tersebut menjadi yang tertinggi sejak Juli 2022.

"Meskipun harga minyak sedikit berfluktuasi dan turun dari titik tertinggi, harga bensin di seluruh AS terus meningkat," kata Co-Chief Investment Officer dan Direktur Riset Manajemen Investasi D.A. Davidson James Ragan.

"Kami belum merasakan dampak positifnya. Saya rasa belum banyak bukti yang menunjukkan bahwa hal itu merugikan pengeluaran konsumen, tetapi ini jelas merupakan pos anggaran yang lebih besar," lanjut dia.

Tag:  #investor #wall #street #tunggu #data #inflasi #pertemuan #trump #jinping

KOMENTAR