BI: Pendapatan Rumah Tangga Masih Kuat, Cicilan Mulai Menurun
- Keyakinan masyarakat terhadap kondisi ekonomi masih tetap terjaga pada April 2026.
Di tengah perlambatan sejumlah indikator konsumsi dalam beberapa bulan terakhir, masyarakat masih memandang kondisi pendapatan dan ekonomi rumah tangga berada dalam zona optimistis.
Hal itu tercermin dalam hasil Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) April 2026 yang menunjukkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) berada di level 123,0 atau meningkat tipis dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 122,9.
Baca juga: Akses Pembiayaan Jadi Kunci UMKM Lebih Tahan Tekanan Ekonomi, Pendapatan Naik hingga 63 Persen
Ilustrasi optimisme konsumen meningkat
Indeks di atas 100 menandakan konsumen masih berada dalam fase optimistis terhadap kondisi ekonomi.
Kondisi tersebut ditopang oleh persepsi masyarakat terhadap kondisi ekonomi saat ini yang membaik.
Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) pada April 2026 tercatat sebesar 116,5, meningkat dibandingkan Maret 2026 yang sebesar 115,4.
Sementara itu, Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) tetap berada di level optimistis sebesar 129,6 meski sedikit turun dari bulan sebelumnya sebesar 130,4.
Baca juga: Setelah Turun 2 Bulan, Indeks Keyakinan Konsumen Berbalik Naik Tipis
“Terjaganya keyakinan konsumen pada April 2026 terutama ditopang oleh peningkatan Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) yang tercatat sebesar 116,5, lebih tinggi dibandingkan dengan indeks bulan sebelumnya sebesar 115,4,” tulis bank sentral dalam laporannya.
Salah satu indikator yang menjadi perhatian dalam survei tersebut adalah persepsi masyarakat terhadap pendapatan saat ini.
BI mencatat Indeks Penghasilan Saat Ini (IPSI) masih berada di level optimistis sebesar 128,1 meskipun turun dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 129,2.
Ilustrasi penghasilan dari hasil bisnis sampingan.
Data ini menunjukkan masyarakat masih memandang pendapatan rumah tangga berada dalam kondisi cukup baik, walaupun terdapat sedikit pelemahan dibandingkan periode sebelumnya.
Baca juga: Mendag: Konsumen Cerdas Bisa Tekan Laju Produk Impor
Kelompok pendapatan tinggi paling optimistis
Berdasarkan kelompok pengeluaran, optimisme terhadap penghasilan saat ini paling tinggi tercatat pada kelompok masyarakat dengan pengeluaran di atas Rp 5 juta per bulan. Indeks penghasilan kelompok ini mencapai 138,4.
Sementara itu, dari sisi usia, kelompok responden berusia 20 sampai 30 tahun mencatat indeks penghasilan tertinggi meskipun sedikit menurun menjadi 137,6.
Temuan tersebut menunjukkan kelompok usia produktif muda masih memiliki tingkat keyakinan yang relatif tinggi terhadap kondisi pendapatan mereka dibandingkan kelompok usia lainnya.
Selain pendapatan, persepsi masyarakat terhadap ketersediaan lapangan kerja juga mengalami peningkatan.
Baca juga: Selera Konsumen Bergeser ke Brand Asia, Kinerja Anak Usaha Erajaya Ikut Terdongkrak 34,1 Persen
Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja (IKLK) tercatat sebesar 108,8, naik dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 107,8.
Peningkatan persepsi terhadap lapangan kerja menjadi salah satu faktor yang menopang keyakinan konsumen secara keseluruhan.
BI mencatat peningkatan indeks lapangan kerja terutama terjadi pada responden dengan tingkat pendidikan sarjana yang mencapai 118,5.
Namun, berdasarkan kelompok usia, tidak seluruh responden memandang kondisi lapangan kerja secara positif.
Baca juga: Pola Belanja Ramadan Bergeser, Konsumen Mulai Borong Produk Gaya Hidup
BI menyebut kelompok usia di atas 60 tahun masih berada pada zona pesimistis terkait ketersediaan pekerjaan.
Ilustrasi pendapatan. Siapa yang harus bayar royalti lagu?
Ekspektasi pendapatan enam bulan mendatang tetap kuat
Selain kondisi saat ini, survei BI juga menunjukkan masyarakat masih optimistis terhadap prospek pendapatan dalam enam bulan ke depan.
Indeks Ekspektasi Penghasilan tercatat sebesar 136,9 pada April 2026. Meski lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya, angka tersebut masih menunjukkan optimisme yang kuat dari masyarakat terhadap prospek pendapatan rumah tangga ke depan.
“Ekspektasi konsumen terhadap kondisi ekonomi enam bulan ke depan diprakirakan tetap kuat,” tulis BI dalam laporannya.
Baca juga: Ekonom: BBM Nonsubsidi Naik agar Konsumen Menengah Atas Beralih ke EV
Berdasarkan kelompok pengeluaran, peningkatan ekspektasi penghasilan terjadi pada kelompok pengeluaran Rp 3,1 juta hingga Rp 4 juta, Rp 4,1 juta hingga Rp 5 juta, serta di atas Rp 5 juta.
Kelompok pengeluaran Rp 4,1 juta hingga Rp 5 juta mencatat indeks tertinggi sebesar 141,4, sedangkan kelompok pengeluaran di atas Rp 5 juta mencapai 141,1.
Dari sisi usia, kelompok 20-30 tahun kembali menjadi kelompok paling optimistis terhadap prospek pendapatan enam bulan mendatang dengan indeks mencapai 141,0.
Selain ekspektasi pendapatan, masyarakat juga masih memandang prospek kegiatan usaha dan lapangan kerja ke depan secara positif.
Baca juga: Kepercayaan Konsumen AS Anjlok ke Rekor Terendah, Ekspektasi Inflasi Meningkat
Indeks ekspektasi ketersediaan lapangan kerja tercatat sebesar 127,7, sementara indeks ekspektasi kegiatan usaha sebesar 124,1.
Kedua indikator tersebut masih berada pada level optimistis meski mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya.
Secara spasial, BI mencatat sebagian besar kota mengalami penurunan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK), dengan penurunan terbesar terjadi di Bandung, Mataram, dan Banjarmasin.
Sebaliknya, beberapa kota mengalami peningkatan ekspektasi konsumen, terutama Semarang, Bandar Lampung, dan Surabaya.
Baca juga: Optimisme Konsumen Terhadap Ekonomi RI Turun Lagi Pada Maret 2026, Pertanda Apa?
Ilustrasi tabungan. Kehilangan pekerjaan bisa datang tiba-tiba. Agar keuangan tetap aman, dana darurat jadi penyelamat utama. Simak lima cara sederhana membangunnya sejak sekarang.
Porsi tabungan rumah tangga meningkat
Di tengah masih kuatnya optimisme terhadap pendapatan, BI juga mencatat adanya perubahan dalam pola penggunaan pendapatan rumah tangga.
Pada April 2026, rata-rata proporsi pendapatan masyarakat yang digunakan untuk konsumsi tercatat sebesar 72,1 persen. Angka ini relatif stabil dibandingkan Maret 2026 sebesar 72,2 persen.
Namun, proporsi pendapatan untuk pembayaran cicilan atau utang mengalami penurunan dari 10,2 persen menjadi 9,7 persen. Sebaliknya, proporsi pendapatan yang disimpan meningkat dari 17,6 persen menjadi 18,2 persen.
“Rasio konsumsi terhadap pendapatan relatif stabil, di tengah pembayaran cicilan yang menurun dan tabungan yang meningkat," kata bank sentral.
Baca juga: Tren Ramadhan 2026, Konsumen Mulai Pilih Produk Bernilai Tinggi
Kenaikan proporsi tabungan menunjukkan sebagian masyarakat mulai meningkatkan porsi dana yang disimpan dibandingkan digunakan untuk membayar kewajiban utang maupun konsumsi.
Berdasarkan kelompok pengeluaran, proporsi konsumsi terhadap pendapatan mengalami penurunan pada kelompok pengeluaran Rp 1 juta hingga Rp 2 juta, Rp 3,1 juta hingga Rp 4 juta, dan kelompok di atas Rp 5 juta.
Pada kelompok pengeluaran di atas Rp 5 juta, rasio konsumsi tercatat sebesar 69,9 persen. Sementara pada kelompok pengeluaran Rp 1 juta hingga Rp 2 juta mencapai 74,6 persen dan kelompok Rp 3,1 juta hingga Rp 4 juta sebesar 70 persen.
Di sisi lain, proporsi pembayaran cicilan mengalami penurunan pada kelompok pengeluaran Rp 2,1 juta hingga Rp 3 juta, Rp 4,1 juta hingga Rp 5 juta, dan kelompok di atas Rp 5 juta.
Baca juga: Revenge Saving Jadi Tren, Konsumen Pilih Menabung daripada Belanja
Kelompok pengeluaran di atas Rp 5 juta mencatat rasio pembayaran cicilan sebesar 10,9 persen, sedangkan kelompok Rp 4,1 juta hingga Rp 5 juta sebesar 10,3 persen dan kelompok Rp 2,1 juta hingga Rp 3 juta sebesar 9,3 persen.
Konsumen tetap optimistis di semua kelompok pengeluaran
Ilustrasi konsumen
Secara umum, BI mencatat keyakinan konsumen tetap berada di zona optimistis pada seluruh kelompok pengeluaran maupun kelompok usia.
Pada kelompok pengeluaran, peningkatan IKK terutama terjadi pada responden dengan pengeluaran Rp 4,1 juta hingga Rp 5 juta dan di atas Rp 5 juta, masing-masing menjadi 127,6 dan 128,2.
Dari sisi usia, kelompok responden 20 sampai 30 tahun mencatat IKK tertinggi sebesar 130,4.
Baca juga: Keyakinan Konsumen Turun Tipis ke Level 125,2 Pada Februari 2026
Secara regional, peningkatan keyakinan konsumen terbesar terjadi di Pontianak, Bandar Lampung, dan Surabaya.
Sebaliknya, penurunan keyakinan konsumen terjadi di Medan, Mataram, dan Banjarmasin.
Survei Konsumen BI merupakan survei bulanan yang dilaksanakan sejak Oktober 1999. Sejak Januari 2007, survei dilakukan terhadap sekitar 4.600 rumah tangga di 18 kota menggunakan metode stratified random sampling.
Tag: #pendapatan #rumah #tangga #masih #kuat #cicilan #mulai #menurun