IHSG Awal Pekan Diprediksi Terkoreksi, Ritel Bisa Cermati Saham DEWA, INDY, ELSA
Ilustrasi saham. (PIXABAY/SERGEI TOKMAKOV)
07:18
18 Mei 2026

IHSG Awal Pekan Diprediksi Terkoreksi, Ritel Bisa Cermati Saham DEWA, INDY, ELSA

- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Senin (18/5/2026) diperkirakan masih tertekan, seiring meningkatnya sentimen eksternal dan aksi jual investor asing di pasar domestik.

Analis teknikal MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menilai pasar saham di awal pekan masih terpengaruh oleh sentimen global dan domestik. Di mana, investor masih mencermati perkembangan geopolitik di Timur Tengah yang berpotensi meningkatkan ketidakpastian pasar keuangan global.

Pasar juga masih dibayangi tekanan jual dan potensi capital outflow imbas rebalancing indeks global dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang dirilis pada Rabu (13/5/2026).

Baca juga: Selat Hormuz Masih Tertutup, Cadangan Minyak Global Kian Kritis

Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS juga menjadi perhatian utama pelaku pasar. Pelemahan rupiah dinilai dapat meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap arus modal asing dan stabilitas pasar keuangan domestik.

Karena itu, Herditya memprediksi level support IHSG berada di 6.682. Sedangkan resistensi di posisi 6.789.

“Untuk Senin kami perkirakan IHSG masih rawan melanjutkan koreksinya dengan support 6.682 dan resist 6.789. Untuk sentimen sendiri kami perkirakan investor masih mencermati akan perkembangan konflik geopolitik di Timur Tengah, tekanan jual dan outflow dari IHSG mengenai rebalancing MSCI, investor masih akan mencermati akan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS),” ujar Herditya saat dihubungi Kompas.com, Minggu malam (17/5/3026).

Herditya pun merekomendasikan sejumlah saham yang dapat dicermati investor ritel untuk perdagangan awal pekan.

Saham PT Darma Henwa Tbk (DEWA) diperkirakan bergerak pada kisaran harga Rp 540 hingga Rp 595.

Saham PT Indika Energy Tbk (INDY) juga layak diperhatikan dengan proyeksi pergerakan harga di area Rp 3.160 sampai Rp 3.440.

Lalu, saham PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) diproyeksikan bergerak pada rentang Rp 2.460 hingga Rp 2.710.

Baca juga: Mengapa Pasar Keuangan Global Mengalami Volatilitas Mendadak?

Lebih jauh, pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai IHSG masih berpotensi menguji area support psikologis 6.700, bahkan support berikutnya di kisaran 6.585, apabila tekanan global belum mereda.

Namun, jika tensi geopolitik mulai membaik, harga minyak kembali stabil, dan arus keluar asing mulai berkurang setelah rebalancing MSCI selesai, maka peluang rebound tetap cukup terbuka.

“Pasar saat ini cenderung menunggu kepastian arah rupiah, kebijakan suku bunga global, stabilitas harga energi, serta kembalinya aliran dana asing sebelum kembali bergerak lebih agresif,” ucap Hendra.

Karena itu, fase saat ini diyakini lebih tepat dilihat sebagai periode konsolidasi dan penyesuaian valuasi dibanding awal dari krisis besar seperti yang dikhawatirkan sebagian pelaku pasar.

Baca juga: IHSG Tertekan Usai MSCI dan FTSE Russell “Coret” Saham RI

Ia mencatat saham defensif dan berbasis domestik relatif lebih diuntungkan karena dianggap lebih tahan terhadap tekanan eksternal. Emiten consumer staples, telekomunikasi, healthcare, serta beberapa saham berbasis dividen tinggi mulai menjadi tempat berlindung investor di tengah volatilitas pasar global.

Selain itu, saham komoditas tertentu juga masih berpotensi menopang IHSG seiring kenaikan harga energi dunia, meskipun tetap dibayangi risiko tekanan biaya dan volatilitas global.

“Tekanan IHSG saat ini sejatinya bukan hanya berasal dari MSCI semata. Faktor eksternal global justru menjadi tekanan yang jauh lebih besar terhadap psikologi investor,” tukasnya.

Inflasi Amerika Serikat yang masih tinggi membuat ekspektasi penurunan suku bunga The Fed kembali mundur sehingga dolar AS tetap kuat dan yield obligasi AS bertahan tinggi.

Kondisi tersebut mendorong aliran dana global keluar dari emerging markets menuju aset safe haven. Di saat yang sama, tensi geopolitik Timur Tengah yang kembali memanas membuat harga minyak dunia melonjak mendekati 100 dollar AS per barrel.

Bagi Indonesia, kondisi ini sangat sensitif karena Indonesia masih bergantung pada impor energi. Ketika harga minyak naik tinggi di tengah rupiah yang melemah ke Rp17.600 per dolar AS, maka risiko imported inflation, pelebaran defisit transaksi berjalan, dan tekanan terhadap APBN ikut meningkat.

Adapun, Retail Research & Investment Bahana Sekuritas, Dimas Wahyu Putra Pratama, merekomendasikan sejumlah saham yang dinilai menarik untuk strategi akumulasi beli atau accumulate buy di tengah pergerakan pasar yang masih volatil.

Untuk sektor energi, PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) direkomendasikan accumulate buy dengan harga saat ini di Rp 1.570 per saham. MEDC memiliki batas stop loss di bawah Rp 1.530, sementara target harga jangka pendek berada di Rp 1.635 dan target lanjutan di Rp 1.665 per saham.

Saham PT Elnusa Tbk (ELSA) juga masuk dalam daftar rekomendasi accumulate buy. Saham ELSA saat ini diperdagangkan di Rp 700 memiliki area stop loss di bawah Rp 675. Adapun target harga pertama di Rp 745 dan target harga kedua di Rp 760 per saham.

Saham PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU) direkomendasikan accumulate buy. Saham RATU yang berada di Rp 5.700, memiliki batas stop loss di bawah Rp 5.450. Target harga jangka pendek Rp 6.000, sedangkan target lanjutan Rp 6.300 per saham.

Saham PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) juga direkomendasikan accumulate buy. Saat ini saham AKRA berada di Rp 1.455 dengan area stop loss di bawah Rp 1.425. Bahana Sekuritas memproyeksikan target harga pertama di Rp 1.490 dan target harga kedua di Rp 1.520 per saham.

Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Seluruh rekomendasi berasal dari analis sekuritas. Keputusan investasi menjadi tanggung jawab investor. Pastikan melakukan riset mandiri sebelum menentukan pilihan.

Tag:  #ihsg #awal #pekan #diprediksi #terkoreksi #ritel #bisa #cermati #saham #dewa #indy #elsa

KOMENTAR