Sendalu Permaculture, Jembatan Warga Urban Menuju Hidup yang Lebih Sadar
Kebun dapur di Sendalu Permaculture (Instagram/@sendalu.permaculture)
18:31
2 Juni 2026

Sendalu Permaculture, Jembatan Warga Urban Menuju Hidup yang Lebih Sadar

Gibran Tragari tidak pernah membayangkan dirinya akan menghabiskan waktu mengurus kebun. Ia tumbuh besar di kota, terbiasa dengan kehidupan yang praktis dan serba cepat.

Becek, lumpur, atau pekerjaan bertani bukanlah hal yang akrab dalam kesehariannya. Bahkan, ia mengaku dulu tidak terlalu menyukai sayuran.

Namun sebuah pengalaman sebagai relawan di Bumi Langit, Yogyakarta, mengubah cara pandangnya tentang hidup.

Di kawasan perbukitan Imogiri itu, Gibran tinggal di lingkungan yang jauh dari kenyamanan kota. Sinyal telepon sulit didapat, listrik kadang padam, dan sebagian besar kebutuhan hidup dipenuhi dari kebun sendiri.

Awalnya kondisi tersebut terasa asing. Namun perlahan ia menemukan sesuatu yang selama ini luput dari kehidupannya.

“Di sana saya sadar, sebenarnya untuk hidup kita butuh apa sih? Selama bisa makan dan minum, kebutuhan dasar sudah terpenuhi. Yang lain hanya tambahan,” kenangnya.

Pengalaman itu membuatnya mulai mempertanyakan pola hidup masyarakat perkotaan yang sangat bergantung pada sistem konsumsi modern.

Ia membayangkan bagaimana jika sebagian kebutuhan pangan bisa dipenuhi sendiri. Bukan untuk sepenuhnya lepas dari kota, melainkan agar memiliki hubungan yang lebih dekat dengan makanan dan lingkungan tempat hidupnya.

Dari Relawan Menjadi Pekebun

Sekembalinya ke Jakarta pada 2017, Gibran mulai membangun kebun kecil yang kemudian dikenal sebagai Sendalu Permaculture di Depok.

Perjalanannya tidak selalu mulus. Ia yang tidak memiliki latar belakang pertanian harus belajar dari awal, bergabung dengan komunitas Jakarta Berkebun, hingga bereksperimen langsung di lapangan.

Bersama istrinya yang juga memiliki ketertarikan pada isu pangan, Gibran perlahan mengembangkan Sendalu menjadi lebih dari sekadar kebun keluarga. Tempat itu kemudian menjadi ruang belajar, lokasi riset sederhana, pusat pembibitan, hingga tempat pelatihan bagi masyarakat yang ingin mengenal pertanian perkotaan.

Di tengah kehidupan urban yang serba cepat, Gibran melihat ada persoalan yang lebih besar daripada sekadar minimnya ruang hijau. Banyak orang ingin hidup lebih ramah lingkungan, tetapi merasa langkah tersebut terlalu rumit dan jauh dari kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, gambaran hidup berkelanjutan sering kali terlihat terlalu ideal sehingga membuat banyak orang enggan memulai.

Menjadi Jembatan bagi Warga Kota

Karena itu, Sendalu tidak dirancang sebagai kebun yang sempurna. Justru sebaliknya. Gibran ingin menghadirkan contoh yang sederhana dan mudah ditiru.

“Menurut saya, berkebun secara keseluruhan adalah melambatkan. Begitu kamu melambatkan, kamu bisa lebih conscious, lebih mindful dengan bumi dan sekeliling kamu,” ujarnya.

Bagi Gibran, berkebun bukan sekadar menghasilkan sayuran. Aktivitas tersebut menjadi cara untuk membangun kesadaran terhadap pilihan hidup sehari-hari, mulai dari makanan yang dikonsumsi hingga kebiasaan yang berdampak pada lingkungan.

Karena itu, ia menyebut Sendalu sebagai sebuah “jembatan”. Jembatan bagi masyarakat kota yang ingin mulai mengenal gaya hidup yang lebih selaras dengan alam tanpa harus meninggalkan kehidupan urban sepenuhnya.

Melalui program sukarelawan, kelas belajar, dan berbagai kegiatan komunitas, Gibran berusaha menunjukkan bahwa perubahan tidak selalu harus dimulai dari langkah besar. Menanam satu tanaman di rumah, memahami asal-usul makanan, atau mengurangi konsumsi yang berlebihan bisa menjadi awal yang cukup.

“Nggak perlu ideal-ideal banget. Ketika orang datang, mereka bisa melihat bentuk yang sederhana, lebih dekat, dan lebih familiar untuk ditiru,” katanya.

Penulis: Vicka Rumanti

Editor: Bimo Aria Fundrika

Tag:  #sendalu #permaculture #jembatan #warga #urban #menuju #hidup #yang #lebih #sadar

KOMENTAR