Dampak Pelemahan Rupiah, Investor Bisa Kabur hingga Ancaman PHK
Ilustrasi nilai tukar kurs rupiah dan dollar AS(Thinkstockphotos.com/ThamKC)
05:08
19 Mei 2026

Dampak Pelemahan Rupiah, Investor Bisa Kabur hingga Ancaman PHK

- Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) dinilai mulai memunculkan kekhawatiran serius di kalangan pelaku usaha dan investor.

Kondisi tersebut bukan hanya meningkatkan biaya produksi industri, tetapi juga berpotensi memicu keluarnya modal asing hingga menghambat ekspansi usaha yang berdampak pada ancaman PHK.

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira mengatakan pelemahan rupiah menjadi sinyal bahwa kondisi makroekonomi Indonesia sedang menghadapi tekanan besar.

“Pelemahan rupiah itu mengirim sinyal bahwa kondisi makroekonomi sedang penuh tantangan. Semakin melemah nilai tukar, pelaku usaha juga mulai khawatir terhadap kenaikan biaya impor bahan baku, impor mesin industri, sampai biaya logistik,” ujar Bhima kepada Kompas.com, Senin (18/5/2026).

Baca juga: Rupiah Ditutup Melemah di Level 17.667, Ini Penyebabnya Menurut Analis

Menurut dia, kondisi tersebut membuat investor semakin berhati-hati untuk menanamkan modal di Indonesia, terutama untuk investasi jangka panjang seperti pembangunan pabrik dan ekspansi industri.

Bhima menjelaskan, pelemahan kurs turut meningkatkan biaya investasi karena muncul tambahan risiko atau risk premium yang harus ditanggung investor.

“Investor jadi mempertimbangkan ulang untuk masuk ke Indonesia karena biaya investasinya lebih mahal. Risiko kurs meningkat, bunga obligasi lebih tinggi, dan biaya pinjaman perbankan juga berpotensi naik,” katanya.

Bhima menilai gejolak nilai tukar yang terus berfluktuasi membuat investor kehilangan kepastian dalam menyusun rencana bisnis jangka panjang.

Menurut dia, investor yang sebelumnya memiliki horizon investasi lima hingga 10 tahun kini cenderung memilih strategi jangka pendek karena khawatir terhadap ketidakstabilan ekonomi.

“Kalau kondisi kurs terus berubah-ubah seperti sekarang, rencana bisnis investor juga ikut berubah. Akibatnya ada potensi capital flight, investor yang tadinya mau masuk akhirnya batal, sementara industri yang sudah ada bisa menunda ekspansi atau bahkan relokasi,” ucap Bhima.

Ia menambahkan pelemahan rupiah juga akan berdampak terhadap daya beli masyarakat karena berpotensi memicu inflasi dalam beberapa bulan ke depan.

“Pelaku usaha pasti melihat pelemahan kurs akan memengaruhi daya beli dan inflasi, sehingga mereka mulai merombak strategi bisnisnya di Indonesia,” katanya.

Bhima mengingatkan pemerintah perlu segera mengambil langkah mitigasi agar tekanan terhadap rupiah tidak semakin dalam. Ia bahkan memperkirakan nilai tukar rupiah berpotensi menembus level Rp 20.000 per dollar AS apabila pelemahan terus berlangsung tanpa intervensi yang efektif.

“Kalau hari ini kurs sekitar Rp 17.600 dan pelemahannya rata-rata 0,5 persen per hari, maka pada 9 Juni 2026 rupiah bisa tembus di atas Rp 20.000 per dollar AS,” ujar dia.

Menurut Bhima, tekanan eksternal global memang menjadi salah satu faktor utama pelemahan rupiah. Namun ia menilai kondisi fundamental ekonomi domestik dan komunikasi pemerintah juga turut memengaruhi persepsi investor.

“Siapa yang mau berinvestasi dalam kondisi ekonomi yang dianggap shaky atau sangat fluktuatif seperti sekarang?” kata Bhima.

Selain menghambat investasi baru, Bhima menyebut pelemahan rupiah juga membuat akses pembiayaan perusahaan menjadi lebih sulit dan mahal.

Ia mencontohkan perusahaan yang ingin menerbitkan saham di pasar modal kini menghadapi tantangan karena kondisi bursa saham yang melemah.

“Jalur yang paling terasa dampaknya adalah pembiayaan. Jadi lebih mahal dan lebih sulit. Kalaupun perusahaan tetap ekspansi, mereka harus membayar biaya yang jauh lebih tinggi,” tuturnya.

Menurut Bhima, kondisi tersebut perlu segera diantisipasi agar tidak menekan aktivitas industri nasional lebih dalam dan memperbesar risiko gelombang PHK di berbagai sektor usaha.

“Sebenarnya jalur yang paling terasa adalah pembiayaannya, jadi lebih mahal jadi lebih sulit sehingga walaupun melakukan ekspansi mereka harus membayar dengan harga lebih mahal,” tegas Bhima.

Pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus level Rp 17.667 per dollar AS (Senin 18/5/2026) mulai memunculkan kekhawatiran di kalangan pelaku usaha dan investor.

Kondisi tersebut dinilai tidak hanya menekan biaya produksi industri, tetapi juga berpotensi memicu keluarnya modal asing hingga memperbesar risiko pemutusan hubungan kerja (PHK) di sektor padat karya.

Industri manufaktur paling tertekan

Ketua Bidang Ketenagakerjaan di Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Bob Azam mengatakan pelemahan rupiah memberikan tekanan paling besar terhadap sektor manufaktur karena mayoritas bahan bakunya masih bergantung pada impor.

“Sekitar 70 persen bahan baku sektor manufaktur masih impor. Dalam setahun terakhir rupiah juga sudah terdepresiasi lebih dari 7 persen dan itu langsung memukul biaya produksi,” ujar Bob Senin (18/5/2026).

Ia menjelaskan tekanan terhadap dunia usaha tidak hanya berasal dari kurs rupiah, tetapi juga terganggunya rantai pasok global, lonjakan biaya logistik, hingga konflik geopolitik internasional.

Menurut Bob, kondisi tersebut membuat pengusaha berada dalam posisi sulit karena kenaikan biaya produksi tidak sebanding dengan kemampuan menaikkan harga jual di tengah melemahnya daya beli masyarakat.

“Dunia usaha sekarang dipaksa melakukan efisiensi dan meningkatkan produktivitas semaksimal mungkin karena kenaikan biaya sudah dua digit, sementara harga jual tidak bisa dinaikkan sembarangan,” ucap dia.

Ilustrasi buruh/pekerja di pabrik.KOMPAS.COM/MOHAMAD IQBAL FAHMI Ilustrasi buruh/pekerja di pabrik.

Ancaman PHK membayangi

Bob mengakui sektor manufaktur menjadi sektor yang paling rentan terdampak karena memiliki karakter padat karya dan menyerap banyak tenaga kerja.

Meski begitu, ia menilai dunia usaha sebenarnya sudah melakukan mitigasi risiko PHK sejak beberapa tahun terakhir ketika perlambatan ekonomi global mulai terasa.

“Situasi ini sebenarnya sudah terjadi sejak dua atau tiga tahun lalu. Jadi perusahaan-perusahaan sudah mulai mempersiapkan langkah efisiensi sejak lama,” katanya.

Menurut Bob, PHK seharusnya tidak semata dilihat sebagai ancaman, melainkan bagian dari upaya perusahaan bertahan agar tidak mengalami kerugian yang lebih besar.

“Yang lebih penting adalah bagaimana pekerja yang terkena PHK bisa cepat mendapatkan pekerjaan baru. Itu bentuk perlindungan terbaik,” ujar dia.

Ia juga menilai pemerintah perlu memberikan perhatian lebih besar terhadap sektor manufaktur karena memiliki efek berganda yang besar terhadap perekonomian nasional dan penyerapan tenaga kerja.

Baca juga: Rupiah dan IHSG Melemah, Purbaya Tegaskan Beda dengan Krisis 1998, Ajak Investor Saham Serok Bawah

Efisiensi kunci bertahan

Bob mengatakan masih banyak ruang efisiensi yang bisa dilakukan industri nasional tanpa harus selalu berujung pada pengurangan tenaga kerja.

Ia mencontohkan tingginya biaya logistik Indonesia yang mencapai sekitar 26 persen dari total biaya produksi, jauh di atas rata-rata negara ASEAN yang berada di kisaran 10 persen.

Selain itu, masih banyak perusahaan yang memiliki tingkat cacat produksi tinggi sehingga biaya operasional membengkak.

“Perbaikan produktivitas, efisiensi logistik, penguatan arus kas, sampai penurunan biaya energi menjadi faktor penting supaya dunia usaha tetap bisa bertahan,” katanya.

Menurut dia, pengusaha dan pekerja juga perlu membangun komunikasi yang lebih baik agar langkah efisiensi tidak memicu konflik industrial.

“Kalau pengusaha dan buruh bisa duduk bersama mencari solusi, situasi sulit seperti sekarang akan lebih mudah dihadapi,” tutur Bob.

Ia berharap pelemahan rupiah saat ini menjadi titik terendah sebelum kondisi ekonomi global mulai berbalik membaik seiring meredanya tensi geopolitik dunia.

“Kita berharap ini sudah menjadi bottom line. Kalau situasi global mulai pulih dan arus modal kembali masuk, Indonesia harus sudah siap dengan kebijakan yang pro investasi dan mendukung penciptaan lapangan kerja,” tegas Bob.

Resiliensi ekonomi

Sebagai informasi, pada penutupan perdagangan pasar spot Senin (18/5/2026), rupiah ditutup melemah pada level Rp 17.668 per dollar AS.

Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat tertekan hampir 5 persen pada perdagangan sesi pertama, namun berangsur pulih pada sesi kedua. IHSG ditutup turun 124,08 poin ke level 6.599,24.

Sumber: https://money.kompas.com/read/2026/05/18/163959726/ihsg-ditutup-anjlok-185-persen-rupiah-tembus-rekor-terlemah-baru.

Membership: https://kmp.im/plus6
Download aplikasi: https://kmp.im/app6

Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai angka 5,61 persen (yoy) pada kuartal I 2026.

Nilai itu melampaui ekspektasi pasar dan menjadi capaian tertinggi dalam 13 triwulan terakhir.

Lonjakan ini didorong oleh kuatnya konsumsi selama periode Ramadhan dan Lebaran, serta peningkatan signifikan pada belanja pemerintah.

Pertumbuhan ekonomi RI tersebut menunjukkan resiliensi ekonomi yang baik, bahkan melampaui rata-rata pertumbuhan negara mitra dagang utama (seperti China, Singapura, dan Malaysia) di tengah ketidakpastian global.

Hal ini juga ditegaskan oleh Menteri Koordinator (Menko) Perekonomian Airlangga Hartarto.

Dia bilang, pertumbuhan ekonomi Indonesia tersebut merupakan yang tertinggi di antara negara-negara G-20.

"Tadi pengumuman BPS di kuartal pertama baik, kita pertumbuhannya di 5,61. Dan pertumbuhan ini adalah di antara negara G-20 tertinggi. Jadi kita di atas China, di atas Singapura, Korea Selatan, Arab, bahkan Amerika," kata Airlangga di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (5/5/2026) lalu.

Baca juga: Ekonom: Tak Pakai Dollar, Warga Desa Tetap Terdampak Pelemahan Rupiah

Tag:  #dampak #pelemahan #rupiah #investor #bisa #kabur #hingga #ancaman

KOMENTAR