Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I 2026 vs 2025, Apa Bedanya?
Angka pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,61 persen pada kuartal I 2026 dinilai belum terasa hingga ke masyarakat akar rumput.
Kondisi ekonomi saat ini bahkan dinilai lebih berat dibandingkan kuartal I 2025, meski pertumbuhan ekonomi pada periode tersebut melambat dan berada di bawah level 5 persen.
Ekonom sekaligus Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M Rizal Taufikurahman, mengatakan perbedaan utama kondisi ekonomi kuartal I 2025 dan kuartal I 2026 terletak pada kualitas pertumbuhannya.
Rizal menjelaskan, pertumbuhan ekonomi kuartal pertama tahun lalu masih cukup ditopang konsumsi rumah tangga, aktivitas pemilu, dan ekspor komoditas.
Sebaliknya, ekonomi 2026 diwarnai tekanan global, pelemahan rupiah, suku bunga tinggi, dan pelemahan daya beli kelas menengah yang mulai lebih terasa.
"Akibatnya, pertumbuhan ekonomi terlihat lebih banyak ditopang belanja pemerintah dan konsumsi kelompok atas, sementara masyarakat bawah mulai menahan belanja," kata dia kepada Kompas.com, Selasa (19/5/2026).
Baca juga: Membaca Pertumbuhan Ekonomi 5,61 Persen: Bukan Sekadar Musiman
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2025 hanya mencapai 4,87 persen secara tahunan atau year on year (yoy).
Hasil berbeda terlihat pada kuartal I 2026. Ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen secara tahunan.
Kinerja tersebut bahkan menjadi capaian kuartal I tertinggi dalam 13 tahun terakhir.
Konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026.
Komponen tersebut memberi kontribusi terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional, yakni 2,94 persen.
Pemerintah juga mencatat pertumbuhan belanja negara pada awal tahun. Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi percepatan belanja pemerintah agar dampak ekonomi bisa terasa lebih merata sepanjang tahun.
Pola belanja pemerintah yang sebelumnya banyak menumpuk di akhir tahun mulai diarahkan untuk terealisasi lebih awal. Strategi itu ditempuh untuk mendukung aktivitas ekonomi secara optimal.
Baca juga: Konsumsi Rumah Tangga Kontributor Pertumbuhan Ekonomi Saat Rupiah Melemah
Pertumbuhan ekonomi belum terasa ke masyarakat
Rizal menilai pertumbuhan ekonomi yang ditopang belanja pemerintah belum memberi dampak langsung kepada masyarakat kelas bawah.
Karena itu, ia menilai wajar jika sebagian masyarakat merasa pertumbuhan ekonomi belum terlalu terasa.
Secara statistik, ekonomi bisa tumbuh. Namun, persepsi masyarakat akan berbeda jika lapangan kerja melambat, harga kebutuhan naik, dan pendapatan riil tertekan.
"Tantangannya hari ini bukan hanya mengejar pertumbuhan tinggi, tetapi memastikan pertumbuhan tersebut berkualitas dan merata," imbuh Rizal.
Konsumsi pemerintah melambat pada 2025
Kondisi tersebut berbeda dengan kuartal I 2025. Belanja pemerintah saat itu justru mengalami kontraksi 1,38 persen.
Kontraksi terjadi karena tidak ada stimulus belanja besar seperti periode Pemilu 2024.
Selain itu, realokasi anggaran pada awal tahun transisi pemerintahan baru masih tertahan proses administrasi. Dampaknya belum terasa ke aktivitas ekonomi.
Konsumsi pemerintah pada kuartal I 2026 justru menjadi salah satu komponen dengan pertumbuhan tertinggi. Komponen tersebut melonjak 21,81 persen.
Kenaikan itu dipicu perubahan paradigma belanja negara, dari pola backloading atau menumpuk di akhir tahun menjadi frontloading atau dipercepat sejak awal tahun.
Pemerintah mengalokasikan anggaran lebih cepat untuk pembayaran gaji ke 14, pengadaan barang dan jasa, serta pelaksanaan program prioritas nasional.
Beda kondisi konsumsi rumah tangga dan daya beli
Perbedaan pertumbuhan ekonomi kuartal I 2025 dan kuartal I 2026 juga terlihat dari kondisi konsumsi rumah tangga dan daya beli masyarakat.
Konsumsi rumah tangga kuartal I 2025 melambat ke level 4,89 persen. Sejumlah indikator ritel juga sempat lesu.
Perlambatan tersebut dipengaruhi pergeseran waktu libur Idul Fitri yang jatuh pada akhir Maret 2025. Sebagian besar perputaran uang dan aktivitas konsumsi mudik baru tercatat pada kuartal II 2025.
Konsumsi rumah tangga pada kuartal I 2026 dinilai lebih kokoh dan tumbuh 5,52 persen.
Komponen tersebut juga menjadi penopang utama produk domestik bruto (PDB), dengan kontribusi sebesar 2,94 persen.
Daya beli masyarakat dinilai tetap kuat di tengah tekanan global. Kondisi itu didorong momentum penuh Ramadhan dan Idul Fitri, serta cakupan program jaring sosial seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Program tersebut disebut ikut mendongkrak sektor penyediaan akomodasi dan makan minum hingga tumbuh 13,14 persen.
Meski begitu, masyarakat tetap merasa pertumbuhan ekonomi belum menyentuh kelompok kelas bawah.
Rizal menjelaskan, indikator ekonomi yang paling mudah terlihat dari kehidupan sehari hari adalah kondisi usaha kecil, apakah ramai atau sepi.
Pertumbuhan ekonomi juga bisa dirasakan dari rendah atau tingginya angka pemutusan hubungan kerja (PHK).
Selain itu, masyarakat bisa melihat kondisi ekonomi dari daya beli, tabungan, dan konsumsi rumah tangga. Jika daya beli melemah, tabungan menurun, dan konsumsi tertahan, angka pertumbuhan tinggi belum tentu terasa.
"Jadi ukuran ekonomi tidak cukup hanya melihat angka pertumbuhan, tetapi juga apakah masyarakat benar-benar merasakan perbaikan kesejahteraan," ungkap dia.
Efek pertumbuhan ekonomi 2026 belum merata
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,61 persen secara tahunan pada kuartal I 2026 tetap mencerminkan ekspansi ekonomi yang kuat.
Namun, kondisi di lapangan belum sepenuhnya merata dirasakan seluruh sektor usaha dan kelompok masyarakat.
“Pertumbuhan tahunan membandingkan kuartal I-2026 dengan kuartal I-2025 yang basisnya relatif rendah, sehingga angka tahunannya terlihat kuat. Sedangkan kontraksi kuartalan membandingkan dengan kuartal IV 2025 yang biasanya memang tinggi karena belanja akhir tahun dan realisasi proyek,” ujar dia kepada Kompas.com.
Josua menilai data PDB secara agregat memang menunjukkan peningkatan aktivitas ekonomi.
Konsumsi rumah tangga tumbuh 5,52 persen. Investasi atau pembentukan modal tetap bruto (PMTB) naik 5,96 persen. Konsumsi pemerintah melonjak 21,81 persen.
Meski demikian, Josua mengingatkan kondisi riil di lapangan lebih kompleks.
Tekanan harga, pelemahan rupiah, dan kenaikan biaya energi mulai membebani rumah tangga dan dunia usaha.
“Sinyal dari sektor manufaktur pada April juga menunjukkan pelemahan, dengan PMI manufaktur turun ke 49,1 dan tekanan biaya bahan baku naik ke level tertinggi dalam empat tahun akibat perang Timur Tengah,” ujar dia.
Secara umum, perbedaan pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2025 dan kuartal I 2026 terletak pada momentum dan strategi fiskal.
Kuartal I 2025 menjadi periode perlambatan akibat hilangnya efek pemilu dan tertahannya belanja pemerintah pada awal tahun.
Sebaliknya, kuartal I 2026 menunjukkan pemulihan yang lebih kuat. Daya beli masyarakat disebut kembali bergairah, sementara pemerintah mempercepat penyerapan anggaran sejak awal tahun.