Ekspansi ke Nikel Jadi Motor Pertumbuhan Bisnis Perusahaan Tambang Andalan
Sektor pertambangan mineral dan batu bara (minerba) nasional tengah menghadapi tantangan akibat dinamika global, mulai dari ketidakpastian pasar karena situasi geopolitik hingga lonjakan biaya operasional di lapangan.
Kondisi tersebut mendorong pelaku industri untuk semakin adaptif dalam menjaga produktivitas tambang sekaligus memperkuat posisi dalam rantai pasok mineral global.
Di tengah tantangan tersebut, perusahaan tambang PT Andalan Artha Primanusa (Andalan) memperkuat posisinya sebagai kontraktor jasa pertambangan (mining services) melalui strategi efisiensi dan operational excellence.
Baca juga: IHSG Sesi 1 Terpuruk 3,08 Persen, Saham Pertambangan dan Energi Ambruk
Ilustrasi tambang.
Salah satu langkah yang dilakukan yakni investasi strategis pada peremajaan armada baru yang diklaim mampu meningkatkan efisiensi konsumsi bahan bakar.
Selain itu, perusahaan menerapkan pendekatan selektif dalam memilih kontrak baru guna menjaga kualitas portofolio bisnis dan memastikan keberlanjutan usaha secara sehat.
Strategi tersebut tercermin pada kinerja keuangan perseroan sepanjang 2025. Andalan mencatat margin Earning Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization (EBITDA) sebesar 39 persen dengan nilai mencapai Rp 145,4 miliar.
Pencapaian tersebut diraih di tengah tantangan force majeure serta cuaca ekstrem yang membayangi industri pertambangan.
Baca juga: Adaro Dorong Praktik Pertambangan Berkelanjutan dan Inovasi Sosial
Didukung kepastian volume dari sejumlah kontrak yang tengah berjalan, Andalan membidik pertumbuhan tahunan majemuk atau compound annual growth rate (CAGR) yang agresif hingga 2028.
Pendapatan perusahaan diproyeksikan tumbuh dengan CAGR sebesar 28 persen, dari target Rp 949,6 miliar pada 2026 menjadi Rp 1,41 triliun pada 2027. Selanjutnya pada 2028, pendapatan ditargetkan mencapai Rp 1,55 triliun.
Ilustrasi tambang.
Sementara itu, EBITDA diperkirakan tumbuh dengan CAGR 21 persen hingga mencapai Rp 514,2 miliar pada 2028. Adapun laba bersih ditargetkan meningkat dengan CAGR 31 persen menjadi Rp 223,9 miliar pada periode yang sama.
“Fokus kami ke depan adalah menjaga komitmen pertumbuhan yang solid dan terukur ini demi memberikan nilai jangka panjang yang optimal bagi seluruh pemangku kepentingan,” ujar Direktur Utama PT Andalan Artha Primanusa Gahari Christine dalam siaran pers, Selasa (19/5/2026).
Baca juga: Konflik Akibat Izin Usaha Pertambangan Serampangan
Operational excellence jadi fondasi
Andalan telah memiliki pengalaman operasional selama delapan tahun sebagai kontraktor batu bara. Perusahaan juga didukung jajaran manajemen dengan rekam jejak lebih dari 20 tahun di industri pertambangan.
Perseroan menempatkan operational excellence sebagai fondasi utama untuk memastikan efisiensi, reliability, dan kualitas eksekusi yang konsisten di setiap lini operasi.
Andalan menerapkan model layanan end-to-end mining services melalui sistem operasional terpadu yang mencakup perencanaan, eksekusi presisi, hingga evaluasi berkala.
Sistem tersebut terintegrasi mulai dari tahapan awal eksplorasi, aktivitas inti produksi, hingga reklamasi pasca-tambang.
Baca juga: Pertambangan Sumbang Rp 138,37 T PNBP, Perannya Tetap Strategis bagi Ekonomi
Pendekatan berbasis keselamatan kerja, keandalan alat berat, dan sistem pemantauan operasional yang ketat disebut menjadi kunci perusahaan dalam meminimalkan hambatan teknis serta memastikan target produksi tercapai secara aman.
Ketangguhan model operasional Andalan juga diklaim telah teruji melalui pengalaman lintas wilayah di berbagai proyek multi-site dengan karakteristik geografis yang berbeda.
Ilustrasi nikel, penambangan nikel.
Diversifikasi ke industri nikel
Selain bisnis batu bara, Andalan juga melakukan diversifikasi strategis ke industri nikel. Langkah tersebut dilakukan setelah perseroan meraih Letter of Award (LoA) dari PT Position yang merupakan bagian dari Grup Harum Energy untuk proyek di Halmahera Timur, Maluku Utara.
Menurut Gahari, kondisi industri yang fluktuatif membuat pemilihan mitra kerja yang kapabel menjadi faktor penting bagi keberlangsungan bisnis pertambangan.
Baca juga: Bahlil Tandatangani Izin Pertambangan Rakyat di 18 Provinsi
Ia menilai kebutuhan terhadap kontraktor pertambangan yang memiliki sistem andal, pengalaman komprehensif, serta akuntabilitas finansial akan terus meningkat seiring semakin ketatnya standar efisiensi global.
Perusahaan pun optimistis dapat merealisasikan proyeksi pertumbuhan usaha secara konsisten dan akuntabel melalui kepastian volume kontrak berjalan serta investasi armada secara strategis.
“Melalui pilar operational excellence yang kuat, investasi armada yang tepat, serta kedisiplinan dalam pemilihan kontrak, Andalan berkomitmen penuh untuk terus berdiri di garda depan sebagai mitra strategis yang mengawal stabilitas operasional dan mendukung keberlanjutan rantai pasok industri pertambangan di Indonesia,” ungkap Gahari.
Tag: #ekspansi #nikel #jadi #motor #pertumbuhan #bisnis #perusahaan #tambang #andalan