Kontraktor Tambang Andalan Perkuat Armada, Bidik Lonjakan Laba 31%
PT Andalan Artha Primanusa (Andalan) memperkuat posisinya sebagai kontraktor jasa pertambangan yang andal di tengah tekanan industri minerba nasional. Strategi utama yang ditempuh perseroan adalah investasi peremajaan armada alat berat baru guna meningkatkan efisiensi konsumsi bahan bakar dan menjaga produktivitas operasional.
Di tengah ketidakpastian pasar global akibat tensi geopolitik dan lonjakan biaya operasional tambang, Andalan memilih fokus pada operational excellence sebagai fondasi bisnis. Perusahaan yang telah beroperasi selama delapan tahun di sektor kontraktor batu bara itu juga didukung jajaran manajemen dengan pengalaman lebih dari dua dekade di industri pertambangan.
Perseroan menerapkan pendekatan selektif dalam mengambil kontrak baru demi menjaga kualitas portofolio bisnis dan memastikan pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan.
Strategi efisiensi tersebut mulai tercermin pada kinerja keuangan perusahaan. Pada 2025, Andalan berhasil mencatatkan margin EBITDA sebesar 39% atau senilai Rp145,4 miliar, meski industri tambang dibayangi tantangan force majeure dan cuaca ekstrem.
Seiring kepastian volume kontrak yang tengah berjalan, Andalan menargetkan pertumbuhan agresif hingga 2028. Pendapatan perusahaan diproyeksikan tumbuh dengan compound annual growth rate (CAGR) sebesar 28%, dari Rp949,6 miliar pada 2026 menjadi Rp1,41 triliun pada 2027 dan mencapai Rp1,55 triliun di 2028.
Sementara itu, EBITDA diperkirakan meningkat dengan CAGR 21% hingga menyentuh Rp514,2 miliar pada 2028. Laba bersih juga ditargetkan melonjak dengan CAGR 31% menjadi Rp223,9 miliar.
“Fokus kami ke depan adalah menjaga komitmen pertumbuhan yang solid dan terukur ini demi memberikan nilai jangka panjang yang optimal bagi seluruh pemangku kepentingan,” ujar Direktur Utama PT Andalan Artha Primanusa, Gahari Christine, dalam keterangan tertulis di Jakarta, Rabu (20/5/2026).
Andalan sendiri mengusung model layanan end-to-end mining services yang mencakup perencanaan, eksekusi hingga evaluasi berkala. Sistem operasional terpadu itu diterapkan mulai dari tahap eksplorasi, produksi inti tambang, hingga reklamasi pascatambang.
Pendekatan berbasis keselamatan kerja, keandalan alat berat, dan pemantauan operasional yang ketat menjadi kunci perusahaan dalam meminimalkan hambatan teknis dan memastikan target produksi tercapai secara aman.
Tak hanya fokus di batu bara, Andalan juga mulai melakukan diversifikasi ke sektor nikel. Langkah itu ditandai dengan raihan Letter of Award (LoA) dari Harum Energy melalui PT Position untuk proyek di Halmahera Timur, Maluku Utara.
Menurut Gahari, di tengah kondisi industri yang fluktuatif, kebutuhan terhadap kontraktor tambang yang memiliki sistem operasional andal, pengalaman komprehensif, dan akuntabilitas finansial akan terus meningkat.
Andalan pun optimistis dapat menjaga pertumbuhan bisnis secara konsisten melalui kepastian kontrak dan investasi armada strategis. Perseroan menegaskan komitmennya untuk tetap menjadi mitra strategis dalam menjaga stabilitas operasional serta mendukung keberlanjutan rantai pasok industri pertambangan nasional.
Tag: #kontraktor #tambang #andalan #perkuat #armada #bidik #lonjakan #laba