Penyebab IHSG Ambruk Saat Bursa Asia Hijau: Sentimen BUMN Ekspor dan Suku Bunga BI
Ilustrasi saham, pergerakan saham. (SHUTTERSTOCK/SHUTTER_O)
07:48
22 Mei 2026

Penyebab IHSG Ambruk Saat Bursa Asia Hijau: Sentimen BUMN Ekspor dan Suku Bunga BI

- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpuruk di tengah reli mayoritas bursa saham Asia. Pada perdagangan Kamis (21/5/2026), IHSG anjlok 3,54 persen ke level 6.094,94.

Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), Azharys Hardian, menilai koreksi IHSG lebih banyak dipengaruhi oleh sentimen domestik, terutama karena pergerakan pasar saham tanah air justru berlawanan dengan mayoritas bursa Asia yang dalam sebulan terakhir cenderung mengalami penguatan.

“Betul sekali, koreksi IHSG hari ini (Kamis) memang cenderung didorong oleh sentimen domestik, mengingat mayoritas bursa Asia sebenarnya sudah rally sejak sebulan lalu,” ujar Azharys saat dihubungi Kompas.com, Kamis.

Baca juga: IHSG Kamis (21/5) Terjun di Bawah 6.100, Asing Jual ANTM, BBRI, hingga BMRI

Suku Bunga BI

Tekanan utama terhadap pasar datang dari keputusan Bank Indonesia (BI) yang secara mengejutkan menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis points (bps) menjadi 5,25 persen.

Langkah tersebut dipandang sebagai upaya untuk menahan pelemahan rupiah yang terus tertekan terhadap dollar AS.

Namun di sisi lain, kenaikan suku bunga juga menjadi sentimen negatif bagi pasar saham karena berpotensi menekan likuiditas hingga meningkatkan biaya pendanaan.

“Pemicu utamanya adalah kejutan kenaikan suku bunga BI sebesar 50 bps ke level 5,25 persen sebuah dilema klasik yang bertujuan menahan depresiasi rupiah, namun di sisi lain menekan pasar ekuitas,” paparnya.

Baca juga: IHSG Kamis (21/5) Turun 3,54 Persen, Pasar Respons Negatif Pembentukan BUMN Ekspor

BUMN Ekspor

Tekanan terhadap IHSG semakin besar setelah muncul ketidakpastian terkait rencana penerapan skema ekspor satu pintu melalui Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang baru dibentuk Danantara Indonesia, yakni PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI), badan pengatur ekspor sumber daya alam (SDA).

Sebagai informasi, pembentukan PT DSI merupakan tindak lanjut dari Peraturan Pemerintah (PP) tentang Tata Kelola Ekspor Komoditas SDA yang diterbitkan Presiden Prabowo Subianto. Dalam aturan tersebut, ekspor sejumlah komoditas strategis wajib dilakukan melalui BUMN yang ditunjuk pemerintah.

Saat ini, Danantara Indonesia resmi menunjuk mantan Direktur PT Vale Indonesia Tbk (INCO), Luke Thomas Mahony, sebagai Direktur Utama DSI. Penunjukan eks petinggi perusahaan tambang itu dinilai menjadi langkah awal pemerintah memperkuat tata kelola ekspor sumber daya alam.

Namun pelaku pasar menilai belum ada penjelasan teknis yang cukup rinci mengenai mekanisme kebijakan tersebut. Kondisi itu membuat investor cenderung memilih sikap wait and see karena khawatir kebijakan baru itu dapat memperpanjang birokrasi perdagangan dan berpotensi mengurangi margin perusahaan eksportir, terutama emiten yang selama ini telah memiliki jaringan pemasaran internasional sendiri.

“Sentimen ini diperparah oleh ketidakpastian skema baru ekspor satu pintu lewat BUMN, minimnya detail teknis membuat pelaku pasar cenderung wait and see karena khawatir kebijakan ini berpotensi menggerus margin para eksportir,” tukasnya.

Baca juga: IHSG Hari Ini (21/5) Anjlok 3,54 Persen ke 6.094, Rupiah Ikut Tertekan

Lebih jauh, Pengamat Pasar Modal, Reydi Octa, menilai pelemahan IHSG lebih mencerminkan kombinasi sentimen domestik dan derasnya arus keluar dana asing dari pasar Indonesia.

Investor global saat ini mulai melihat adanya kenaikan tingkat risiko di Indonesia di tengah tekanan rupiah dan potensi suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama.

“Menurut saya pelemahan IHSG hari ini lebih dominan dipicu kombinasi sentimen domestik dan keluarnya dana asing. Pasar melihat ada kenaikan tingkat risiko di Indonesia karena tekanan rupiah, ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama, serta kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi dan kualitas likuiditas pasar,” kata Reydi kepada Kompas.com.

Sentimen terkait BUMN ekspor atau PT DSI, serta tingginya ketergantungan pasar terhadap sektor-sektor tertentu juga membuat investor menjadi lebih berhati-hati dalam mencermati prospek kinerja emiten ke depan.

“Sentimen mengenai BUMN berbasis komoditas dan ketergantungan terhadap sektor tertentu juga membuat investor lebih berhati-hati terhadap kinerja emiten kedepan,” ungkap dia.

Lebih jauh, selain mayoritas bursa saham Asia bergerak menguat, IHSG justru masih tertinggal karena investor global cenderung lebih selektif dalam menempatkan dana di pasar negara berkembang atau emerging market yang dinilai memiliki tingkat risiko lebih tinggi.

Kondisi tersebut membuat pasar saham Indonesia menghadapi tekanan yang lebih besar dibanding negara Asia lainnya, terutama di tengah pelemahan rupiah, kenaikan suku bunga domestik, serta meningkatnya ketidakpastian kebijakan ekonomi.

Akibatnya, tekanan IHSG saat ini lebih mencerminkan persoalan kepercayaan pasar atau trust investor terhadap prospek ekonomi dan pasar keuangan domestik, yang tercermin dari masih derasnya arus keluar modal asing.

“Walaupun bursa Asia mayoritas menguat, IHSG justru tertinggal karena investor global saat ini lebih selektif terhadap emerging market yang dianggap memiliki risiko lebih tinggi. Jadi tekanan di IHSG lebih mencerminkan faktor trust dan arus modal asing sehingga pergerakannya belum bisa naik seiring bursa Asia secara umum,” lanjut Reydi.

Tekanan jual memang masih mendominasi pasar seiring aksi net sell atau jual bersih investor asing yang mencapai Rp 508 miliar pada perdagangan Kamis.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), net sell asing paling besar terjadi pada saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dengan nilai net sell mencapai Rp 204 miliar.

Tekanan juga terlihat pada saham perbankan besar seperti PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) sebesar Rp 146 miliar dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) sebesar Rp 142 miliar.

Selain itu, investor asing juga mencatatkan penjualan bersih pada saham PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) senilai Rp 135 miliar, serta saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) sebesar Rp 120 miliar.

Di sisi lain, investor asing masih membukukan aksi beli atau net buy di sejumlah saham berbasis komoditas dan energi. Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mencatat net buy terbesar dengan nilai Rp 204 miliar.

Aksi beli asing juga terjadi pada saham PT Barito Pacific Tbk (BRPT) sebesar Rp 173 miliar, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) di Rp 88 miliar, serta PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) senilai Rp 63 miliar.

Selain itu, saham PT Darma Henwa Tbk (DEWA) turut mencatat net buy asing senilai Rp 60 miliar.

Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi menjadi tanggung jawab investor. Pastikan melakukan riset mandiri sebelum menentukan pilihan.

Tag:  #penyebab #ihsg #ambruk #saat #bursa #asia #hijau #sentimen #bumn #ekspor #suku #bunga

KOMENTAR