Defisit Transaksi Berjalan RI Melebar Jadi 4 Miliar Dolar AS
Bank Indonesia (BI) melaporkan defisit transaksi berjalan atau current account deficit Indonesia melebar pada kuartal I 2026.
Defisit transaksi berjalan tercatat 4 miliar dolar Amerika Serikat (AS) atau 1,1 persen dari produk domestik bruto (PDB).
Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan kuartal IV 2025 yang sebesar 2,5 miliar dolar AS atau 0,7 persen dari PDB.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, mengatakan defisit transaksi berjalan tetap rendah di tengah perlambatan ekonomi global.
"Transaksi berjalan mencatat defisit yang rendah," ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (22/5/2026).
Baca juga: Prabowo Janji Defisit APBN 2027 Maksimal 2,4 Persen
BI menjelaskan defisit transaksi berjalan pada kuartal I 2026 disebabkan surplus neraca barang yang lebih rendah.
Kondisi tersebut terjadi saat defisit neraca pendapatan jasa menyempit dan surplus neraca pendapatan sekunder tetap stabil.
Neraca perdagangan barang pada kuartal I 2026 mencatat surplus 8 miliar dolar AS.
Surplus tersebut lebih rendah dibandingkan kuartal sebelumnya yang sebesar 10,2 miliar dolar AS.
Penurunan ini dipengaruhi berkurangnya surplus neraca perdagangan nonmigas dan mengecilnya defisit neraca perdagangan migas.
Baca juga: Purbaya Laporkan Defisit APBN April 2026 Capai 0,64 Persen dari PDB
Ramdan mengatakan neraca perdagangan nonmigas mencatat surplus 13,3 miliar dolar AS.
Angka tersebut lebih rendah dibandingkan surplus kuartal sebelumnya yang sebesar 16 miliar dolar AS.
"(Berkurangnya surplus perdagangan non-migas) sejalan dengan perlambatan pertumbuhan ekonomi global serta terganggunya rantai pasok perdagangan antarnegara," ucapnya.
Defisit neraca perdagangan migas juga menurun menjadi 5,3 miliar dolar AS. Penurunan defisit migas terjadi saat aktivitas ekonomi domestik tetap terjaga.
Defisit neraca pendapatan primer meningkat karena kenaikan pembayaran kupon atau bunga.
Di sisi lain, kinerja neraca jasa membaik seiring penurunan impor jasa freight. Transaksi modal dan finansial pada kuartal I 2026 mencatat defisit 4,9 miliar dolar AS.
Posisi tersebut berbalik dari kuartal sebelumnya yang mencatat surplus 9 miliar dolar AS.
Ramdan mengatakan investasi langsung dan investasi portofolio tetap mencatat surplus.
Namun, surplus investasi portofolio lebih rendah dibandingkan kuartal IV 2025 seiring meningkatnya ketidakpastian global.
Investasi lainnya mencatat defisit. Kondisi tersebut dipengaruhi pembayaran pinjaman luar negeri yang jatuh tempo, serta penempatan kas, simpanan, dan aset lain di luar negeri.
"Kinerja transaksi modal dan finansial tetap terjaga di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global," ucapnya.
Perkembangan tersebut membuat neraca pembayaran Indonesia (NPI) pada kuartal I 2026 mencatat defisit 9,1 miliar dolar AS.
BI memperkirakan kinerja NPI 2026 tetap baik.
Defisit transaksi berjalan diperkirakan tetap rendah, yakni pada kisaran 0,5 persen hingga 1,3 persen dari PDB.
Posisi cadangan devisa pada akhir kuartal I 2026 juga tetap tinggi, yakni 148,2 miliar dolar AS.
Jumlah tersebut setara dengan pembiayaan 5,8 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.
"Ke depan, Bank Indonesia senantiasa mencermati dinamika perekonomian global yang dapat memengaruhi prospek NPI dan terus memperkuat respons bauran kebijakan," tuturnya.
Tag: #defisit #transaksi #berjalan #melebar #jadi #miliar #dolar