Investor Asing Kabur, IHSG Diprediksi Belum Keluar dari Fase Rapuh
Ilustrasi IHSG(ANTARA FOTO/GALIH PRADIPTA)
07:09
25 Mei 2026

Investor Asing Kabur, IHSG Diprediksi Belum Keluar dari Fase Rapuh

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dinilai masih berada dalam fase rapuh karena sangat sensitif terhadap sentimen eksternal dan domestik.

IHSG pada perdagangan Jumat (22/5/2026) ditutup menguat 1,10 persen ke level 6.162,045.

Meski menguat, indeks masih rawan terkoreksi pada perdagangan Senin (25/5/2026).

Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, mengatakan kenaikan IHSG pada Jumat pekan lalu lebih banyak ditopang aksi beli pada saham siklikal dan komoditas.

Sejumlah saham tersebut antara lain PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), PT Vale Indonesia Tbk (INCO), hingga PT Barito Pacific Tbk (BRPT).

Sementara itu, sektor perbankan yang selama ini menjadi tulang punggung IHSG masih tertahan.

“Ini menunjukkan bahwa penguatan indeks belum sepenuhnya solid karena belum ditopang arus dana besar yang merata,” ujar Hendra kepada Kompas.com, Minggu (24/5/2026).

Baca juga: IHSG Sepekan Ambles 8,35 Persen, Saham Prajogo Pangestu hingga Sinar Mas Jadi Beban

Hendra menilai sentimen domestik masih akan menjadi pemberat utama IHSG.

Faktor tersebut mencakup inkonsistensi kebijakan pemerintah, ketidakpastian arah fiskal, pelemahan rupiah di level Rp 17.700 per dollar AS, serta meningkatnya kekhawatiran investor asing terhadap risiko pasar Indonesia.

Pasar juga masih menghadapi tekanan global akibat konflik Amerika Serikat dan Iran serta lonjakan harga minyak dunia.

Menurut Hendra, pasar membutuhkan kepastian dan stabilitas. Namun, arah kebijakan saat ini justru dinilai menimbulkan kebingungan.

Hendra melihat sejumlah faktor utama berpotensi menekan IHSG dalam jangka pendek.

Salah satunya kenaikan harga minyak dunia yang kembali menembus level 100 dollar AS per barrel akibat ancaman penutupan Selat Hormuz.

Kondisi tersebut dinilai berbahaya bagi Indonesia karena berpotensi memperlebar defisit transaksi berjalan, meningkatkan subsidi energi, serta mendorong inflasi.

Baca juga: Saat IHSG Rontok, Perusahaan Happy Hapsoro Justru Serok 12 Juta Saham Rukun Raharja (RAJA)

Tekanan lain berasal dari ekspektasi suku bunga global yang kembali tinggi.

Pasar mulai memperkirakan bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve (The Fed) tidak jadi memangkas suku bunga tahun ini.

Kondisi itu membuat dana asing cenderung bertahan di aset dollar AS dibanding masuk ke pasar negara berkembang seperti Indonesia.

“Artinya dana asing akan tetap memilih bertahan di aset dollar AS dibanding masuk ke emerging market seperti Indonesia,” paparnya.

Hendra juga menyoroti pelemahan rupiah yang bergerak terlalu cepat.

Menurut dia, kondisi tersebut membuat investor asing semakin agresif melakukan net sell atau jual bersih karena imbal hasil saham Indonesia tergerus depresiasi mata uang.

“Pelemahan rupiah yang terlalu cepat juga membuat investor asing semakin agresif melakukan net sell karena return saham Indonesia tergerus depresiasi mata uang,” tukas Hendra.

Tekanan domestik juga masih membayangi pasar.

Faktor tersebut meliputi perlambatan daya beli masyarakat, ketidakpastian regulasi, serta kekhawatiran terhadap kualitas pertumbuhan ekonomi.

Kombinasi tekanan global dan domestik membuat investor memilih bersikap wait and see.

Hendra menilai IHSG masih berpotensi mengalami koreksi lanjutan sebelum mampu membangun rebound yang lebih sehat.

Area psikologis 6.000 menjadi level penting yang perlu dicermati pasar dalam jangka pendek.

“Jika tekanan terhadap rupiah masih berlanjut dan foreign flow belum kembali stabil, maka bukan tidak mungkin IHSG kembali menguji area tersebut sebagai bentuk pencarian titik keseimbangan baru pasar,” lanjutnya.

Secara historis, fase panic selling biasanya baru mereda ketika valuasi saham big caps sudah masuk area diskon ekstrem.

Kondisi itu biasanya mulai memancing akumulasi investor institusi maupun dana asing jangka panjang.

Karena itu, potensi koreksi menuju level 6.000 dinilai masih cukup terbuka sebelum IHSG kembali menemukan momentum penguatan yang lebih solid.

Meski demikian, Hendra menilai jumlah investor ritel domestik yang terus membesar sebenarnya bisa menjadi kekuatan besar untuk menopang IHSG.

Syaratnya, investor ritel perlu diarahkan dengan benar.

Ia menilai masalah utama saat ini terletak pada perilaku sebagian investor ritel yang masih bergerak berdasarkan emosi dan momentum jangka pendek.

Kondisi tersebut membuat pasar mudah mengalami fear of missing out (FOMO) ketika naik dan panic selling ketika turun.

Hendra menilai edukasi perlu lebih agresif agar investor ritel bisa menjadi fondasi penguatan pasar.

Edukasi tersebut mencakup investasi jangka panjang, manajemen risiko, serta pentingnya membeli saham berdasarkan fundamental, bukan sekadar rumor maupun gorengan media sosial.

Bursa dan pelaku industri juga perlu mendorong budaya investasi bertahap atau dollar cost averaging.

Menurut Hendra, budaya tersebut lebih sehat dibanding trading spekulatif harian.

Investor domestik yang mampu menjadi pembeli stabil saat asing keluar akan membuat volatilitas IHSG lebih sehat.

Pasar juga tidak terlalu bergantung pada dana asing.

Terkait posisi IHSG saat ini, Hendra menilai banyak saham big caps sudah sangat murah secara valuasi dan mulai masuk area undervalue.

Namun, ia menilai masih terlalu dini untuk menyebut IHSG sudah benar-benar berada di titik bottom.

Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi menjadi tanggung jawab investor. Pastikan melakukan riset mandiri sebelum menentukan pilihan.

Tag:  #investor #asing #kabur #ihsg #diprediksi #belum #keluar #dari #fase #rapuh

KOMENTAR