Wamenkeu Ungkap 3 Sumber Krisis Ekonomi Negara, Gimana Nasib RI?
Wakil Menteri Keuangan Juda Agung di acara Konferensi Nasional Pengembangan Ekonomi Daerah yang disaksikan virtual, Senin (25/5/2026). [Screenshot YouTube OJK]
15:35
25 Mei 2026

Wamenkeu Ungkap 3 Sumber Krisis Ekonomi Negara, Gimana Nasib RI?

Wakil Menteri Keuangan Juda Agung mengungkapkan setidaknya ada tiga sumber yang menyebabkan negara mengalami krisis ekonomi. Hal ini ia simpulkan dari pengalaman krisis ekonomi yang terjadi di negara-negara global.

"Kalau kita lihat history-nya, pengalaman-pengalaman negara-negara di dunia ini yang mengalami krisis, sebenarnya ada tiga sumber krisis itu," kata Wamenkeu dalam Konferensi Nasional Pengembangan Ekonomi Daerah yang disaksikan virtual, Senin (25/5/2026).

1. Defisit Fiskal

Tanda pertama yakni terjadi di Amerika Latin tahun 1980-an, yakni ketika defisit fiskal membengkak. Walhasil Pemerintah di kawasan sana tidak bisa lagi menutup defisit lewat pembiayaan karena banyak orang yang sudah tak percaya.

Juda menyebut, kala itu banyak negara di Amerika Latin yang mengeluarkan surat utang atau obligasi namun tidak diminati investor. Walhasil terjadilah krisis di sektor fiskal.

Sementara itu di Indonesia, Juda Agung menilai defisit APBN relatif terbatas karena masih di bawah 3 persen. Sedangkan untuk pembiayaan fiskal, RI diklaim masih sangat dipercaya oleh investor, baik domestik maupun asing.

Orang-orang meneriakkan slogan yang menentang Presiden Sri Lanka Gotabaya Rajapaksa di kawasan perumahan setelah pemerintah memberlakukan jam malam menyusul bentrokan antara polisi dan pengunjuk rasa di dekat kediaman Presiden di tengah krisis ekonomi negara itu, di Kolombo, Sri Lanka, 3 April 2022. (ANTARA/Reuters/Dinuka Liyanawatte/as)Ilustrasi krisis ekonomi. Foto: Orang-orang meneriakkan slogan yang menentang Presiden Sri Lanka Gotabaya Rajapaksa di kawasan perumahan setelah pemerintah memberlakukan jam malam menyusul bentrokan antara polisi dan pengunjuk rasa di dekat kediaman Presiden di tengah krisis ekonomi negara itu, di Kolombo, Sri Lanka, 3 April 2022. (ANTARA/Reuters/Dinuka Liyanawatte/as)

Hal itu terlihat dari yield atau imbal hasil yang saat ini masih di kisaran 6,5-6,7 persen. Meskipun sedikit melonjak, Juda yakin investor masih percaya RI karena yield tidak terlalu tinggi.

"Ya ada peningkatan tapi tidak signifikan peningkatannya. Jadi fiskal, krisis yang bersumber dari fiskal, tidak ada tanda-tandanya," beber dia.

2. Krisis Neraca Pembayaran

Sumber kedua yakni krisis ekonomi bisa muncul karena krisis neraca pembayaran. Hal ini dialami Indonesia pada tahun 1997-1998, yang mana banyak perusahaan berlomba-lomba menarik dana dari luar negeri.

"Dulu instrumennya banyak sekali, dan bahkan waktu itu kita tidak tahu berapa jumlahnya gitu ya," lanjutnya.

Keadaan semakin diperparah ketika terjadinya pelemahan nilai tukar Rupiah yang berujung pada sudden stop atau berhentinya aliran modal asing. Dari sana banyak perusahaan yang kolaps karena tak bisa lagi membayar utang luar negeri.

"Dan neraca pembayaran kita waktu itu memang sangat jeblok, dan saat ini kalau kita lihat pembayaran, angka-angka neraca pembayaran kita, relatif sehat dan relatif balance. Jadi dari krisis neraca pembayaran tidak ada tanda-tanda itu," ungkapnya.

3. Krisis dari Sistem Keuangan

Juda menyebut tanda krisis ekonomi muncul juga dari sistem keuangan. Apabila lending atau pinjaman dana terjadi masif di berbagai sektor, maka suatu saat bakal membengkak (bubble).

"Ketika bubble itu burst, pecah, maka terjadi kolaps di sistem perbankan, atau terjadi krisis di sistem keuangan. Seperti 2008 di Amerika Serikat dan sebagainya, terjadi bubble," katanya.

Sejauh ini Juda tidak melihat tiga faktor krisis ekonomi tersebut di Indonesia.

"Jadi tiga sumber krisis itu tidak ada di dalam data-data yang kita amati sampai dengan hari ini," pungkasnya.

Editor: Dicky Prastya

Tag:  #wamenkeu #ungkap #sumber #krisis #ekonomi #negara #gimana #nasib

KOMENTAR