Inflasi Singapura 1,8 Persen, Lebih Rendah dari Perkiraan
Patung Merlion di Merlion Park, Singapura(Shutterstock/Richie Chan)
18:12
25 Mei 2026

Inflasi Singapura 1,8 Persen, Lebih Rendah dari Perkiraan

- Inflasi utama Singapura pada April 2026 tercatat 1,8 persen atau lebih rendah dari perkiraan sebelumnya sebesar 2 persen.

Inflasi Singapura didorong oleh sektor jasa, ritel, dan barang lainnya yang lebih kecil.

Sementara itu, inflasi inti yang tidak termasuk harga transportasi pribadi dan akomodasi tercatat 1,4 persen dibandingkan dengan ekspektasi sebesar 1,7 persen.

Namun, Kementerian Perdagangan Singapura dan Otoritas Moneter Singapura mengatakan, tekanan biaya impor negara kota itu diperkirakan akan meningkat dan meluas dalam beberapa bulan mendatang.

Baca juga: Ekonomi Singapura Tumbuh 6 Persen pada Kuartal I 2026, Ini Penopangnya

“Karena biaya energi dan input lainnya yang lebih tinggi akibat perkembangan di Timur Tengah berdampak pada rantai pasokan global, hal itu akan meningkatkan biaya produksi dan transportasi untuk berbagai barang dan jasa impor Singapura,” kata Otoritas Moneter Singapura, dikutip dari CNBC, Senin (25/5/2026).

Otoritas Moneter Singapura memperkirakan inflasi utama dan inflasi inti akan berada di kisaran 1,5-2,5 persen untuk 2026.

Analis pasar di platform perdagangan eToro, Zavier Wong menggambarkan angka tersebut sebagai kejutan positif yang ringan.

Menurut dia, adanya perundingan perdamaian di Timur Tengah yang tampaknya mengalami kemajuan dan harga minyak yang turun baru-baru ini, membuka jalan yang kredibel menuju pengurangan biaya impor di akhir tahun ini.

Sebelumnya, Singapura merevisi pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal I-2026 secara signifikan menjadi 6 persen.

Angka itu naik dari 4,6 persen dalam perkiraan awal, dan melampaui perkiraan Reuters sebesar 5,1 persen.

Kementerian perdagangan dan industri negara tersebut mengatakan pertumbuhan tahunan Singapura akan berada di kisaran 2-4 persen pada 2026, di tengah gangguan terkait energi di Selat Hormuz.

Pada April, Monetary Authority of Singapore (MAS) memperketat kebijakan moneternya untuk pertama kalinya dalam sekitar tiga tahun karena prospek inflasi.

Berbeda dengan kebanyakan negara, Singapura tidak menggunakan suku bunga untuk mengelola kebijakan moneternya, melainkan mengarahkan nilai tukar dollar Singapura dalam kisaran kebijakan tertentu terhadap sekeranjang mata uang yang bobotnya disesuaikan dengan perdagangan.

Dollar Singapura dikelola dalam rentang kebijakan yang telah ditetapkan, yang tingkat pastinya tidak diungkapkan.

Baca juga: Harga Ekspor Diduga Dimainkan lewat Singapura, Purbaya Bentuk Tim Khusus

Tag:  #inflasi #singapura #persen #lebih #rendah #dari #perkiraan

KOMENTAR