Stok Gas Eropa Bisa Habis dalam 3 Bulan akibat Krisis Hormuz
Ilustrasi kapal tanker LNG.(PEXELS/DIEGO F PARRA)
19:16
25 Mei 2026

Stok Gas Eropa Bisa Habis dalam 3 Bulan akibat Krisis Hormuz

Eropa menghadapi ancaman krisis energi baru setelah gangguan pengiriman gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) melalui Selat Hormuz berlangsung berbulan-bulan.

Dikutip dari Reuters, Senin (25/5/2026), perusahaan energi asal Norwegia, Equinor, memperingatkan stok gas Eropa bisa memasuki level kritis jika jalur pelayaran strategis tersebut tetap terganggu selama satu hingga tiga bulan ke depan.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur energi paling penting di dunia. Kawasan ini menjadi lintasan sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas global.

Baca juga: Siasat PGN di IPA Convex 2026, Perkuat Pasokan Gas Nasional lewat Jalur Pipa dan LNG

Ilustrasi kapal tanker LNG. WIKIMEDIA COMMONS/GORDON LEGGETT Ilustrasi kapal tanker LNG.

Konflik yang berkepanjangan di kawasan Timur Tengah membuat lalu lintas tanker LNG dan minyak terganggu, sehingga memicu lonjakan kekhawatiran terhadap pasokan energi dunia.

Reuters melaporkan, tingkat penyimpanan gas Eropa saat ini hanya sedikit di atas 35 persen. Angka tersebut jauh di bawah rata-rata musiman yang biasanya mendekati 50 persen pada periode yang sama.

Kondisi ini juga masih jauh dari target Uni Eropa yang menginginkan kapasitas penyimpanan mencapai 90 persen sebelum musim dingin tiba.

Senior Vice President Gas and Power Market Equinor, Helle Ostergaard Kristiansen, mengatakan Eropa masih memiliki peluang memperbaiki situasi apabila gangguan segera berakhir.

Baca juga: Menakar LNG dengan Presisi demi Menjaga Kepercayaan Pasar

Namun, risiko akan meningkat drastis jika krisis berkepanjangan.

“Jika konflik berakhir sekarang, kami mungkin masih bisa mencapai sekitar 75 persen kapasitas penyimpanan,” ujar Kristiansen.

Ilustrasi fasilitas LNG.PEXELS/TOM FISK Ilustrasi fasilitas LNG.

Namun, ia menambahkan, apabila gangguan berlangsung satu hingga tiga bulan lagi, situasi dapat berubah menjadi kritis bagi kawasan Eropa.

Stok gas Eropa menipis

Kondisi penyimpanan gas Eropa memang sudah berada di bawah tekanan bahkan sebelum konflik memanas.

Baca juga: Harga LNG Global Naik, Pakar Minta Pasokan Domestik Dijaga

Musim dingin yang lebih panjang dan permintaan energi yang tetap tinggi membuat cadangan gas terkuras lebih cepat dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Data yang dikutip GMK Center menunjukkan tingkat penyimpanan gas Uni Eropa pada awal April 2026 berada di kisaran 28 persen, level yang disebut lebih rendah dibanding tiga tahun terakhir dan mendekati kondisi sebelum krisis energi Eropa sebelumnya.

Di sisi lain, proses pengisian ulang penyimpanan gas juga tidak berjalan optimal. Reuters melaporkan harga kontrak gas musim dingin saat ini justru lebih murah dibanding musim panas. 

Kondisi tersebut membuat perusahaan energi tidak memiliki insentif ekonomi yang kuat untuk menyimpan gas dalam jumlah besar.

Baca juga: Pasar Energi Asia Bergejolak, Harga LNG dan Solar Industri Naik

Selain itu, pasokan LNG global juga semakin ketat akibat tingginya permintaan dari Asia.

Gangguan pengiriman melalui Selat Hormuz membuat Eropa harus bersaing lebih keras dengan negara-negara Asia untuk mendapatkan kargo LNG.

Oilprice.com melaporkan kombinasi antara gangguan pasokan LNG, tingginya permintaan Asia, dan struktur harga gas yang tidak menguntungkan telah membuat pengisian penyimpanan gas di Eropa menjadi jauh lebih sulit dan mahal.

Harga gas terancam melonjak

Tekanan terhadap pasokan membuat harga gas Eropa berpotensi meningkat lebih tinggi dalam beberapa bulan ke depan.

Baca juga: Qatar Kembali Kirim LNG Lewat Selat Hormuz di Tengah Konflik Iran

Ilustrasi pipa gas.SHUTTERSTOCK/KLOTR Ilustrasi pipa gas.

Equinor memperkirakan harga acuan Dutch TTF dapat melonjak hingga 90 euro per megawatt hour (MWh) apabila gangguan terus berlanjut.

Sebagai perbandingan, harga gas Eropa saat ini berada di sekitar 50 euro per MWh setelah sempat menyentuh 74 euro per MWh pada Maret lalu.

Lonjakan harga tersebut diperkirakan akan memaksa industri mengurangi konsumsi energi. Equinor menyebut mekanisme pasar kemungkinan akan “mengoreksi” situasi melalui kenaikan harga yang menekan permintaan.

Vice President Gas and Power Trading Equinor, Peder Bjorland, mengatakan konsumsi gas untuk pembangkit listrik saja bisa turun hingga 10 miliar meter kubik apabila harga naik ke kisaran 60 hingga 70 euro per MWh.

Baca juga: IEA: Krisis Timur Tengah Ganggu Pasokan LNG Global hingga 2027

Penurunan konsumsi tersebut dapat terjadi melalui pengalihan penggunaan energi ke sumber lain, termasuk energi terbarukan maupun bahan bakar alternatif.

Risiko terhadap industri Eropa

Krisis gas berpotensi memperbesar tekanan terhadap industri Eropa yang dalam beberapa tahun terakhir sudah menghadapi biaya energi tinggi. Industri manufaktur, baja, pupuk, hingga petrokimia menjadi sektor yang paling rentan terhadap lonjakan harga gas.

Atlantic Council menyebut konflik Iran telah menghentikan sebagian besar lalu lintas tanker melalui Selat Hormuz, sehingga mengganggu pasokan minyak dan LNG global.

Kondisi tersebut membuat Eropa kembali berada dalam posisi rentan terhadap guncangan energi eksternal. Apalagi setelah berkurangnya ketergantungan pada gas Rusia dalam beberapa tahun terakhir, LNG menjadi salah satu sumber utama pasokan energi Eropa.

Baca juga: Lalu Lintas Selat Hormuz Didominasi Tanker, LNG Nihil

Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA) juga mencatat harga gas acuan Dutch TTF Eropa telah naik lebih dari 45 persen sejak akhir Februari hingga awal Mei 2026 akibat terganggunya lalu lintas energi di Selat Hormuz.

Selat Hormuz saat dilihat dari Satelit Terra milik NASA pada 5 Februari 2025.NASA EARTH OBSERVATORY via AFP Selat Hormuz saat dilihat dari Satelit Terra milik NASA pada 5 Februari 2025.

Kenaikan harga energi tersebut tidak hanya memukul industri, tetapi juga berpotensi meningkatkan inflasi dan memperlambat pertumbuhan ekonomi kawasan.

Pasar berharap Selat Hormuz kembali normal

Meski risiko masih tinggi, pasar energi global mulai menunjukkan optimisme terhadap kemungkinan membaiknya situasi geopolitik di Timur Tengah.

Pasar saham Eropa menguat setelah muncul optimisme terkait negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz.

Baca juga: LNG Qatar Diserang Iran, Bos Energi: Sudah Diingatkan sejak Awal

Optimisme serupa juga terlihat di pasar gas Eropa. Wall Street Journal melaporkan harga gas Eropa turun sekitar 5 persen setelah muncul harapan kemajuan pembicaraan antara AS dan Iran.

Namun, analis menilai risiko belum sepenuhnya hilang. Penurunan harga gas justru dapat menjadi tantangan baru bagi Eropa karena membuat kawasan tersebut kurang menarik dibanding Asia dalam perebutan pasokan LNG global.

ING dalam laporan yang dikutip Wall Street Journal menyebut selisih harga antara pasar LNG Asia dan Eropa semakin melebar. Situasi itu dapat membuat lebih banyak kargo LNG dialihkan ke Asia ketimbang Eropa.

IEA peringatkan pasar energi memasuki “zona merah”

Tidak hanya pasar gas, pasar minyak global juga mulai menghadapi tekanan serius akibat terganggunya Selat Hormuz.

Baca juga: QatarEnergy Hentikan Produksi LNG Usai Diserang Iran, Pasokan Global Terancam

IEA memperingatkan pasar minyak dunia bisa memasuki “zona merah” pada Juli atau Agustus 2026 akibat menyusutnya pasokan global.

Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol mengatakan kombinasi antara tingginya permintaan musim panas, menipisnya stok minyak, dan berkurangnya ekspor energi dari Timur Tengah membuat situasi semakin berisiko.

Komandan Perancis Thomas Scalabre saat menunjuk posisi kapal-kapal di Selat Hormuz, dalam layar di MICA (Maritime Information and Cooperation Awareness) di Brest, Perancis, 27 April 2026.AFP/FRED TANNEAU Komandan Perancis Thomas Scalabre saat menunjuk posisi kapal-kapal di Selat Hormuz, dalam layar di MICA (Maritime Information and Cooperation Awareness) di Brest, Perancis, 27 April 2026.

Menurut IEA, gangguan di Selat Hormuz telah menghilangkan lebih dari 14 juta barrel per hari pasokan minyak global, yang disebut sebagai gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak dunia.

Untuk meredam tekanan pasar, negara-negara anggota IEA telah melepaskan sekitar 400 juta barrel cadangan strategis minyak.

Baca juga: Gangguan Selat Hormuz, Harga LNG Global Terancam Naik 130 Persen

Namun, Birol menilai langkah tersebut hanya bersifat sementara dan tidak cukup apabila Selat Hormuz tidak segera dibuka kembali.

Reuters dalam analisisnya juga menyebut cadangan energi global terus terkuras seiring berlanjutnya gangguan pasokan. Jika situasi tidak berubah, pasar energi dunia diperkirakan menghadapi tekanan lebih besar pada paruh kedua tahun ini.

Tag:  #stok #eropa #bisa #habis #dalam #bulan #akibat #krisis #hormuz

KOMENTAR