Tren Investasi Semakin Beragam, Generasi Muda Mulai Pahami Pentingnya Diversifikasi
Awal 2026 menjadi momen spesial bagi Yusan (29). Setelah berhasil berangkat umrah bersama ibunya pada Januari lalu, tiga bulan kemudian ia kembali bepergian ke China bersama sahabatnya.
Bagi perempuan asal Bandung, Jawa Barat, itu, dua perjalanan tersebut bukan hasil impulsif, melainkan buah dari kebiasaan mengatur keuangan dan investasi yang sudah dibangun sejak lama.
“Sejak SD, aku memang sudah terbiasa nyisihin uang jajan. Dulu bentuknya sederhana, cuma nabung biasa. Bahkan, sempat ikut investasi beli sapi juga,” ujarnya saat dihubungi Kompas.com, Kamis (14/5/2026).
Kebiasaan tersebut terus berlanjut ketika ia mulai bekerja. Penghasilannya tak lagi hanya disimpan di rekening tabungan. Yusan mulai belajar opsi investasi lain hingga akhirnya memilih reksa dana dan saham.
Baca juga: Gaji Sering “Bocor Halus”? Cara Simpel Ini yang Lagi Ngetren di Kalangan Anak Muda
Namun, semakin banyak instrumen yang dimiliki, semakin besar pula tantangan yang dihadapi. Yusan mengaku, ia sempat kewalahan menjaga konsistensi investasi sambil tetap memenuhi kebutuhan harian.
“Kadang uang untuk investasi tercampur sama kebutuhan bulanan. Belum lagi harus buka beberapa aplikasi buat cek saldo, investasi, dan pengeluaran. Lama-lama bikin ribet,” katanya.
Generasi muda makin aktif berinvestasi
Pengalaman Yusan menjadi gambaran perubahan perilaku finansial masyarakat Indonesia saat ini. Investasi memang semakin diminati, terutama di kalangan generasi muda yang akrab dengan layanan keuangan digital.
Data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menunjukkan jumlah investor pasar modal Indonesia mencapai 20,32 juta Single Investor Identification (SID) pada akhir 2025 atau meningkat sekitar 37 persen jika dibandingkan tahun sebelumnya.
Baca juga: 5 Prinsip Investasi Warren Buffett agar Tak Rugi di Pasar Saham
Sementara itu, dalam kuliah umum "Sosialisasi dan Edukasi Pasar Modal Terpadu 2025" di Padang, Jumat (21/2/2025), Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Inarno Djajadi merinci, per Desember 2024, mayoritas investor berasal dari kelompok usia di bawah 30 tahun dengan persentase 54,83 persen. Total aset mereka mencapai Rp 54,12 triliun.
Yusan dan sang ibu saat umrah pada Januari 2026.
Meningkatnya jumlah investor muda menunjukkan bahwa investasi kini mulai menjadi bagian dari gaya hidup finansial generasi muda.
Namun, di tengah tren tersebut, pemahaman mengenai pengelolaan risiko dan diversifikasi investasi juga dinilai semakin penting.
Diversifikasi investasi merupakan strategi membagi dana ke beberapa instrumen berbeda agar risiko tidak bertumpu pada satu jenis investasi saja. Dengan cara tersebut, kondisi keuangan dinilai lebih stabil ketika pasar mengalami fluktuasi.
Kian nyaman berinvestasi secara digital
Kehadiran ekosistem keuangan digital turut membuat proses investasi terasa lebih sederhana dan dekat dengan kebiasaan sehari-hari generasi muda. Kini, masyarakat dapat mengatur pengeluaran, menabung, hingga berinvestasi melalui layanan yang saling terhubung dalam satu aplikasi. Misalnya, lewat aplikasi Jago.
Baca juga: Nasabah Bank Jago Kini Bisa Pantau Seluruh Portofolio Investasi di Satu Aplikasi
Head of Digital Lending Business Bank Jago Irene Santoso mengatakan, tren tersebut terlihat dari peningkatan jumlah pengguna Aplikasi Jago yang terhubung dengan platform investasi mitra, seperti Bibit dan Stockbit.
“Seiring meningkatnya kebutuhan dan literasi nasabah dalam pengelolaan keuangan, pengguna Aplikasi Jago semakin aktif berinvestasi. Hal ini tecermin dari pengguna Aplikasi Jago yang terhubung dengan platform investasi mitra Bibit dan Stockbit yang terus meningkat sebesar 38,2 persen secara tahunan per 31 Desember 2025,” ujar Irene dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Selasa (19/5/2026).
Menurut dia, minat masyarakat terhadap investasi juga semakin beragam. Dari sisi komposisi investasi, reksa dana menjadi instrumen yang paling banyak dipilih dengan porsi 44 persen, disusul saham sebesar 42 persen, dan obligasi sebesar 14 persen.
Baca juga: Strategi Budgeting Ala Gen Z: Kelola Uang dengan Kantong Digital
Irene menilai, kondisi tersebut menunjukkan bahwa masyarakat mulai memahami pentingnya diversifikasi investasi untuk mengelola risiko sekaligus mencapai tujuan keuangan jangka panjang.
“Minat investasi yang meningkat di pasar saham juga terlihat dari pembukaan rekening dana nasabah (RDN) Bank Jago yang naik lebih dari dua kali lipat sepanjang 2025,” kata Irene.
Tampilan portofolio investasi di aplikasi Jago
Kemudahan integrasi dengan platform investasi juga membantu pengguna memantau perkembangan aset secara lebih praktis. Melalui tampilan portofolio investasi di aplikasi Jago, nasabah dapat melihat berbagai aset investasi dalam satu tampilan, termasuk investasi yang tercatat di KSEI.
Langkah sederhana memulai investasi
Di tengah tren investasi yang semakin berkembang, ada beberapa langkah sederhana yang dapat diterapkan generasi muda saat mulai berinvestasi.
Pertama, tentukan tujuan keuangan sejak awal. Dengan begitu, kita bisa memilih instrumen investasi yang paling sesuai, baik untuk kebutuhan jangka pendek, menengah, maupun panjang.
Baca juga: Tips Nabung untuk Liburan Seru Tanpa Bikin Kantong Jebol
Kedua, pahami dulu profil risiko sebelum memilih instrumen investasi. Dengan mengenali tingkat toleransi terhadap risiko, investor bisa lebih mudah menentukan produk yang sesuai dengan tujuan keuangan serta jangka waktu investasinya.
Ketiga, mulailah berinvestasi secara rutin, meski dari nominal kecil. Konsistensi ini penting untuk membangun kebiasaan mengelola keuangan dalam jangka panjang, sekaligus membantu memaksimalkan potensi pertumbuhan investasi dari waktu ke waktu.
Selain konsisten berinvestasi, investor juga perlu menerapkan konsep “set and don’t forget”. Artinya, setelah mulai membeli instrumen investasi, portofolio tetap perlu dipantau dan dievaluasi secara berkala agar tetap sesuai dengan tujuan keuangan dan kondisi pasar.
Diversifikasi investasi juga penting dilakukan agar risiko tidak bergantung pada satu instrumen saja. Misalnya, dengan mengombinasikan tabungan, reksa dana pasar uang, reksa dana saham, hingga saham sesuai profil risiko, tujuan, dan jangka waktu keuangan masing-masing.
Bagi investor pemula, pendekatan tersebut dinilai dapat membantu menjaga kestabilan portofolio sekaligus membuat kebiasaan investasi terasa lebih realistis dijalani dalam jangka panjang.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya
A member of
Follow our mission at
sustainabilityimpactconsortium.asia
Tag: #tren #investasi #semakin #beragam #generasi #muda #mulai #pahami #pentingnya #diversifikasi