Biaya Kesehatan Tinggi Hantui Dana Pensiun Hari Tua Lansia
Ilustrasi layanan kesehatan untuk lansia.(UNSPLASH/AGE CYMRU)
16:44
8 Juni 2026

Biaya Kesehatan Tinggi Hantui Dana Pensiun Hari Tua Lansia

Dalam menghadapi masa pensiun, lansia menghadapi tantangan karena biaya kesehatan yang terus meningkat.

Potensi tambahan pengeluaran di masa pensiun ini tak jarang luput dari penghitungan dana pensiun secara keseluruhan.

Dengan demikian, biaya hidup untuk pensiun kerap tergerus dengan biaya kesehatan yang tak terduga ini.

Baca juga: Anak Sudah Dewasa, Mengapa Keuangan Lansia Masih Tertekan?

Ilustrasi lansia.PEXELS/JIMMY CHAN Ilustrasi lansia.

Perencana keuangan sekaligus Founder Finante.id, Rista Zwestika mengatakan, salah satu ancaman terbesar pensiunan saat ini bukan inflasi, melainkan inflasi kesehatan (medical inflation).

"Kenaikannya sering lebih tinggi dibanding inflasi umum," kata dia kepada Kompas.com, Senin (8/6/2026).

Sedikit catatan, data Bank Dunia menunjukkan pengeluaran kesehatan per kapita Indonesia meningkat dari sekitar 118 dollar AS pada 2019 menjadi sekitar 132 dollar AS pada 2023.

Ia menambahkan, saat ini banyak keluarga merasa dana pensiunnya cukup, tetapi habis karena biaya seperti rawat inap, operasi, penyakit kritis, hingga obat-obatan jangka panjang.

Baca juga: Cara Mengelola Dana Darurat untuk Lansia, Hindari 5 Kesalahan Ini

Untuk itu, Rista menyampaikan, terdapat beberapa strategi yang bisa dilakukan oleh pensiunan untuk dapat mencegah hal tersebut.

Pertama, lansia wajib memiliki BPJS Kesehatan yang aktif.

BPJS Kesehatan tetap menjadi fondasi utama perlindungan kesehatan karena menanggung banyak penyakit katastropik yang biayanya sangat mahal.

Ilustrasi layanan kesehatan.FREEPIK/FREEPIK Ilustrasi layanan kesehatan.

Pisah anggaran dana kesehatan

Selanjutnya, lansia harus memisahkan anggaran untuk dana kesehatan lansia.

Baca juga: Bank Mandiri Taspen Dorong Lansia Tetap Aktif dan Sejahtera

Menurut Rista, lansia idealnya memiliki dana kesehatan khusus setara 12 sampai 24 kali biaya hidup bulanan.

Sebagai ilustrasi, misalnya seorang lansia memiliki biaya hidup Rp 8 juta per bulan.

Dengan rumus di atas, maka dana kesehatan minimal yang harus dimiliki adalah sebesar Rp 96 juta sampai Rp 192 juta.

Kemudian, Rista juga mengimbau lansia untuk menjaga kesehatan sejak usia produktif.

Baca juga: Mengapa Dana Darurat Penting bagi Lansia di Era Aging Population?

"Secara finansial, pencegahan jauh lebih murah daripada pengobatan," ucap dia.

Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan untuk menjaga kesehatan misalnya adalah olahraga rutin, pola makan yang sehat, pemeriksaan kesehatan berkala, mengendalikan gula darah, kolesterol, hingga tekanan darah.

Evaluasi asuransi sebelum pensiun

Lansia juga diharapkan dapat mengevaluasi asuransi kesehatan sebelum pensiun.

Rista menerangkan, langkah ini penting karena ketika usia semakin tua, premi asuransi akan semakin mahal dan risiko pengajuan ditolak semakin besar.

Baca juga: Indonesia Masuki Aging Population, 10 Provinsi Ini Punya Lansia Terbanyak

"Maka perlindungan kesehatan sebaiknya disiapkan saat masih produktif," ungkap dia.

Sementara itu, perencana keuangan independen Andy Nugroho menjelaskan, biaya kesehatan kerap kali menjadi pengeluaran yang menggerus dana pensiun lansia.

Untuk itu lansia diharapkan memiliki tabungan secara mandiri sejak jauh hari.

Tabungan ini khusus diperuntukkan kebutuhan biaya kesehatan di masa depan.

Ilustrasi lansia  Getty Images Ilustrasi lansia

Baca juga: Indonesia Masuk Fase Aging Population, Lansia Tembus 11,97 Persen

Seorang pensiunan juga dapat menggunakan dana pensiun yang tersedia untuk melakukan pengobatan yang diperlukan.

"Pastikan status kepesertaan BPJS terus aktif," ungkap dia.

Andy juga mengimbau, sebelum pensiun, seseorang dapat mengikuti program asuransi kesehatan swasta.

"Sehingga biaya preminya akan lebih murah dibandingkan dengan bila baru ikut pasca pensiun," ucap dia.

Baca juga: Kemenkeu: Biaya Hidup 80 Persen Lansia Bergantung pada Anak

Biaya kesehatan memang kerap kali menjadi pengeluaran tak terduga yang menggerus dana pensiun para lansia.

Ketika tidak diantisipasi dengan matang, pos pengeluaran ini berpotensi mengganggu stabilitas tabungan hari tua yang lain.

Komponen biaya kesehatan lansia

Perencana keuangan dari Mitra Rencana Edukasi (MRE) Mike Rini Sutikno menjelaskan, masyarakat perlu memahami terlebih dahulu komponen rata-rata biaya kesehatan lansia untuk membangun strategi penanganan yang tepat.

Menurut Mike, komponen tersebut meliputi obat-obatan rutin, rawat jalan, rawat inap, pemeriksaan kesehatan berkala (medical check-up), hingga biaya pengasuh (caretaker).

Baca juga: Gen Z dan Lansia: Dua Kutub, Satu Nasib

Faktor penentu lainnya yang sering kali memakan biaya besar adalah penanganan penyakit kritis atau kecelakaan fatal.

"Kalau terkena penyakit kritis atau mengalami kecelakaan yang fatal misalnya, nah itu biaya rawat inap, ya itu sangat berdampak biasanya. Sangat karena biayanya lebih besar dari biaya obat-obatan rutin," kata Mike.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, ia menyarankan penerapan proteksi berlapis (double protection) agar dana pensiun tidak terus-menerus tergerus.

Ilustrasi pensiun, tabungan pensiun, dana pensiun. Anak pensiunan PNS, TNI, Polri daftar KIP Kuliah. SHUTTERSTOCK/KHONGTHAM Ilustrasi pensiun, tabungan pensiun, dana pensiun. Anak pensiunan PNS, TNI, Polri daftar KIP Kuliah.

Sebagai lapisan pertama, masyarakat wajib memiliki jaminan kesehatan nasional.

Baca juga: Jumlah Lansia Bekerja di Korsel Tembus Rekor Tertinggi Tahun Ini

"Menyesuaikan dengan kemampuan rata-rata masyarakat Indonesia, maka setidaknya kita itu harus punya BPJS Kesehatan. Ini, ini lapisan pertamanya," imbuh dia.

Meskipun demikian, Mike mengingatkan adanya limitasi dalam layanan BPJS Kesehatan, seperti tidak mencakup seluruh jenis obat serta adanya waktu tunggu antrean yang panjang.

Guna menutup celah kekurangan (gap coverage) tersebut, masyarakat dapat memanfaatkan lapisan proteksi kedua berupa asuransi komersial.

"Lapisan kedua, Anda boleh tambah dengan asuransi kesehatan swasta, ya sebagai tambahan. Di sini sebenarnya tambahan ini fokus pada gap coverage dari BPJS-nya," papar dia.

Baca juga: Asabri Bikin Sekolah Lansia untuk Peserta Pensiun, Apa Kegiatannya?

Mike mengimbau agar pemilihan asuransi swasta disesuaikan dengan kemampuan finansial lansia, dengan nominal premi yang terjangkau.

"Premi terjangkau supaya tidak terlalu menggerus dana pensiun dari si lansianya. Nah, premi terjangkau ini coba dicari antara Rp 200.000, ya per bulan, Rp 500.000 per bulan gitu," tambahnya.

Sebagai alternatif tambahan, lansia juga dapat mempertimbangkan produk asuransi lain seperti asuransi penyakit kritis tanpa tes kesehatan, asuransi kecelakaan, hingga asuransi perawatan jangka panjang (long term care insurance).

Sedikit catatan, biaya kesehatan yang terus meningkat juga terekam dalam pembayaran klaim industri asuransi kesehatan.

Baca juga: Populasi Jepang Turun 14 Tahun Berturut-turut, Jumlah Lansia Sentuh Rekor Tertinggi

Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) melaporkan, klaim asuransi kesehatan tercatat mencapai Rp 6,72 triliun pada kuartal I-2026.

Ilustrasi asuransi kesehatan. SHUTTERSTOCK/VALERI LUZINA Ilustrasi asuransi kesehatan.

Angka tersebut naik 15,3 persen secara tahunan dibandingkan periode yang sama tahun lalu senilai Rp 5,83 triliun.

Peningkatan biaya kesehatan ini sejalan dengan hasil laporan kesehatan dari Willis Towers Watson (WTW) inflasi kesehatan Indonesia dapat mencapai 15,1 persen.

Strategi mengatur arus kas

Di samping aspek asuransi, Mike menekankan pentingnya strategi pengelolaan arus kas (cash flow management).

Baca juga: Potensi Pasar Nutrisi Lansia di Indonesia: Peluang dan Tantangan

Ia menyarankan alokasi khusus dari pos dana pensiun secara disiplin untuk kebutuhan medis.

"Jadi alokasikan 10 sampai 15 persen dari dana pensiunnya untuk biaya kesehatan rutin, kemudian 5 sampai 10 persen sebagai emergency fund khusus kesehatan," jelas Mike.

Ia juga menambahkan, pemeriksaan kesehatan berkala merupakan bagian dari mitigasi finansial yang sangat berharga.

"Medical check-up rutin untuk lansia itu menurut saya bagian dari bagian dari mitigasi, ya mitigasi biaya kesehatan gitu, ya, supaya yang namanya maintain kesehatan itu menjadi bagian sebenarnya dari strategi pengelolaan biaya kesehatan lansia," tutur Mike.

Baca juga: 1 dari 7 Pekerja di Jepang adalah Lansia, Capai Rekor Tertinggi

Sebagai langkah pencegahan terakhir yang dinilai paling efektif, Mike mendorong para lansia untuk konsisten menerapkan gaya hidup sehat guna meminimalkan risiko serangan penyakit di masa tua.

"Pencegahan yang menurut saya terbukti efektif adalah kita menerapkan gaya hidup sehat. Aktivitas rutin, diet sehat, manajemen stres, kemudian juga medical check-up sebagai skrining kesehatan berkala untuk deteksi dini, nah itu perlu dijalankan," tutup Mike.

Sebagai informasi, Indonesia resmi memasuki fase aging population atau penuaan penduduk.

Hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 menunjukkan proporsi penduduk lanjut usia (lansia) mencapai 11,97 persen dari total populasi, melampaui ambang batas 10 persen yang menjadi indikator sebuah negara memasuki fase penuaan penduduk.

Baca juga: Di DPR, Tangis Risma Pecah Saat Mendengar Kisah Lansia Sebatang Kara Tak Dapat Bansos

Kondisi tersebut menandai perubahan besar dalam struktur demografi Indonesia.

Jumlah lansia yang terus meningkat menghadirkan tantangan baru, tidak hanya bagi pemerintah, tetapi juga bagi keluarga yang menjadi garda terdepan dalam perawatan dan pemenuhan kebutuhan kelompok usia lanjut.

Tag:  #biaya #kesehatan #tinggi #hantui #dana #pensiun #hari #lansia

KOMENTAR