Efek BI Rate: Rupiah Pagi Menguat ke Level 17.908, IHSG Naik ke Kisaran 5.800
- Nilai tukar rupiah di pasar spot dibuka menguat pada awal perdagangan Rabu (10/6/2023). Mata uang Garuda terapresiasi 0,83 persen ke level Rp 17.908 per dollar Amerika Serikat.
Sejalan dengan itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga melonjak lebih dari 1 persen di awal perdagangan Rabu pagi ini.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG naik 68,40 poin atau 1,19 persen ke area 5.815,049.
Padahal, sesaat setelah pembukaan perdagangan, indeks sempat tertekan sementara hingga menyentuh angka terendah di 5.677,965.
Baca juga: Di Balik Langkah Mendadak BI Naikkan Suku Bunga Acuan
IHSG dibuka di 5.744,059 dan langsung bergerak volatil.
Setelah sempat jatuh lebih dari 60 poin di menit-menit pertama, indeks berbalik arah dan melesat hingga mencapai angka tertinggi di 5.838,930, sebelum bergerak di kisaran 5.800.
Penguatan indeks juga ditopang oleh mayoritas saham yang berada di zona hijau.
Sebanyak 390 saham menguat, sementara 150 saham melemah dan 165 saham bergerak stagnan.
Aktivitas awal perdagangan terpantau cukup ramai.
Volume transaksi mencapai 4,123 miliar saham dengan frekuensi perdagangan sebanyak 287.516 kali.
Adapun nilai transaksi tercatat menyentuh Rp 3,207 triliun.
Pulihnya pasar keuangan domestik setelah Bank Indonesia (BI) memutuskan menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,50 persen.
Keputusan itu diumumkan setelah bank sentral menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG), Selasa.
Keputusan BI diyakini tidak hanya bertujuan menahan pelemahan rupiah, namun berpotensi membuka kembali arus modal asing masuk ke pasar keuangan domestik.
Dengan imbal hasil aset yang lebih kompetitif, investor global diperkirakan melirik kembali pasar obligasi alias bond market sebelum secara bertahap mengalirkan dana ke pasar saham, sehingga membuka peluang pemulihan likuiditas dan sentimen positif di bursa efek.
Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), Ahmad Faris Mu’tashim, menilai peluang dana asing masuk cukup terbuka.
Kendati proses masuknya tidak akan terjadi secara instan ke pasar saham, tetapi melalui tahapan yang mengikuti siklus likuiditas di pasar keuangan.
Menurutnya, instrumen yang pertama kali merespons kenaikan suku bunga biasanya pasar obligasi.
Ketika BI menaikkan suku bunga, imbal hasil atau yield obligasi pemerintah ikut meningkat sehingga menjadi lebih menarik dibandingkan sebelumnya.
“Potensinya sangat terbuka, tapi alurnya akan bertahap melalui siklus likuiditas. Keputusan BI menaikkan suku bunga ini instrumen pertama yang akan langsung merespons dan menarik dana asing adalah pasar obligasi, karena yield yang ditawarkan jadi jauh lebih kompetitif,” ujar Faris saat dihubungi Kompas.com, Selasa (9/6/2023).
Dampak kenaikan BI Rate
Lalu, seberapa besar pengaruh kenaikan BI Rate terhadap valuasi saham-saham di BEI?
Kenaikan BI Rate sebesar 75 basis poin sepanjang 2023 dinilai punya dampak terhadap valuasi saham-saham di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Faris mencatat, secara teori dan perhitungan keuangan, kenaikan suku bunga akan memicu proses revaluasi di bursa karena investor harus menyesuaikan kembali ekspektasi terhadap nilai wajar suatu saham.
“Secara matematis, kenaikan suku bunga sebesar 75 bps (basis poin) dalam waktu yang relatif singkat ini pasti akan memicu terjadinya revaluasi di pasar,” imbuhnya.
Itu terjadi karena suku bunga yang lebih tinggi akan meningkatkan tingkat diskonto (discount rate) yang digunakan dalam menghitung valuasi saham.
Ketika tingkat diskonto naik, nilai saat ini (present value) dari potensi arus kas dan keuntungan perusahaan di masa depan menjadi lebih rendah.
Akibatnya, valuasi saham yang sebelumnya dianggap murah atau wajar bisa berubah menjadi lebih mahal, sehingga pasar cenderung melakukan penyesuaian harga.
“Suku bunga yang lebih tinggi otomatis menaikkan tingkat diskonto dalam perhitungan wajar saham, yang efeknya bisa membuat valuasi saham di BEI cenderung menyusut atau terlihat lebih ketat,” lanjut dia.
Dalam kondisi seperti ini, ruang kenaikan harga saham umumnya menjadi lebih terbatas dibandingkan saat suku bunga berada pada level rendah.
Menurut Faris, hal tersebut membuat investor menjadi jauh lebih selektif dalam memilih saham.
Fokus pasar akan bergeser ke perusahaan yang memiliki fundamental kuat, arus kas sehat, serta tingkat utang yang relatif rendah.
“Kondisi ini akan membuat investor menjadi jauh lebih selektif dalam memilih saham, di mana mereka akan lebih menghindari emiten yang sensitif terhadap beban bunga tinggi,” kata dia.
Baca juga: BI Rate Naik Jadi 5,50 Persen, Dana Asing Bakal Kembali Masuk Indonesia?
Tag: #efek #rate #rupiah #pagi #menguat #level #17908 #ihsg #naik #kisaran #5800