Bitcoin Masuki Zona Valuasi Bearish, Dipicu Inflasi AS Masih Tinggi
ilustrasi harga Bitcoin. (canva.com)
12:36
11 Juni 2026

Bitcoin Masuki Zona Valuasi Bearish, Dipicu Inflasi AS Masih Tinggi

- Bitcoin mulai memasuki zona bearish (tren penurunan) setelah selama 200 minggu mengalami tren negatif terus menerus.

Secara keseluruhan, valuasi Bitcoin turun 10 persen.

"Bitcoin diperdagangkan di dekat level yang biasanya hanya dicapai pada akhir pasar bearish, dan tetap bertahan di level tersebut bahkan setelah angka inflasi Amerika Serikat (AS) dalam tiga tahun terakhir," lapor CoinDesk, Kamis (11/6/2026).

Baca juga: Bitcoin dan Ethereum Hari Ini Naik, Potensi Bullish?

Bitcoin sempat menembus angka 60.000 dollar AS (1,01 miliar kurs Rp 17.944) minggu ini untuk pertama kalinya sejak 2024 dan diperdagangkan pada 62.623 dollar AS (Rp 1,12 miliar) pada hari Kamis, naik 1,9 persen tetapi lebih rendah selama seminggu, dengan arus keluar ETF (Exchange Traded Fund) masih menarik uang keluar dari sana.

Mata uang digital lain juga ikut bergejolak, naik-turun karena berbagai faktor.

Ethereum naik 1,4 persen menjadi 1.651 dollar AS (Rp 29,6 juta) , BNB bertambah 1,3 persen menjadi 595 dollar AS (Rp 10,6 juta) Solana naik 0,9 persen menjadi 65 dollar AS (Rp 1,16 juta), Dogecoin naik 1,1 persen menjadi 0,085 dollar AS (Rp 1.526) XRP menjadi yang paling tertinggal, turun 0,3 persen menjadi 1,12 dollar AS (Rp 20.120).

Baca juga: Saat Bitcoin Terkoreksi, IPO SpaceX Jadi Magnet Baru Investor

Rerata tetap turun lebih rendah selama tujuh hari terakhir, dipimpin Ethereum dengan penurunan 6,5 persen dan XRP dengan penurunan 7,5 persen.

Kenaikan pada hari ini hanya sedikit mengurangi penurunan mingguan, bukan membalikkan keadaan.

Inflasi AS menyebabkan naiknya suku bunga acuan jadi faktor tertekannya pasar kripto. Mata uang digital hanya nyaman tumbuh ketika suku bunga rendah.

Baca juga: Bitcoin Kembali Melemah, Ethereum Ikut Anjlok

Inflasi AS

Presiden AS Donald Trump menanggapi kenaikan inflasi tahunan sebesar 4,2 persen yang mempengaruhi moneter.

"Saya menyukai inflasi itu," kata Trump di Oval Office, dikutip dari CNBC, Kamis.

Kepala Federal Reserve (The Fed) yang baru, Kevin Warsh meyakini pernyataan Trump sebagai sinyal untuk mempertahankan suku bunga acuan.

Inflasi sebesar 4,2 persen membuat The Fed percaya diri mempertahankan suku bunga acuan di 3,5 hingga 3,75 persen.

Baca juga: Saat Bitcoin Anjlok, ETF Hyperliquid Justru Diburu Investor

Konflik Timur Tengah picu inflasi

Konflik di Timur Tengah memicu inflasi dan kenaikan harga minyak dunia lebih jauh.

Baru-baru ini Trump mengancam akan menyerang kembali Iran karena Teheran dianggap lambat dalam proses negosiasi damai.

"Kita telah menyerang mereka dengan keras kemarin, dan kita akan menyerang mereka dengan keras lagi hari ini. Kita akan menyerang mereka dan menyerang mereka dengan sangat keras," ujar Trump dikutip dari CNBC, Rabu (10/6/2026).

Baca juga: Bitcoin Bearish di Bawah 60.000 Dollar AS, Ethereum Ikut Anjlok

Bahkan, serangan ditargetkan di dekat Selat Hormuz dengan presisi tinggi.

Militer AS juga memantau secara diam-diam 200 kapal komersial yang membawa 100 juta barrel minyak ketika melewati Selat Hormuz.

Menurutnya, operasi ini berhasil mencegah lonjakan harga minyak yang lebih tinggi.

Serangan dilakukan sebagai balasan saat helikopter AH-64 Apache US Army dari Komando Pusat AS di Timur Tengan (CENTCOM) ditembak jatuh Iran di dekat Selat Hormuz ketika sedang patroli.

"Kedua pilot yang terlibat dalam serangan itu selamat dan tidak terluka. Meskipun demikian, Amerika Serikat harus, tentu saja, menanggapi serangan ini," jelas Trump.

Baca juga: Bitcoin Merosot Rp 108 Juta, Perang Iran Jadi Penyebab

Tag:  #bitcoin #masuki #zona #valuasi #bearish #dipicu #inflasi #masih #tinggi

KOMENTAR