Bayi Tak Perlu Selalu Dijemur, Ini Cara Aman Penuhi Vitamin D
Ilustrasi menjemur bayi. IDAI mengingatkan bahwa kebiasaan menjemur bayi tidak selalu aman dan kini bukan lagi cara utama memenuhi kebutuhan vitamin D.(Gambar dibuat dengan AI)
12:36
6 April 2026

Bayi Tak Perlu Selalu Dijemur, Ini Cara Aman Penuhi Vitamin D

Kebiasaan menjemur bayi di bawah sinar matahari masih banyak dilakukan orang tua dengan tujuan membantu pembentukan vitamin D.

Namun, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan bahwa praktik ini tidak selalu aman dan bahkan bisa menimbulkan risiko bagi kesehatan kulit bayi.

Melalui unggahan Instagram resmi @idai_ig pada Sabtu (4/4/2026), IDAI menegaskan bahwa cara memenuhi kebutuhan vitamin D anak kini tidak lagi bergantung pada paparan sinar matahari semata.

Di balik kebiasaan yang dianggap “wajar”, ada faktor risiko yang sering tidak disadari.

Baca juga: IDAI: Obat Herbal Tidak Bisa Menyembuhkan TBC, Waspadai Klaim Tanpa Bukti

Kebiasaan lama yang kini mulai ditinggalkan

Menjemur bayi pernah menjadi praktik yang umum dilakukan karena sinar matahari diketahui membantu pembentukan vitamin D di kulit.

Vitamin ini berperan penting dalam memperkuat tulang, membantu penyerapan kalsium, menjaga daya tahan tubuh, hingga mendukung perkembangan otak anak.

Namun, seiring berkembangnya ilmu pengetahuan, cara tersebut tidak lagi dianggap sebagai solusi utama.

IDAI menjelaskan bahwa proses pembentukan vitamin D dari sinar matahari sangat dipengaruhi banyak faktor, sehingga hasilnya tidak selalu bisa dipastikan.

Baca juga: IDAI Tegaskan Vitamin K untuk Bayi Aman, Ini Penjelasan Lengkapnya

Tidak semua paparan sinar matahari bermanfaat

Ilustrasi bayi baru lahir.IDAI mengingatkan bahwa kebiasaan menjemur bayi tidak selalu aman dan kini bukan lagi cara utama memenuhi kebutuhan vitamin D.Freepik/yanalya Ilustrasi bayi baru lahir.IDAI mengingatkan bahwa kebiasaan menjemur bayi tidak selalu aman dan kini bukan lagi cara utama memenuhi kebutuhan vitamin D.

Paparan sinar UVB memang dibutuhkan untuk membentuk vitamin D, tetapi tidak semua kondisi paparan memberikan hasil yang optimal.

Waktu, durasi, cuaca, lokasi, warna kulit, hingga luas area kulit yang terpapar menjadi faktor yang menentukan keberhasilan proses tersebut.

Akibatnya, orang tua sulit memastikan apakah bayi benar-benar mendapatkan vitamin D yang cukup hanya dari berjemur.

Ketidakpastian ini membuat praktik tersebut tidak lagi direkomendasikan sebagai metode utama.

Baca juga: Isu Vitamin K Picu Leukemia pada Bayi, IDAI: Tidak Terbukti Secara Ilmiah

Risiko yang sering tidak disadari

Di sisi lain, kulit bayi yang masih tipis dan sensitif justru lebih rentan terhadap paparan sinar matahari.

IDAI mengingatkan bahwa paparan berlebih dapat merusak kulit dan meningkatkan risiko masalah kesehatan di kemudian hari, termasuk kanker kulit.

Karena itu, bayi di bawah enam bulan disarankan untuk tidak terkena sinar matahari langsung.

Perlindungan seperti pakaian tertutup, topi, serta berada di tempat teduh menjadi langkah yang lebih aman.

Baca juga: Campak Bukan Penyakit Ringan, IDAI Ingatkan Risiko Komplikasi dan Pentingnya Imunisasi Lengkap

Suplemen jadi pilihan yang lebih pasti

Sebagai alternatif yang lebih terukur, IDAI merekomendasikan pemberian suplemen vitamin D secara rutin sesuai usia anak.

Bayi di bawah 12 bulan dianjurkan mendapatkan 400 IU per hari, sedangkan anak dan remaja di atas satu tahun membutuhkan sekitar 600 IU per hari.

Rekomendasi ini berlaku untuk semua bayi, termasuk yang mendapatkan ASI eksklusif maupun sebagian, karena kandungan vitamin D dalam ASI perlu dilengkapi dari luar.

Dengan cara ini, kebutuhan vitamin D dapat dipenuhi secara lebih pasti tanpa bergantung pada faktor lingkungan.

Baca juga: Indonesia Peringkat Kedua Kasus Campak Dunia, IDAI Ungkap Penyebabnya

Paparan sinar matahari tetap perlu diatur

Meski tidak lagi menjadi sumber utama vitamin D, paparan sinar matahari tetap perlu dikelola dengan aman.

IDAI menyarankan penggunaan pelindung seperti pakaian tertutup dan tabir surya, terutama pada anak usia di atas enam bulan.

Sunscreen sebaiknya digunakan 15–30 menit sebelum keluar rumah dan diulang setiap dua jam atau setelah berkeringat.

Jika terjadi iritasi, orang tua disarankan mengganti produk atau berkonsultasi dengan tenaga medis.

Perubahan rekomendasi ini menunjukkan bahwa cara merawat anak terus berkembang mengikuti ilmu pengetahuan.

Kebiasaan yang dulu dianggap penting kini perlu disesuaikan dengan pemahaman baru agar tetap aman bagi anak.

Alih-alih mengandalkan sinar matahari, pendekatan yang lebih terukur seperti suplementasi menjadi pilihan yang lebih disarankan untuk menjaga kesehatan anak.

Baca juga: Balita Kejang di Pesawat Citilink, IDAI Ingatkan Orangtua Soal Kesiapan Darurat Anak

Tag:  #bayi #perlu #selalu #dijemur #cara #aman #penuhi #vitamin

KOMENTAR