Anak Sering Gigit Mainan? Dokter Ingatkan Risiko Paparan Mikroplastik
Kebiasaan balita menggigit mainan bisa jadi jalur masuk mikroplastik ke tubuh. Dokter mengingatkan orangtua lebih selektif memilih mainan anak. (freepik)
19:36
9 April 2026

Anak Sering Gigit Mainan? Dokter Ingatkan Risiko Paparan Mikroplastik

Kebiasaan anak kecil menggigit mainan atau memasukkan benda ke dalam mulut sering dianggap bagian normal dari tumbuh kembang, terutama pada usia balita.

Dalam dunia medis, fase ini dikenal sebagai fase oral, yaitu masa ketika anak mengenali lingkungan sekitar melalui mulut.

Meski umum terjadi, orangtua tetap perlu memberi perhatian pada benda yang sering masuk ke mulut anak, terutama jika berbahan plastik.

Dokter spesialis anak konsultan Dr. dr. I Gusti Lanang Sidiartha, Sp.A(K), mengingatkan bahwa kebiasaan tersebut dapat meningkatkan paparan mikroplastik pada anak.

“Mikroplastik itu partikel plastik berukuran sangat kecil, secara umum ukurannya di bawah 5 milimeter,” ujar dr. Lanang dalam talkshow edukasi kesehatan, dikutip dari Instagram resmi Kemenkes, Kamis (9/4/2026).

Baca juga: Bayi Tidak Otomatis Terdaftar BPJS, Ini Aturan yang Harus Diketahui

Mikroplastik Bisa Berasal dari Mainan Sehari-hari

Ia menjelaskan, mikroplastik dapat berasal dari dua sumber.

Pertama, mikroplastik primer, yaitu partikel kecil yang sejak awal sudah terdapat dalam suatu bahan, misalnya pada beberapa produk kosmetik atau bahan kebersihan tertentu.

Kedua, mikroplastik sekunder, yaitu hasil pecahan atau pengikisan benda plastik yang lebih besar.

Dalam kehidupan sehari-hari, sumber mikroplastik sekunder lebih sering ditemui, termasuk dari botol minum, wadah makanan, alat makan, hingga mainan anak.

Menurut dr. Lanang, mainan plastik yang sering digigit, terkena panas, atau mengalami gesekan dapat melepaskan partikel kecil yang kemudian berisiko masuk ke tubuh anak.

“Mainan berbahan plastik yang terpapar panas, udara, atau gesekan mekanis lama-kelamaan bisa mengalami degradasi dan menghasilkan partikel kecil yang disebut mikroplastik,” katanya.

Baca juga: Bayi Baru Lahir Harus Daftar BPJS dalam 28 Hari, Ini Aturannya

Dampaknya pada Saluran Cerna Anak

Paparan mikroplastik tidak hanya berasal dari mainan. Anak juga dapat terpapar melalui makanan, minuman, debu rumah, hingga udara di sekitarnya.

Ketika masuk ke dalam tubuh, partikel mikroplastik terutama dapat melewati saluran pencernaan.

Dalam sejumlah penelitian, mikroplastik diduga dapat memicu gangguan pada sel-sel usus dan menimbulkan proses peradangan.

Dokter Lanang menjelaskan bahwa dampak ini dapat berpengaruh pada kemampuan tubuh menyerap nutrisi.

“Kalau terjadi gangguan pada usus, penyerapan makanan bisa terganggu. Dalam jangka panjang tentu ini menjadi perhatian karena berkaitan dengan status gizi anak,” ujarnya.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa hingga saat ini mikroplastik belum terbukti secara langsung menjadi penyebab tunggal suatu penyakit tertentu.

Namun, keberadaannya dinilai dapat menjadi faktor risiko tambahan terhadap berbagai gangguan kesehatan.

Beberapa kondisi yang sering dikaitkan dengan gangguan pencernaan akibat paparan lingkungan, menurutnya, antara lain diare, peradangan usus, hingga meningkatnya risiko infeksi jika mainan yang digigit juga terkontaminasi kuman.

Baca juga: Cara Daftar BPJS Kesehatan untuk Bayi Baru Lahir, Ini Syarat dan Langkahnya

Cara Mengurangi Risiko Paparan Mikroplastik

Karena itu, orangtua disarankan lebih selektif dalam memilih mainan anak.

Dokter Lanang menyebut bahan seperti kayu atau stainless steel dapat menjadi alternatif, selama tetap memperhatikan keamanan dan kebersihannya.

“Kalau bisa pilih mainan yang tidak berbahan plastik. Misalnya kayu atau stainless steel. Tapi tetap harus dijaga kebersihannya,” kata dia.

Selain memilih bahan mainan, kebersihan lingkungan rumah juga menjadi hal penting.

Debu rumah tangga dapat menjadi tempat berkumpulnya partikel mikroplastik sehingga area bermain anak sebaiknya rutin dibersihkan.

Ia juga menyarankan agar orangtua mendampingi anak saat bermain, terutama pada usia ketika kebiasaan memasukkan benda ke mulut masih sering terjadi.

“Anak diajak bermain, dialihkan fokusnya, supaya tidak terus-menerus memasukkan tangan atau benda ke mulut,” ujarnya.

Langkah sederhana seperti mencuci mainan secara berkala, menghindari penggunaan wadah plastik untuk makanan panas, dan menjaga kebersihan lantai rumah dinilai dapat membantu mengurangi paparan mikroplastik sejak dini.

Tag:  #anak #sering #gigit #mainan #dokter #ingatkan #risiko #paparan #mikroplastik

KOMENTAR