Risiko BPA, KKI Wanti-wanti Galon Guna Ulang Ada Masa Pakainya
Galon guna ulang berusia tua (ganula) masih marak beredar di tengah masyarakat. Hal ini menjadi sorotan Komunitas Konsumen Indonesia (KKI). Padahal, menurut rekomendasi pakar, usia pemakaian galon guna ulang hanya satu tahun atau 40 kali penggunaan.
Menurut KKI, peredaran ganula berpotensi meningkatkan risiko paparan Bisfenol A (BPA), yakni zat kimia yang kerap dikaitkan dengan sejumlah gangguan kesehatan, seperti obesitas dan diabetes tipe 2.
Ketua KKI David Tobing mengatakan, temuan itu didasarkan pada rangkaian pemantauan dan pengaduan konsumen yang dilakukan organisasi tersebut dalam beberapa tahun terakhir.
“Mayoritas pengaduan yang kami terima menunjukkan konsumen masih menerima galon guna ulang yang usianya sudah lebih dari satu tahun,” ujar David dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Kamis (7/5/2026).
Baca juga: Survei KKI: 92 Persen Konsumen Tak Tahu Galon Guna Ulang Ada Masa Pakai
KKI sebelumnya melakukan survei nasional terhadap 450 responden pada 2024. Survei itu kemudian dilanjutkan dengan investigasi langsung ke sejumlah agen dan toko kelontong di wilayah Jabodetabek pada 2025.
Sebagai tindak lanjut, KKI juga membuka kanal pengaduan konsumen sepanjang Maret hingga April 2026. Dari sekitar 250 pengaduan yang masuk dari tujuh kota besar, sebagian besar konsumen mengaku masih menggunakan galon yang telah dipakai dalam jangka waktu lama.
Bahkan, KKI juga menerima dokumentasi dari konsumen yang menunjukkan penggunaan galon produksi tahun 2015 untuk distribusi air minum.
“Di beberapa daerah sekitar Jakarta, kami masih menemukan galon dengan usia pakai 5 sampai 10 tahun lebih,” kata David.
Selain usia pakai yang sudah terlalu lama, konsumen juga melaporkan kondisi fisik galon yang kurang layak. Sebagian mengaku menerima galon dalam kondisi kusam, retak, dan penyok.
Baca juga: RDP DPR Soroti Tidak Ada Standar Galon Guna Ulang, DPR: Kita Jadi Kayak Minum Kimia
David menilai, kondisi tersebut perlu mendapat perhatian karena sejumlah penelitian menunjukkan bahwa BPA berpotensi bermigrasi ke dalam air minum, terutama jika kemasan mengalami kerusakan atau digunakan terlalu lama.
Menurut dia, risiko peluruhan BPA juga dapat meningkat akibat proses distribusi dan penyimpanan yang kurang tepat, seperti paparan sinar matahari langsung saat pengangkutan menggunakan kendaraan bak terbuka.
“Paparan panas dan usia pakai yang terlalu lama menjadi faktor yang perlu diperhatikan,” ujarnya.
Baca juga: Masih Beredar Luas, Galon Guna Ulang Tua Bisa Lepaskan Zat Kimia yang Berbahaya bagi Kesehatan
KKI mengaku telah berdiskusi dengan sejumlah akademisi dan pakar polimer dari Universitas Indonesia terkait penggunaan galon polikarbonat.
Berdasarkan masukan tersebut, penggunaan galon disebut sebaiknya dibatasi dalam periode tertentu untuk meminimalkan risiko peluruhan zat kimia.
David juga menyinggung kebijakan di sejumlah negara, termasuk European Food Safety Authority dan Uni Eropa, yang mulai memperketat penggunaan BPA pada material kontak pangan per Juli 2026.
Baca juga: Lindungi Kesehatan Masyarakat, Penarikan Galon Tua dan Pelabelan BPA Didukung Ahli
Sementara itu, di Indonesia, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) masih memperbolehkan penggunaan BPA pada kemasan tertentu dengan ketentuan pelabelan peringatan bagi produk yang mengandung BPA.
“Di Eropa, galon BPA itu sudah dilarang per Juli tahun ini. Sayangnya, aturan di Indonesia, pelabelan itu baru diwajibkan pada 2028. Selain itu, ada kekosongan regulasi masa pakai,” ujar David.
Untuk itu, KKI pun mendorong pemerintah untuk menerbitkan regulasi yang lebih jelas terkait masa pakai galon guna ulang demi meningkatkan perlindungan konsumen.
Tag: #risiko #wanti #wanti #galon #guna #ulang #masa #pakainya