MBS Dilaporkan Minta Trump untuk Lanjutkan Perang di Iran
Dalam kunjungan Pangeran Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman ke Gedung Putih pada Selasa (18/11/2025), Presiden AS Donald Trump memarahi seorang jurnalis yang mencecar MBS dengan pertanyaan seputar pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi.(BRENDAN SMIALOWSKI / AFP)
13:00
25 Maret 2026

MBS Dilaporkan Minta Trump untuk Lanjutkan Perang di Iran

- Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman dilaporkan telah mendorong Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk melanjutkan perang melawan Iran.

MBS menilai situasi saat ini merupakan peluang bersejarah untuk membentuk ulang peta geopolitik Timur Tengah.

Dalam serangkaian percakapan selama pekan lalu, dikutip dari New York Times, MBS telah menyampaikan kepada Trump bahwa ia harus mendesak penghancuran pemerintahan garis keras Iran.

Menurut sumber yang mengetahui diskusi tersebut, MBS berpendapat, Iran merupakan ancaman jangka panjang bagi negara-negara Teluk yang hanya dapat dihilangkan dengan menyingkirkan pemerintahnya.

Baca juga: Jika Ingin Gencatan Senjata, Iran Minta AS Tutup Pangkalan Militer di Teluk

Dilema perang di Iran

Namun, para pejabat senior di pemerintahan Arab Saudi dan AS khawatir bahwa jika konflik ini berlarut-larut, Iran dapat melancarkan serangan yang lebih dahsyat terhadap instalasi minyak.

AS pun dapat terjebak dalam perang tanpa akhir.

Di depan publik, Trump telah berubah-ubah pendiriannya secara drastis, antara menyatakan bahwa perang dapat segera berakhir dan mengisyaratkan bahwa perang akan meningkat. 

Pada Senin (23/3/2026), Trump menyatakan, AS dan Iran telah mengadakan percakapan produktif mengenai penyelesaian lengkap. Namun, Teheran membantah klaim itu.

Konsekuensi perang terhadap ekonomi dan keamanan nasional Arab Saudi sangat besar. Serangan pesawat tak berawak dan rudal Iran, yang dilancarkan sebagai tanggapan terhadap serangan AS-Israel terhadap Iran, telah menciptakan gangguan besar di pasar minyak.

Baca juga: Selat Hormuz Lumpuh, WTO Wanti-wanti Krisis Pupuk Dunia

Bantahan Arab Saudi

Para pejabat Arab Saudi menolak anggapan bahwa MBS telah mendorong untuk memperpanjang perang.

“Kerajaan Arab Saudi selalu mendukung penyelesaian damai atas konflik ini, bahkan sebelum konflik ini dimulai,” kata pemerintah Arab Saudi dalam sebuah pernyataan. 

Mereka mencatat, para pejabat tetap menjalin kontak erat dengan pemerintahan Trump dan menegaskan komitmennya.

“Prioritas utama kami saat ini adalah membela diri dari serangan harian terhadap rakyat dan infrastruktur sipil kami,” tambah pemerintah. 

“Iran telah memilih permainan politik yang berbahaya daripada solusi diplomatik yang serius. Ini merugikan setiap pihak yang terlibat, tetapi tidak ada yang lebih dirugikan daripada Iran sendiri,” sambungnya.

Artikel ini didasarkan pada wawancara dengan orang-orang yang telah melakukan percakapan dengan pejabat AS dan menggambarkan diskusi tersebut dengan syarat anonimitas. 

New York Times mewawancarai orang-orang dengan berbagai pandangan tentang kebijaksanaan melanjutkan perang dan peran MBS dalam memberi nasihat kepada Trump.

Baca juga: Harga Solar Vietnam Naik 2 Kali Lipat Imbas Perang, Warga Simpan Truk dan Naik Sepeda

MBS ingin AS terjunkan pasukan darat

Pulau Kharg memiliki nilai strategis yang sangat tinggi bagi Teheran karena menjadi titik keberangkatan bagi sekitar 90 persen ekspor minyak mentah Iran. WIKIMEDIA COMMONS Pulau Kharg memiliki nilai strategis yang sangat tinggi bagi Teheran karena menjadi titik keberangkatan bagi sekitar 90 persen ekspor minyak mentah Iran.

Menurut orang-orang yang diberi pengarahan oleh pejabat AS, MBS berpendapat bahwa AS harus mempertimbangkan untuk menempatkan pasukan di Iran untuk merebut infrastruktur energi dan memaksa pemerintah keluar dari kekuasaan.

Dalam beberapa hari terakhir, Presiden Trump telah mempertimbangkan dengan lebih serius operasi militer untuk merebut Pulau Kharg, pusat infrastruktur minyak Iran. 

Operasi semacam itu, dengan pasukan udara Angkatan Darat atau serangan amfibi oleh Marinir, akan sangat berbahaya.

Baca juga: Paus Leo XIV Serukan Gencatan Senjata di Timur Tengah

Namun, menurut orang-orang yang diberi informasi oleh pejabat AS, MBS telah menganjurkan operasi darat dalam percakapannya dengan Trump.

Pandangan Arab Saudi terhadap perang tersebut dipengaruhi oleh faktor ekonomi maupun politik. 

Sejak perang dimulai, serangan balasan Iran sebagian besar telah menutup Selat Hormuz, melumpuhkan industri energi di kawasan tersebut. 

Sebagian besar minyak Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Kuwait harus melewati selat tersebut untuk mencapai pasar internasional.

Baca juga: Sindir Trump, Iran Unggah Foto Setir Mainan Terkait Kendali Selat Hormuz

Bayang-bayang perang Negara Teluk vs Iran

Para analis yang memahami pemikiran pemerintah Arab Saudi mengatakan, meskipun MBS mungkin lebih memilih untuk menghindari perang, Arab Saudi dan seluruh Timur Tengah akan dibiarkan menghadapi Iran sendirian, jika AS menarik diri.

Menurut pandangan ini, Arab Saudi akan rentan terhadap serangan Iran. Skenario seperti itu juga dapat memberi Teheran kekuatan untuk secara berkala menutup Selat Hormuz.

“Para pejabat Saudi tentu ingin perang berakhir, tetapi bagaimana perang itu berakhir adalah hal yang penting,” kata Yasmine Farouk, direktur proyek Teluk dan Semenanjung Arab untuk International Crisis Group.

Serangan yang didukung Iran pada 2019 terhadap fasilitas minyak Saudi yang sempat melumpuhkan setengah dari produksi minyak, mendorong MBS untuk mempertimbangkan kembali pendekatannya yang antagonis terhadap Teheran.

Baca juga: Teka-teki Tokoh Penting Iran yang Diklaim Jalin Negosiasi dengan AS

Negara-negara lain di kawasan ini, termasuk Uni Emirat Arab, juga mengupayakan hubungan yang lebih hangat dengan Iran dalam beberapa tahun terakhir karena alasan yang serupa.

Setelah keputusan Trump untuk berperang, bertentangan dengan saran beberapa pemerintah Teluk, Iran menanggapi dengan menembakkan ribuan rudal dan drone ke negara-negara di kawasan itu.

Hal ini menggagalkan upaya Negara Teluk untuk membawa Iran ke dalam barisan mereka.

“Sedikit kepercayaan yang ada sebelumnya telah hancur sepenuhnya,” kata Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Pangeran Faisal bin Farhan, kepada wartawan pekan lalu.

Tag:  #dilaporkan #minta #trump #untuk #lanjutkan #perang #iran

KOMENTAR