AS Ulangi Kesalahan Perang Irak, Konflik Iran Terancam Berkepanjangan
Perang yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran memasuki pekan keempat dengan intensitas tinggi, namun harapan akan kemenangan cepat mulai memudar.
Sejumlah analis dan mantan pejabat menilai konflik ini menunjukkan pola yang mirip dengan perang-perang panjang AS di masa lalu. Muncul kekhawatiran bahwa Washington bisa kembali terjebak dalam konflik berkepanjangan di Timur Tengah.
Risiko itu semakin nyata seiring belum jelasnya tujuan akhir dan strategi keluar dari perang.
Baca juga: Getol Tolak Perang, Eropa Diam-diam Sokong Serangan AS ke Iran
Bayang-bayang Perang Irak
Seorang tentara AS mengamati para pekerja membongkar salah satu patung dada perunggu raksasa Saddam Hussein di bekas istana kepresidenan di Baghdad, 2 Desember 2003. Koalisi pimpinan AS terlibat dalam pemindahan empat kepala perunggu besar pemimpin Irak yang digulingkan, Saddam Hussein, yang menghiasi bekas istana kepresidenannya di Baghdad, yang sekarang menjadi markas pengawas AS, Paul Bremer. Koalisi mengalokasikan 35.000 dolar untuk pemindahan kepala-kepala tersebut yang menggambarkan Saddam yang berwajah tegas dan mengenakan helm sebagai pejuang heroik Arab, Saladin.
Sebagaimana dilansir The Wall Street Journal, Rabu (25/3/2026), mantan kolonel Angkatan Darat AS, Peter Mansoor, melihat kemiripan mencolok antara perang Iran saat ini dengan invasi Irak 2003.
“Ini seperti deja vu,” kata Mansoor, yang pernah bertugas dalam dua penugasan panjang di Irak dan kini menjadi profesor sejarah militer di Ohio State University.
Ia menilai, seperti di Irak, perencanaan lebih fokus pada keberhasilan militer awal dibandingkan apa yang terjadi setelahnya.
“Di Irak, kami fokus pada operasi tempur yang sangat berhasil,” ujarnya. “Kami sangat sedikit memikirkan apa yang akan terjadi setelah runtuhnya rezim Baath.”
Ia menambahkan ketidakjelasan tujuan kini bahkan lebih besar. “Dalam kasus ini, kita bahkan tidak yakin apakah kita ingin rezim itu runtuh atau tidak, dan kita benar-benar tidak tahu seperti apa akhir dari konflik ini.”
Harapan perang cepat mulai memudar
Sejak awal, pemerintahan Donald Trump memperkirakan kampanye militer dapat berlangsung antara empat hingga enam minggu. Namun, skenario kemenangan cepat kini semakin diragukan.
Meski serangan udara berhasil melemahkan kemampuan Iran, konflik berisiko berubah menjadi konfrontasi jangka panjang dengan rezim yang tetap bertahan dan semakin keras.
Diplomat senior AS, Alan Eyre, memperingatkan dampak jangka panjangnya.
“Bahkan jika ini berakhir sekarang, akan ada konsekuensi jangka panjang yang sangat tidak terduga, sebagian besar negatif, seperti Irak,” ujarnya.
Risiko eskalasi
Salah satu ancaman terbesar adalah langkah Iran menutup Selat Hormuz, jalur vital yang mengalirkan seperlima pasokan minyak dunia.
Kondisi ini menempatkan AS dalam dilema besar: melanjutkan perang atau mundur dengan risiko gangguan ekonomi global.
Ahli militer dari University of Chicago, Robert Pape, menyebut langkah Iran sebagai bentuk “eskalasi horizontal” untuk mengimbangi kekuatan militer AS.
Situasi ini juga mengingatkan pada prinsip lama dari perang Irak, yakni “jika Anda merusaknya, Anda harus bertanggung jawab.”
Artinya, setelah menciptakan krisis, AS kini harus ikut menanganinya.
Dilema AS
Konflik ini membuat Washington berada dalam posisi sulit. Jika perang dilanjutkan, ada risiko keterlibatan lebih dalam, termasuk kemungkinan pengerahan pasukan darat.
Namun jika mundur, AS bisa menghadapi kerusakan reputasi global dan kemenangan simbolis bagi Iran.
Analis geopolitik Robert Kaplan mengingatkan potensi dampaknya.
“Jika rezim Iran bertahan dan terus menyerang kapal serta meluncurkan rudal, seluruh kawasan Teluk bisa menjadi tidak stabil,” katanya.
Baca juga: Iran Serap Taktik Drone Rusia, AS Terancam Kewalahan di Selat Hormuz
Perdebatan di dalam pemerintahan
Tidak semua pihak setuju dengan perbandingan dengan Irak. Menteri Pertahanan Pete Hegseth menolak anggapan tersebut.
“Ini bukan perang-perang itu,” ujarnya, seraya menegaskan konflik saat ini lebih terfokus dan menentukan.
Sementara itu, mantan utusan Timur Tengah Jason Greenblatt mengatakan, waktu akan menjadi penentu.
“Tanya saya enam bulan atau 12 bulan lagi apakah ini perang tanpa akhir,” ujarnya.
Namun, muncul tanda-tanda ketidakpuasan internal. Joe Kent, mantan pejabat kontraterorisme, mundur karena merasa janji untuk menghindari “perang tanpa akhir” telah dilanggar.
Kesalahan lama AS terulang
Seperti di Irak, konflik Iran juga dipicu oleh peringatan ancaman senjata pemusnah massal yang kini mulai dipertanyakan.
Para ahli menilai perencanaan terlalu menekankan kekuatan militer dan mengabaikan dampak jangka panjang.
Menurut Robert Kaplan, kesalahan perhitungan ini kerap terjadi dalam intervensi militer AS, terutama di wilayah yang kurang dipahami secara mendalam.
Ia menilai Washington juga meremehkan ketahanan rezim Iran. “Dalam kasus Iran, pemerintahan saat ini telah meremehkan ketahanan rezim tersebut,” katanya.
Risiko dampak tak terduga
Konflik ini juga berpotensi memperkuat musuh AS, seperti yang terjadi setelah perang Irak yang justru meningkatkan pengaruh Iran di kawasan.
Mantan pejabat Departemen Luar Negeri, Jen Gavito, mengatakan, upaya menggulingkan kepemimpinan Iran bisa berujung pada rezim yang lebih keras.
Ia juga menekankan bahwa Iran memiliki posisi tawar kuat melalui kendali atas Selat Hormuz.
Perang tanpa akhir jadi ancaman nyata
Mantan pejabat Pentagon Colin Kahl menegaskan pentingnya tujuan politik yang jelas dalam perang.
“Ketika tujuan politik tidak terdefinisi atau diperdebatkan, perang kehilangan titik berhenti yang logis,” tulisnya.
“Misi meluas, waktu semakin panjang, dan alasan awal memudar ketika perang mendapatkan momentumnya sendiri.”
Di sisi lain, Gedung Putih melalui juru bicara Anna Kelly menegaskan bahwa tujuan AS jelas, mulai dari menghancurkan kemampuan militer Iran hingga memastikan negara itu tidak memiliki senjata nuklir.
Namun, seperti di Irak, hasil akhir perang tetap sulit diprediksi. Bahkan, menurut Eyre, tekanan terhadap Iran justru bisa meningkatkan keinginannya untuk membalas.
Baca juga: Trump Tolak Ide Netanyahu Ajak Warga Iran Memberontak, AS-Israel Mulai Beda Tujuan?
Tag: #ulangi #kesalahan #perang #irak #konflik #iran #terancam #berkepanjangan