Liput Kekerasan terhadap Warga Palestina, Jurnalis CNN Dicekik dan Ditahan Tentara Israel
Tentara Israel bersiaga di kamp Nur Shams yang menampung pengungsi Palestina, di Tepi Barat pada 5 Maret 2025.(AFP/ZAIN JAAFAR)
13:12
28 Maret 2026

Liput Kekerasan terhadap Warga Palestina, Jurnalis CNN Dicekik dan Ditahan Tentara Israel

- Sejumlah tentara Israel menyasar warga Palestina dan tim jurnalis CNN di Desa Tayasir, Tepi Barat.

Insiden ini terjadi hanya 12 jam setelah sekelompok pemukim Israel menyerang warga sipil Palestina secara brutal dan mendirikan pos depan atau outpost ilegal di wilayah tersebut. 

Namun, bukannya membongkar bangunan ilegal itu, militer Israel justru menahan penduduk setempat dan jurnalis yang meliput di lokasi.

Kejadian bermula saat tim CNN sedang mewawancarai warga Palestina. Tiba-tiba, seorang tentara Israel berteriak sambil mengarahkan senapan ke arah mereka.

Baca juga: Hujan Rudal Iran Tiada Henti, Israel Mulai Jatah Penggunaan Pencegat Kelas Atas

"Berhenti! Duduk! Duduk!" teriak tentara tersebut, sebagaimana dilansir CNN, Jumat (27/3/2026).

Hanya dalam hitungan detik, seorang tentara lain datang dari belakang jurnalis foto CNN, Cyril Theophilos. 

Tentara tersebut mencekik leher Theophilos dan menjatuhkannya ke tanah hingga merusak kamera yang dibawanya.

Selama dua jam masa penahanan, terungkap bagaimana ideologi para pemukim telah meresap ke dalam unit militer yang bertugas di Tepi Barat

Para tentara tersebut terang-terangan menunjukkan dukungan mereka terhadap gerakan pemukiman ilegal.

Baca juga: Turuti Pakistan, Israel Hapus Menlu dan Ketua Parlemen Iran dari Daftar Target

Pengakuan tentara: balas dendam

Salah satu tentara yang mengidentifikasi dirinya sebagai Meir, mengakui bahwa pos depan yang dia jaga sebenarnya ilegal menurut hukum Israel. 

Namun, dia meyakini status itu akan berubah menjadi pemukiman legal. Saat ditanya apakah dia membantu mewujudkan hal itu, dia menjawab blak-blakan.

"Tentu saja. Saya membantu rakyat saya," jawabnya.

Meir dan rekan-rekannya juga melontarkan retorika ekstrem dengan menyebut seluruh wilayah Tepi Barat adalah milik bangsa Yahudi dan melabeli semua warga Palestina sebagai teroris. 

Baca juga: Mantan PM Israel Bongkar Borok Pemerintahan Netanyahu, Pesimistis Menang Perang

Mereka mengaku tindakan ini didasari oleh motif balas dendam atas kematian rekan mereka, Yehuda Sherman (18), yang tewas dalam insiden tabrakan dengan warga Palestina.

"Jika kamu punya saudara laki-laki dan mereka membunuhnya, apa yang akan kamu lakukan?" tanya salah satu tentara.

Ketika tim CNN bertanya, "jadi, ini adalah balas dendam?", Meir menjawab singkat, "balas dendam."

Meir menambahkan, jika negara tidak menindak mereka yang membunuh pemuda Israel, maka tentara merasa perlu mengambil tindakan sendiri. 

"Apa yang Anda harapkan dari kami?" cetusnya.

Baca juga: Perang Iran Belum Selesai, Israel Malah Makin Brutal Gempur Lebanon

Kesaksian korban

Kekerasan di Tayasir meninggalkan luka mendalam bagi warga Palestina. Abdullah Daraghmeh (75), kini terbaring di rumah sakit dengan luka memar di sekujur tubuh, tengkorak retak, dan gigi yang rontok akibat serangan pemukim di tengah malam.

"Dia sedang tidur saat itu. Ini tidak normal," kata Sami Daraghmeh, putra Abdullah, yang menemukan ayahnya bersimbah darah di tempat tidur.

Warga lainnya, Imad Dabak, mengaku kini tak berani lagi tidur di rumahnya sendiri yang berdekatan dengan pos ilegal tersebut. 

Dia merasa militer Israel tidak akan melindungi warga Palestina dari serangan pemukim.

"Jika mereka datang, saya hanya akan memegang ponsel dan merekam. Saya tidak bisa mendorong atau menyentuh mereka, saya akan dibawa ke polisi dan dipenjara jika mereka tidak membunuh saya," kata Dabak.

"Kamera adalah satu-satunya senjata saya. Itulah satu-satunya hal yang bisa membuktikan bahwa saya tidak bersalah," tambahnya.

Baca juga: Israel Tewaskan Komandan AL IRGC, Sosok di Balik Blokade Selat Hormuz

Respons militer Israel 

Pada 19 Desember 2023, tentara Israel sedang beroperasi ketika asap mengepul di Jalur Gaza, di tengah pertempuran yang terus berlanjut antara Israel dan kelompok Palestina, Hamas. Pada Minggu (27/7/2025), muncul laporan empat prajurit IDF dipenjara setelah menolak kembali bertugas di Gaza karena trauma perang. MILITER ISRAEL via AFP Pada 19 Desember 2023, tentara Israel sedang beroperasi ketika asap mengepul di Jalur Gaza, di tengah pertempuran yang terus berlanjut antara Israel dan kelompok Palestina, Hamas. Pada Minggu (27/7/2025), muncul laporan empat prajurit IDF dipenjara setelah menolak kembali bertugas di Gaza karena trauma perang.

Menanggapi insiden penahanan tim jurnalis dan warga tersebut, pihak militer Israel menyatakan bahwa tindakan para prajurit di lapangan tidak mencerminkan standar militer mereka.

"Tindakan dan perilaku tentara dalam insiden tersebut tidak sesuai dengan apa yang diharapkan dari tentara yang beroperasi di wilayah Yudea dan Samaria," tulis pernyataan resmi militer Israel kepada CNN.

Pihak militer menyatakan akan melakukan peninjauan menyeluruh atas insiden tersebut. 

Meski demikian, militer Israel tidak memberikan jawaban spesifik terkait keberadaan pos depan ilegal maupun meningkatnya kekerasan oleh pemukim di Tepi Barat.

Baca juga: Trump Tolak Ide Netanyahu Ajak Warga Iran Memberontak, AS-Israel Mulai Beda Tujuan?

Tag:  #liput #kekerasan #terhadap #warga #palestina #jurnalis #dicekik #ditahan #tentara #israel

KOMENTAR