Pentagon Cemas Kehabisan Rudal Tomahawk, Stok Disebut Menipis untuk Serang Iran
Foto ini memperlihatkan kapal perang USS Preble menembakkan rudal Tomahawk dalam sebuah latihan di perairan California pada 29 September 2010.(Woody PASCHALL / US NAVY / AFP )
17:24
29 Maret 2026

Pentagon Cemas Kehabisan Rudal Tomahawk, Stok Disebut Menipis untuk Serang Iran

Amerika Serikat dilaporkan telah menembakkan sekitar 850 rudal Tomahawk ke Iran dalam perang yang kini memasuki pekan keempat, yang memicu kekhawatiran di kalangan pejabat Pentagon terkait menipisnya persediaan.

Sejumlah pejabat bahkan menyebut stok yang tersisa berada pada level yang “mengkhawatirkan”.

Meski demikian, pemerintah AS menegaskan bahwa militernya tetap memiliki kemampuan penuh untuk menjalankan operasi.

Baca juga: Stok Rudal Pencegat Diyakini Sedang Kritis, Pertahanan Israel Mulai Goyah?

Kekhawatiran stok rudal menipis

Diberitakan The Independent, Jumat (27/3/2026), beberapa pejabat Pentagon mengungkapkan kekhawatiran atas persediaan rudal Tomahawk yang disebut sangat rendah setelah digunakan secara intensif dalam perang di Iran.

Seorang pejabat bahkan menyebut stok tersebut mendekati kondisi “Winchester”, istilah militer yang berarti hampir kehabisan amunisi.

Menurut laporan, laju penggunaan rudal dalam perang yang dimulai pada 28 Februari itu mendorong pembahasan internal untuk meningkatkan produksi dan pasokan.

Para pejabat juga menyebut jumlah Tomahawk yang tersisa di kawasan Timur Tengah sudah berada di titik kritis.

Digunakan sejak awal perang

Tayangan stasiun televisi Iran, IRIB, memperlihatkan situasi setelah serangan Iran ke Sekolah Dasar (SD) putri di Kota Minab, Iran, yang menewaskan sedikitnya 51 orang dan menyebabkan 60 korban luka-luka pada Sabtu (28/2/2026). Serangan ini terjadi ketika perang Amerika-Israel melawan Iran berlangsung.IRIB TV/ALEX MITA via AFP Tayangan stasiun televisi Iran, IRIB, memperlihatkan situasi setelah serangan Iran ke Sekolah Dasar (SD) putri di Kota Minab, Iran, yang menewaskan sedikitnya 51 orang dan menyebabkan 60 korban luka-luka pada Sabtu (28/2/2026). Serangan ini terjadi ketika perang Amerika-Israel melawan Iran berlangsung.

Sebagian besar rudal Tomahawk digunakan pada hari-hari pertama konflik. Rudal ini dikenal sebagai senjata jarak jauh yang dapat diluncurkan dari kapal perang Angkatan Laut maupun kapal selam.

Setiap unit rudal Tomahawk diperkirakan bernilai lebih dari 2 juta dolar AS. Dengan jumlah penggunaan mencapai ratusan, biaya operasi militer ini pun menjadi sangat besar.

Dalam salah satu insiden, rudal Tomahawk diduga menjadi penyebab serangan terhadap sebuah sekolah dasar putri di kota Minab, Iran selatan, pada akhir pekan pertama perang.

Berdasarkan temuan awal investigasi, serangan itu menewaskan 175 orang, termasuk anak-anak.

Baca juga: Houthi Serang Israel dengan Rudal Balistik, Mulai Gabung Perang Iran

Seperempat stok telah digunakan

Jumlah pasti persediaan rudal Tomahawk bersifat rahasia. Namun, analis memperkirakan 850 rudal yang telah digunakan setara dengan sekitar seperempat dari total stok militer AS.

Pusat kajian Center for Strategic and International Studies (CSIS) memperkirakan Angkatan Laut AS memiliki sekitar 3.000 rudal Tomahawk sebelum perang dimulai bulan lalu.

Penasihat senior CSIS, Mark Cancian, mengatakan bahwa penggunaan lebih dari 800 rudal akan berdampak signifikan terhadap kesiapan militer di kawasan lain.

Ia menyebut kondisi ini “akan meninggalkan celah besar untuk konflik di Pasifik Barat” dan “akan membutuhkan waktu beberapa tahun untuk memulihkannya.”

Pemerintah AS bantah kekurangan

Di tengah kekhawatiran tersebut, pemerintah AS membantah adanya krisis persenjataan. Juru bicara Pentagon, Sean Parnell, menegaskan bahwa militer tetap siap menjalankan misi apa pun.

Ia menyatakan, militer AS “memiliki semua yang dibutuhkan untuk menjalankan misi apa pun pada waktu dan tempat yang dipilih presiden serta dalam jangka waktu apa pun.”

Ia juga menilai media “terobsesi menggambarkan militer terkuat di dunia atau AS sebagai negara lemah.”

Parnell menambahkan bahwa sorotan terhadap persediaan senjata secara keliru memberi kesan Pentagon gagal memberikan “setiap keunggulan” bagi tentaranya, sekaligus “menakut-nakuti dan menanamkan keraguan di benak rakyat Amerika.”

Senada, Menteri Pertahanan Pete Hegseth sebelumnya menegaskan bahwa militer AS “tidak kekurangan amunisi” dan pasokan akan “mendukung kampanye ini selama yang diperlukan.”

Sekretaris pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, juga menyebut terdapat “lebih dari cukup amunisi, peluru, dan stok senjata untuk mencapai tujuan Operasi Epic Fury yang ditetapkan Presiden Trump — dan bahkan lebih.”

Produksi akan ditingkatkan

Presiden Donald Trump pada 6 Maret mengumumkan bahwa pemerintahannya telah menggelar pertemuan dengan perusahaan manufaktur pertahanan, termasuk kontraktor pembuat rudal Tomahawk, Raytheon.

Trump menyatakan perusahaan-perusahaan tersebut sepakat untuk “melipatgandakan hingga empat kali produksi persenjataan kelas canggih secepat mungkin.”

Langkah ini diharapkan dapat menutup kekurangan stok serta menjaga kesiapan militer AS di tengah konflik yang masih berlangsung.

Baca juga: AS Klaim Sudah Hancurkan Dua Pertiga Kapasitas Produksi Rudal dan Drone Iran

Tag:  #pentagon #cemas #kehabisan #rudal #tomahawk #stok #disebut #menipis #untuk #serang #iran

KOMENTAR