Dewan Sains Trump Diisi Para Miliarder Rp 15.000 Triliun, Mengapa Ilmuwan Akademik Tersingkir?
– Wajah otoritas sains di Amerika Serikat baru saja mengalami pergeseran seismik.
Presiden Donald Trump secara resmi mengumumkan komposisi Dewan Penasihat Presiden untuk Sains dan Teknologi (PCAST) yang memicu perdebatan sengit, sebuah panel yang hampir seluruhnya dikuasai para raksasa teknologi, meninggalkan hanya satu kursi bagi perwakilan akademisi murni.
Dominasi "klub miliarder" ini terlihat nyata dari angka kekayaan gabungan para anggotanya yang melampaui 900 miliar dollar AS atau setara Rp 15.270 triliun.
Baca juga: Usai Demo No Kings Pecah, Trump Kini Bilang AS Bisa Akhiri Perang Iran dalam 2-3 Pekan
Nama-nama besar seperti Mark Zuckerberg (Meta), Larry Ellison (Oracle), Sergey Brin (Google), hingga Jensen Huang (NVIDIA) kini menjadi pembisik utama presiden dalam menentukan arah inovasi masa depan.
Tradisi Akademik yang Runtuh
Perubahan ini dianggap sebagai anomali sejarah. Sejak tahun 2001, PCAST secara konsisten melibatkan setidaknya 10 ilmuwan dari universitas terkemuka.
Pada era Joe Biden, jumlahnya bahkan mencapai 19 peneliti akademis.
Namun, dalam versi Trump 2026 ini, keterwakilan universitas merosot tajam hingga hanya menyisakan satu orang saja.
Satu-satunya suara dari dunia akademik tersebut adalah John Martinis, fisikawan kuantum peraih Nobel dari University of California, Santa Barbara.
“Saya merasa terhormat berada di komite ini,” ujar John Martinis, dilansir dari Nature, pada Kamis (26/3/2026).
Meski diisi oleh otak-otak brilian di balik revolusi digital, absennya keragaman disiplin ilmu memicu kekhawatiran serius.
Pakar biologi Vaughan Cooper menyoroti hilangnya peran ahli biologi dalam panel strategis ini melalui platform media sosial.
“Ini membuat negara ini sangat tidak siap menghadapi era bioteknologi, sebuah perlombaan yang sudah mulai kita kalahkan,” tulis Vaughan Cooper, dilansir dari Bluesky, pada Jumat (27/3/2026).
CEO Meta Mark Zuckerberg (kiri) dan Presiden Donald Trump saat makan malam di Gedung Putih.
Prioritas Industri: AI, Kuantum, dan Fusi
Tersingkirnya akademisi mencerminkan prioritas sempit pemerintahan Trump yang ingin mengakselerasi komersialisasi teknologi tinggi.
Fokus utama panel ini adalah kecerdasan buatan (AI), komputasi kuantum, dan target ambisius meningkatkan kapasitas tenaga nuklir komersial hingga empat kali lipat pada 2050.
Kenny Evans dari Rice University menilai komposisi ini tidak mengejutkan karena keanggotaan PCAST memang kerap mencerminkan visi presiden.
Kali ini, Trump tampaknya lebih mempercayai eksekutif yang terbiasa membangun imperium bisnis daripada peneliti di laboratorium universitas.
Baca juga: Trump Umumkan Perang Lawan Iran Bisa Diakhiri 2–3 Pekan Lagi Tanpa Perlu Kesepakatan
Dewan ini akan dinakhodai oleh penasihat AI Trump, David Sacks, dan Michael Kratsios dari Gedung Putih.
Melalui platform media sosial, Michael Kratsios menyatakan bahwa PCAST menghimpun “pikiran-pikiran paling cemerlang di Amerika” untuk memberi nasihat kepada presiden terkait isu sains dan teknologi yang paling mendesak, sekaligus memastikan Amerika Serikat tetap memimpin dalam era inovasi baru, dilansir dari akun X resminya, pada akhir Maret 2026.
Meskipun Trump masih memiliki otoritas untuk menambah hingga 11 anggota baru guna menyeimbangkan panel, saat ini arah sains Amerika jelas terkunci di tangan para miliarder teknologi, bukan lagi di koridor sunyi universitas.
Tag: #dewan #sains #trump #diisi #para #miliarder #15000 #triliun #mengapa #ilmuwan #akademik #tersingkir