Reza Pahlavi Kecewa Rezim Iran Tak Runtuh, Sesalkan Gencatan Senjata
Putra shah terakhir Iran, Reza Pahlavi, menolak klaim Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyebut telah terjadi “perubahan rezim” di Teheran.(AFP/PATRICK T FALLON)
13:18
9 April 2026

Reza Pahlavi Kecewa Rezim Iran Tak Runtuh, Sesalkan Gencatan Senjata

Putra shah terakhir Iran, Reza Pahlavi, menolak klaim Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyebut telah terjadi “perubahan rezim” di Teheran.

“Apa perubahan rezim? Mereka orang-orang yang sama—meskipun mungkin melemah,” kata Pahlavi kepada stasiun televisi Perancis LCI, seperti dikutip The Economic Times, Rabu (8/4/2026).

Ia menjelaskan bahwa tokoh-tokoh utama dalam pemerintahan Iran masih tetap memegang posisi penting.

Baca juga: Trump Cawe-cawe Pilih Pemimpin Tertinggi Iran, Tak Tunjuk Reza Pahlavi atau Mojtaba

“Kita masih memiliki orang yang sama memimpin parlemen. Orang-orang yang sama masih ada di lembaga peradilan. Putra Khamenei yang menggantikannya. Bagi kami, ini bukan perubahan rezim,” tambahnya.

Ia menegaskan bahwa perjuangan rakyat Iran untuk lepas dari pemerintahan masih jauh dari selesai.

Ali Khamenei digantikan putranya

Mojtaba Khamenei (tengah), putra dari mantan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, saat berjalan di Teheran pada 31 Mei 2019.ISNA/HAMID FOROUTAN via AFP Mojtaba Khamenei (tengah), putra dari mantan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, saat berjalan di Teheran pada 31 Mei 2019.

Sepeninggal Ayatollah Ali Khamenei pada 28 Februari akibat serangan AS dan Israel, putra kedua Pemimpin Tertinggi Iran tersebut, Mojtaba Khamenei, kini mengisi kursi kepemimpinan.

Peristiwa ini terjadi di tengah eskalasi konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel, yang dimulai setelah gelombang protes nasional di Iran akibat tingginya biaya hidup.

Namun, bagi Pahlavi, pergantian figur tersebut tidak mengubah sistem kekuasaan secara mendasar.

Seruan untuk menggulingkan pemerintahan

Dalam berbagai kesempatan, termasuk siaran berbahasa Persia di kanal YouTube miliknya, Pahlavi menegaskan bahwa rakyat Iran masih harus berjuang untuk menggulingkan pemerintahan saat ini.

“Apa yang tetap konstan dalam perjuangan kami sebagai bangsa Iran adalah membebaskan diri dari rezim ini,” ujarnya.

Ia bahkan memprediksi bahwa kejatuhan Republik Iran hanya tinggal menunggu waktu.

“Republik Iran tidak memiliki jalan keluar dan tidak memiliki peluang untuk bertahan hidup, dan akan jatuh di tangan Anda—bangsa besar Iran,” katanya.

Baca juga: Reza Pahlavi Tak Masuk Daftar, Trump Lebih Pilih Sosok Internal untuk Pimpin Iran

Gencatan senjata picu kekecewaan

Kesepakatan gencatan senjata selama dua pekan antara Washington dan Teheran disebut Pahlavi membuat sebagian pendukungnya merasa kecewa.

Meski demikian, ia menilai rezim Iran telah mengalami “pukulan yang belum pernah terjadi sebelumnya” akibat konflik tersebut.

“Kita sebagai bangsa Iran harus memberikan pukulan terakhir kepada rezim yang telah melemah ini,” ujarnya.

Namun, ia juga mengingatkan bahwa kemampuan aparat untuk melakukan represi masih belum sepenuhnya hilang. Ia meminta masyarakat untuk tetap berhati-hati.

“Kapabilitas mereka untuk melakukan penindasan belum sepenuhnya hilang. Tetaplah bersabar dan lindungi diri Anda, serta tunggu momen yang menentukan,” kata Pahlavi.

Figur kontroversial Iran

Reza Pahlavi, yang hidup di pengasingan di Amerika Serikat sejak kecil setelah ayahnya, Mohammad Reza Shah, digulingkan dalam Revolusi Islam 1979, kerap menyatakan kesiapannya memimpin masa transisi jika rezim Iran runtuh.

Meski sempat mendapat dukungan dari sebagian demonstran yang menginginkan kembalinya monarki, Pahlavi belum memperoleh pengakuan resmi dari Donald Trump.

Presiden AS itu bahkan beberapa kali menyatakan keraguannya atas kemampuan Pahlavi untuk memimpin Iran di masa depan.

Baca juga: Reza Pahlavi Cari Dukungan Trump untuk Pimpin Iran, Presiden AS Justru Meragukan

Tag:  #reza #pahlavi #kecewa #rezim #iran #runtuh #sesalkan #gencatan #senjata

KOMENTAR