Netanyahu Berulang Kali Desak AS Serang Iran, tapi Ditolak, Mengapa Disetujui di Era Trump?
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu saat menghadiri pemakaman sandera Ran Gvili, yang jenazahnya dikembalikan ke Israel dari Gaza pada 26 Januari 2026.(AFP/CHAIM GOLDBERG)
12:18
13 April 2026

Netanyahu Berulang Kali Desak AS Serang Iran, tapi Ditolak, Mengapa Disetujui di Era Trump?

- Mantan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) John Kerry menyebut bahwa Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu telah berulang kali mendesak negara itu untuk menyerang Iran, tapi selalu ditolak sebelum akhirnya terwujud di era Donald Trump.

Melalui wawancara di acara The Briefing with Jen Psaki pada Jumat (10/4/2026), Kerry mengungkapkan bahwa Netanyahu telah mendesak sejumlah Presiden AS di beberapa periode jabatan.

Kerry juga mengaku bahwa dirinya telah berpartisipasi dalam berbagai diskusi dengan Benjamin Netanyahu.

Menurut Kerry, keinginan Netanyahu serang Iran tersebut disampaikan langsung kepada Presiden AS,.

“Dia ingin kita menyerang,” kata Kerry dikutip dari AnadoluAjansi, Sabtu (11/4/2026).

“Presiden Obama menolak. Presiden Joe Biden menolak. Presiden George W. Bush menolak,” imbuhnya.

Baca juga: Iran Tunjukkan Bukti Kapal Perang AS Mundur dari Selat Hormuz Usai Diperingatkan

Mengapa AS setuju serang Iran di era Trump?

John Kerry menjelaskan bahwa hanya era kepemimpinan Presiden Trump, pemerintahan AS menyetujui keinginan Netanyahu untuk serang Iran.

“Satu-satunya presiden yang setuju dengan hal ini, jelas, adalah Presiden Trump,” terang dia.

Kerry menyatakan bahwa Netanyahu memaparkan argumen terperinci mengenai tindakan militer, yang ia gambarkan sebagai “usulan empat poin”.

Dia menilai, usulan tersebut mencakup klaim bahwa serangan semacam itu dapat “membunuh para pemimpin”, “memicu pergantian rezim”, dan “menghancurkan militer”.

Kerry juga menyampaikan bahwa Netanyahu telah menjabarkan argumen-argumen tersebut dalam pertemuan yang melibatkan pejabat tinggi, di mana berbagai pandangan dipertimbangkan.

Baca juga: Kenapa Perundingan AS-Iran di Islamabad Gagal Total?

Oleh karena itu, dia menilai bahwa desakan atau usulan dari Netanyahu mengenai rencana serangan ke Iran bukan dibuat secara informal.

Hal itu juga menyoroti upaya Israel untuk mendorong AS menuju konfrontasi langsung dengan Iran bukanlah kejadian sesaat, melainkan bagian dari strategi berkelanjutan yang dijalankan di berbagai pemerintahan.

Mencerminkan urusan diplomasi saat ini, Kerry memperingatkan bahwa jalan ke depan akan jauh lebih sulit mengingat perkembangan terkini.

“Percayalah, negosiasi itu akan jauh lebih sulit sekarang,” katanya dilansir dari PalestineChronicle, Sabtu (11/4/2026).

Baca juga: Perundingan AS-Iran Gagal, Ini Poin-poin Sengketa Utama yang Bikin Buntu

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam konferensi pers di Yerusalem, 19 Maret 2026, ketika perang Iran masih berkecamuk. Mengapa Israel Tetap Menyerang Lebanon di Tengah Gencatan Senjata AS-Iran Selama Dua Pekan?
AFP/POOL/RONEN ZVULUN Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam konferensi pers di Yerusalem, 19 Maret 2026, ketika perang Iran masih berkecamuk. Mengapa Israel Tetap Menyerang Lebanon di Tengah Gencatan Senjata AS-Iran Selama Dua Pekan?

AS blokade pelabuhan Iran

Militer AS akan memblokade pelabuhan-pelabuhan Iran mulai Senin (13/4/2026) pukul 10.00 ET atau 14.00 GMT.

Komando Pusat AS (Centcom) menyebut, blokade tersebut berlaku untuk kapal-kapal yang memasuki atau meninggalkan pelabuhan serta wilayah pesisir Iran.

Centcom menambahkan, mereka tidak akan menghalangi kapal-kapal lainnya yang melintasi Selat Hormuz.

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf telah mengeluarkan pernyataan setelah kembali dari pembicaraan di Islamabad, sebagai tanggapan Trump yang ingin blokade kepada Iran.

Baca juga: Kapal Tujuan Malaysia Tembus Selat Hormuz di Tengah Gencatan Senjata AS-Iran, Bagaimana Bisa?

Dikutip dari BBC, Senin (13/4/2026), Ghalibaf mengatakan bahwa “ancaman seperti itu tidak berpengaruh pada rakyat Iran” dan Iran tidak akan “menyerah di bawah ancaman”.

Kegagalan kesepakatan di Islamabad dan blokade AS terhadap pelabuhan Iran itu memicu kenaikan harga minyak yang tajam.

Harga minyak mentah Brent naik 7,5 persen menjadi 102,37 dollar AS (setara Rp 1.752.881) per barel.

Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate naik 8,3 persen menjadi 104,56 dollar AS (setara Rp 1.790.380) per barel.

Baca juga: Trump Ubah Bandara di Florida dengan Nama Dirinya, Habiskan Biaya Berapa?

Tag:  #netanyahu #berulang #kali #desak #serang #iran #tapi #ditolak #mengapa #disetujui #trump

KOMENTAR