Pekan Kelabu Wapres AS, Misi Damai Iran Gagal, Sekutu Utama di Hongaria Tumbang
- Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance, menghadapi pekan yang sangat berat dalam karier politiknya.
Dua misi internasional pentingnya, yakni mengamankan perdamaian permanen dengan Iran dan menjaga dominasi Viktor Orban di Hongaria, berakhir dengan kegagalan beruntun pada Minggu (12/4/2026).
Dikutip dari AFP, Selasa (14/4/2026), kegagalan ganda ini menjadi sorotan saat politisi berusia 41 tahun tersebut digadang-gadang sebagai calon kuat penerus Donald Trump dalam Pilpres AS 2028.
Dalam konferensi pers singkat di Islamabad, Pakistan, Vance menyampaikan "kabar buruk" dan hanya menjawab tiga pertanyaan sebelum naik pesawat untuk penerbangan panjang kembali ke rumah.
Baca juga: Ada Blokade AS, Kapal Tanker China Berhasil Lewati Selat Hormuz
Tumbangnya sekutu AS di Hongaria usai 16 tahun
Namun tepat sebelum mendarat, ada kabar buruk lainnya.
Beberapa hari setelah ia berpidato bersama Orban di atas panggung di Budapest, perdana menteri Hongaria yang telah lama menjabat itu mengakui kekalahan dalam pemilihan umum meskipun ada upaya habis-habisan dari pemerintahan Donald Trump untuk menyelamatkannya.
Vance bersikeras bahwa masih layak bagi pemerintahan Trump untuk mendukung seorang pria yang dianggap sebagai pengikut MAGA (Make America Great Again) di Eropa.
Baca juga: Drama 20 Jam di Islamabad: Saat Dialog AS-Iran Nyaris Sepakat, Lalu Tetiba Kandas
"Perjalanan itu sama sekali tidak buruk, karena tetap mendukung orang lain itu berharga meskipun Anda tidak memenangkan setiap perlombaan," kata Vance kepada "Special Report with Bret Baier" di Fox News pada Senin (13/4/2026).
"Kami tidak pergi karena kami berharap dia akan dengan mudah memenangkan pemilihan. Kami pergi karena kami pikir itu adalah hal yang benar untuk dilakukan," sambungnya.
Di Budapest, Vance memuji Orban yang memiliki hubungan dekat dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dan Trump, sebagai "teladan" bagi Eropa.
Namun, kemunculan Vance bersama Orban berarti Gedung Putih secara efektif mengakui kekalahan salah satu sekutu terdekatnya.
Ini bakal menjadi kemunduran besar pertama bagi strategi keamanan nasional resminya dalam mendukung partai-partai anti-imigrasi Eropa.
Baca juga: Meski Belum Sepakat, Sinyal Damai AS-Iran Masih Menyala
Diplomasi maraton 21 jam temui jalan buntu
Wakil Presiden AS JD Vance tiba untuk pertemuan dengan Perdana Menteri Pakistan di tengah perundingan damai AS-Iran di Islamabad pada Sabtu (11/4/2026). Vance tiba di ibu kota Pakistan untuk memimpin delegasi AS dalam perundingan perdamaian penting dengan Iran, di bawah naungan gencatan senjata rapuh selama dua minggu antara Washington dan Teheran, dengan Pakistan bertindak sebagai mediator.
Di Pakistan, Vance menghadapi tantangan yang sangat berbeda dan bahkan bisa dibilang jauh lebih sulit.
Mantan senator Ohio itu membangun citra politiknya di sekitar sikap anti-intervensionisme dan termasuk di antara penentang perang Iran yang paling vokal di kabinet Trump di balik layar.
Namun, Vance kemudian mendapati dirinya memimpin delegasi dalam pembicaraan dengan Teheran.
Misi utamanya adalah mengubah gencatan senjata sementara menjadi perdamaian abadi guna mengakhiri perang yang sejak awal ditentangnya secara vokal di kabinet Trump.
Namun, Vance meninggalkan Islamabad dengan tangan hampa.
Baca juga: Khawatir Iran Pakai “Kartu As Kedua”, Arab Saudi Tak Setuju AS Blokade Hormuz
Dalam konferensi pers singkat sebelum terbang kembali ke Washington, ia tampak frustasi setelah gagal menghasilkan kesepakatan untuk mengubah gencatan senjata selama dua minggu menjadi perdamaian abadi.
"Kami kembali ke AS tanpa mencapai kesepakatan," katanya kepada wartawan di ibu kota Pakistan pada Minggu pagi.
Namun sehari kemudian, Vance memandang segala sesuatunya dari sudut pandang yang lebih positif.
"Saya tidak hanya akan mengatakan bahwa ada hal-hal yang salah, saya juga berpikir ada hal-hal yang benar. Kami telah membuat banyak kemajuan," ujarnya kepada Fox News.
Nasib pembicaraan AS-Iran masih belum jelas.
Trump mengeklaim, perwakilan Iran telah menelepon dan masih ingin mencapai kesepakatan, bahkan ketika Washington memberlakukan blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Baca juga: Rusia Siap Tampung Uranium Iran, Bisa Jadi Kunci Damai dengan AS
Dampak strategis dan ambisi 2028
Vance menuturkan, bola kini berada di tangan Iran terkait pembicaraan lebih lanjut, tetapi tidak mengesampingkan kemungkinan tersebut.
Dampak terhadap ambisi politik Vance juga masih belum jelas.
Perebutan nominasi presiden dari Partai Republik pada 2028 akan dimulai secara serius setelah pemilihan paruh waktu AS pada November, dengan Vance diperkirakan akan berhadapan dengan Menteri Luar Negeri Marco Rubio.
Namun, meskipun peran wakil presiden memberikan peningkatan visibilitas bagi calon potensial, peran tersebut juga dapat mengikat mereka pada kebijakan presiden yang akan segera lengser.
Tag: #pekan #kelabu #wapres #misi #damai #iran #gagal #sekutu #utama #hongaria #tumbang